Ebola Lolos ke Kenya, Bukti Penyebaran Lintas Batas Sulit Dibendung

CNN Indonesia
Minggu, 11 Okt 2026 02:29 WIB
Seorang pria yang belakangan terkonfirmasi Ebola lolos skrining bandara di Uganda dan Kenya, bukti sulitnya membendung penyebaran lintas batas. (REUTERS/Arlette Bashizi)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kenya sudah berbulan-bulan bersiap menghadapi Ebola, tetapi virus itu tetap jebol masuk juga. Seorang pria yang belakangan terkonfirmasi Ebola tiba di Nairobi setelah melewati skrining kesehatan bandara di Uganda dan Kenya tanpa terdeteksi.

Kenya sebelumnya telah menyaring ratusan ribu pelancong dan melatih hampir 5.000 tenaga kesehatan untuk mengantisipasi Ebola, dikutip CNN, Sabtu (10/10).

Pria asal Kenya yang tujuh tahun tinggal di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) itu sudah sakit berminggu-minggu. Pada 2 Oktober, ia menempuh jalur darat melalui Beni di Provinsi Kivu Utara menuju Kampala, ibu kota Uganda, lalu terbang ke Nairobi keesokan harinya.

Seorang kerabat dan temannya membawanya langsung dari bandara ke Nairobi Hospital, rumah sakit swasta di ibu kota Kenya. Menurut Kementerian Kesehatan Kenya, saat tiba pada 3 Oktober ia mengalami demam, menggigil, kelelahan berat, nyeri otot, dan perdarahan di bawah kulit.

Dokter mengisolasinya. Hasil tes kemudian mengonfirmasi virus Bundibugyo, salah satu jenis Ebola. Pria itu meninggal pada Senin (5/10).

Perjalanan pria itu menunjukkan betapa cepat wabah yang berpusat di RD Kongo bisa menjadi masalah regional. Menurut CNN, wabah kali ini merupakan wabah Ebola terbesar yang pernah tercatat di negara tersebut.

Hingga Rabu (7/10), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat 8.728 kasus terkonfirmasi dan 4.205 kematian di RD Kongo, tersebar di tujuh provinsi. WHO menilai penularan masih intens dan risiko bagi negara yang berbatasan darat dengan RD Kongo tinggi.

Uganda sempat mencatat 20 kasus sebelum dinyatakan bebas Ebola pada 28 Juli, sementara Prancis mencatat satu kasus terkait perjalanan tanpa kasus lanjutan. Kenya kini menjadi negara keempat yang mengonfirmasi virus Bundibugyo.

Oyewale Tomori, mantan ahli virologi regional WHO untuk Afrika, menilai infeksi bisa terus melintasi perbatasan selama penularan di RD Kongo masih tinggi.

"Afrika adalah lapangan terbuka yang dibagi menjadi negara-negara oleh perbatasan berpori yang minim penjagaan. Kasus Kenya adalah peringatan akan lebih banyak kasus di masa depan," kata Tomori.

Lolos skrining

WHO menyebut belum jelas kapan pria itu mulai menunjukkan gejala Ebola selama perjalanan. Sakitnya yang sudah sebulan mengindikasikan ia kemungkinan awalnya menderita penyakit lain, lalu mungkin tertular Ebola saat mencari pengobatan.

Otoritas belum menjelaskan skrining apa yang dijalaninya di perbatasan darat RD Kongo dan Uganda, jika ada. Kementerian Kesehatan Uganda menyebut pria itu berada di negaranya kurang dari 24 jam dan suhunya normal saat diperiksa sebelum berangkat dari Bandara Internasional Entebbe.

Di Nairobi, ia menjalani skrining kesehatan masyarakat biasa di Bandara Internasional Jomo Kenyatta. Keterangan Kementerian Kesehatan Kenya menunjukkan ia tidak ditandai sebagai suspek Ebola.

Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) menyebut mobilitas antara wilayah terdampak Ebola di timur RD Kongo dan negara tetangga masih tinggi, untuk bekerja, berdagang, hingga urusan keluarga. Sebagian melintas lewat jalur tidak resmi yang jauh lebih sulit dipantau.

Menurut IOM, skrining di bandara dan perbatasan darat tidak akan menjaring setiap pelancong yang terinfeksi, terutama sebelum gejala muncul.

Christian Happi, profesor biologi molekuler dan genomik di Redeemer's University, Nigeria, menyebut pemeriksaan suhu bisa melewatkan pelancong terinfeksi yang sedang tidak demam.

Happi mengusulkan setiap penumpang pesawat dari RD Kongo wajib menunjukkan hasil tes Ebola negatif sebelum naik. Usulan itu melampaui panduan WHO, yang meminta skrining keluar setidaknya berupa kuesioner paparan dan pemeriksaan suhu, tanpa mewajibkan tes Ebola negatif bagi setiap pelancong.

Kenya kini melacak siapa saja yang mungkin terpapar dan memperketat skrining di Bandara Jomo Kenyatta. Tes awal terhadap pasien lain berusia 20 tahun yang juga datang dari RD Kongo melalui Uganda menunjukkan hasil negatif pada Kamis (8/10).

Deteksi cepat sangat penting karena belum ada vaksin berlisensi maupun pengobatan spesifik yang disetujui untuk jenis Ebola ini. Sejumlah kandidat vaksin dan obat masih diuji.

Happi, yang laboratoriumnya ikut mengonfirmasi kasus Ebola pertama di Nigeria pada 2014, mencontohkan pengalaman negaranya saat epidemi Ebola di Afrika Barat. Kala itu, satu kasus impor di Lagos memicu 20 kasus dan delapan kematian sebelum penularan berhasil dihentikan.

"Tidak akan mudah mendeteksi semua orang yang melintasi perbatasan," ujar Happi. "Ini soal seberapa cepat negara mendeteksi, lalu seberapa cepat mereka bisa menahan kasus impor."

(fea/fea)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK