Respons Trump soal Rusia Buat Senjata Biologis usai Staf Lab Tewas

CNN Indonesia
Kamis, 08 Okt 2026 09:15 WIB
US President Donald Trump reacts as he addresses the 81st United Nations General Assembly at UN headquarters in New York City, US, September 22, 2026.  REUTERS/MIKE SEGAR
Presiden Donald Trump buka suara dugaan Rusia mengembangkan senjata biologis usai staf laboratorium di Siberia tewas terinfeksi penyakit misterius diduga pes. (Foto: REUTERS/Mike Segar)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat Donald Trump buka suara soal kecurigaan Rusia mengembangkan senjata biologis setelah seorang staf laboratorium di Siberia meninggal karena infeksi misterius diduga plague atau pes.

Dalam tanggapan kepada wartawan di Gedung Putih, Trump mengatakan ia tidak menilai demikian, namun tetap akan mencari tahu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami rasa tidak. Kita akan segera mengetahuinya, tapi kami rasa tidak," kata Trump pada Rabu (7/10), seperti dikutip Anadolu Agency.

Trump berujar otoritas Rusia telah menyatakan bahwa situasi di Siberia saat ini terkendali. Ia pun berharap Moskow benar-benar mampu mengelola masalah tersebut.

"Kami berharap sistem ini sangat canggih, sangat cerdas, dan mereka mengatakan semuanya terkendali dengan baik. Jadi kami berharap tidak demikian," ucapnya.

Seorang staf perempuan di Institut Anti-Wabah Irkutsk meninggal dunia pekan lalu usai terjangkit infeksi misterius.

Badan pengawas kesehatan Rusia, Rospotrebnadzor, menyatakan perempuan 28 tahun bernama Darya Shipilova tersebut meninggal setelah sakit pneumonia "yang penyebabnya tidak diketahui".

Ada laporan bahwa Shipilova sempat memecahkan tabung reaksi berisi bakteri pes sebelum jatuh sakit. Namun, Rusia membantah ada kecelakaan semacam itu di laboratorium.

Saat ini, lebih dari 200 orang yang berkontak erat dengan Shipilova di bawah pengawasan medis. Satu fasilitas rumah sakit juga dikarantina karena sempat dipakai untuk merawat yang bersangkutan.

Organisasi Kesehatan Dunia pada Rabu (7/10) telah meminta informasi tambahan dari Rusia setelah staf lab lainnya dilaporkan terdeteksi pneumonia dengan penyebab yang tak diketahui.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) pada Selasa (6/10) menyatakan pihaknya memantau dengan cermat perkembangan kasus ini.

(blq/rds)
placeholder