Cerita Warga Malaysia Dibekap Kabut Asap Karhutla RI

CNN Indonesia
Senin, 12 Okt 2026 20:13 WIB
Kuala Lumpur's skyline is shrouded in haze from regional wildfires, as seen from Ampang, Malaysia, August 26, 2026. REUTERS/Hasnoor Hussain
Malaysia masih diselimuti kabut asap karhutla Indonesia. (REUTERS/Hasnoor Hussain)
Selangor, CNN Indonesia --

Sejumlah warga Malaysia membagikan cerita nelangsa soal kabut asap yang membekap negaranya akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa wilayah Indonesia.

Kabut asap telah menyebabkan gangguan signifikan terhadap kegiatan warga negara Malaysia dan Singapura dalam dua bulan terakhir.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di Malaysia, terutama di wilayah Semenanjung Barat, sejak pekan lalu sejumlah negara bagian kembali menurunkan taklimat penutupan sekolah. Pada 7 Oktober 2026, Kementerian Pendidikan Malaysia menginstruksikan institusi pendidikan di wilayah dengan Indeks Pencemaran Udara (IPU) di atas 100 segera menghentikan kegiatan luar ruangan, termasuk olahraga dan pertemuan.

Sekolah-sekolah yang ditutup ini terdapat di Johor, Melaka, Negeri Sembilan, Selangor, Kuala Lumpur, Putrajaya; dan Distrik Rompin di Pahang. Orangtua melarang anak pergi keluar rumah dan sekolah melaksanakan pengajaran jarak jauh seperti era COVID.

"Ini sangat-sangat mengganggu. Hiburan yang saya paling suka tiap hari adalah main bola voli di dekat rumah, sekarang tidak bisa gara-gara ini. Jadi tiap hari harus ke kampus, pulang ke rumah, tidak bisa kemana-mana. Sedih dan bikin stres," kata Leone, mahasiswa yang tinggal di Selangor, seperti dilaporkan kontributir CNN Indonesia.

[Gambas:Video CNN]

Meski sekolah dasar dan menengah diliburkan, Kementerian Pendidikan tidak menutup kegiatan kampus sehingga mahasiswa tetap harus masuk.

Ekaterinna, mahasiswa di Universita Sunway di Selangor, merasa gangguan kabut asap sangat menjengkelkan.

"Mungkin Pemerintah Malaysia perlu bicara pada Pemerintah Indonesia. Situasi ini perlu dikomunikasikan antara dua negara. Bagaimana pun caranya, bisakah diurus dan segera diselesaikan," serunya.

Desakan yang sama disampaikan oleh kelompok ilmuwan iklim di Sunway Center for Planetary Health (SCPH) yang merilis policy brief hari ini (12/10). Dalam ringkasan tersebut, para ilmuwan mempertanyakan kenapa ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution (ATHP - Persetujuan ASEAN tentang Pencemaran Asap Lintas Batas), yang mengikat negara ASEAN tidak diterapkan dalam menangani kasus asap kali ini. Laporan ini dikeluarkan bertepatan dengan dilaksanakan konferensi Global Tipping Points 2026 di Malaysia.

Bersambung ke halaman berikutnya....

Mepertanyakan Sikap Diam ASEAN BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2