Pertahanan Miliaran Dolar AS, Kenapa Saudi Masih Bisa Dibobol Houthi?

CNN Indonesia
Kamis, 15 Okt 2026 06:30 WIB
Arab Saudi menghabiskan puluhan miliar dolar AS setiap tahun untuk memperkuat pertahanan militernya.
Arab Saudi menghabiskan puluhan miliar dolar AS setiap tahun untuk memperkuat pertahanan militernya. (AFP/-)
Jakarta, CNN Indonesia --

Arab Saudi menghabiskan puluhan miliar dolar AS setiap tahun untuk memperkuat pertahanan militernya.

Namun, negara itu masih kesulitan melindungi sejumlah aset penting, mulai dari bandara, kilang minyak, hingga jaringan pipa, dari serangan rudal dan drone kelompok Houthi yang berbasis di Yaman.

Serangan yang menembus pertahanan Saudi dalam sepekan terakhir bahkan menimbulkan korban jiwa di bandara utama yang melayani ibu kota, Riyadh. Padahal, Saudi telah membeli berbagai persenjataan canggih dari Amerika Serikat (AS) dan Eropa serta membangun sistem pertahanan udara berlapis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), Saudi menghabiskan US$83 miliar (sekitar Rp1.480 triliun) untuk pertahanan pada tahun lalu. Angka itu menempatkan negara tersebut di antara sepuluh negara dengan belanja militer terbesar di dunia.

Saudi telah mengakuisisi jet tempur buatan AS, sistem pertahanan udara Patriot dan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD), serta berbagai persenjataan canggih dari Prancis dan Inggris.

Namun, besarnya anggaran militer tidak serta-merta menjamin seluruh wilayah Saudi aman dari serangan. Negara itu memiliki wilayah yang sangat luas, sekitar seperlima luas AS, dengan ancaman yang datang dari tiga arah.

Dari timur, Iran meluncurkan sekitar 1.000 rudal dan drone ke berbagai target Saudi selama fase paling intens dalam konflik tahun ini.

Dari utara, milisi yang didukung Iran di Irak mengirimkan drone untuk menyerang jaringan pipa minyak Timur-Barat yang menjadi jalur penting bagi distribusi minyak Saudi.

Sementara itu, dari selatan, Houthi yang didukung Iran meluncurkan rudal ke wilayah Saudi menggunakan tempat persembunyian dan peluncur bergerak di pegunungan Yaman.

Luasnya wilayah yang harus dilindungi membuat Saudi menghadapi tantangan besar.

[Gambas:Video CNN]

Saudi tidak cukup hanya memperkuat pertahanan Riyadh atau satu kilang minyak, tetapi juga harus menjaga berbagai fasilitas strategis yang tersebar di seluruh negeri.

Menurut situs independen Vision2030.ai, sistem pertahanan Saudi harus mendeteksi ancaman, menentukan target yang perlu dicegat, dan memperingatkan warga sipil dalam hitungan detik.

Saudi memang berhasil mencegat banyak rudal dan drone yang ditembakkan Houthi. Namun, sebagian senjata tetap mampu menembus pertahanan.

Kementerian pertahanan menghadapi pilihan sulit dalam membagi sistem pertahanan yang tersedia karena terlalu banyak fasilitas yang rentan terhadap serangan.

Kemampuan Houthi

Kelompok Houthi juga terus mengembangkan strategi untuk membobol pertahanan udara Saudi. Mereka menggabungkan serangan menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone jarak jauh untuk membebani sistem pertahanan lawan.

Taktik tersebut menyerupai strategi Rusia dalam perang melawan Ukraina. Moskow kerap mengerahkan drone dalam jumlah besar bersamaan dengan rudal jelajah dan rudal balistik untuk meningkatkan tekanan terhadap pertahanan udara Ukraina.

Rudal jelajah menjadi tantangan tersendiri karena terbang pada ketinggian rendah sehingga lebih sulit dideteksi dan dilacak. Houthi juga memperkenalkan generasi baru rudal balistik yang mereka klaim mampu bermanuver saat terbang menuju target.

Kondisi tersebut membuat sistem pertahanan udara tidak bisa menjamin seluruh ancaman akan berhasil dicegat.

Kemampuan Houthi juga tidak terlepas dari dukungan teknologi dan persenjataan Iran. Delapan tahun lalu, para ahli Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengidentifikasi sisa-sisa rudal, peralatan militer, dan pesawat nirawak militer yang berasal dari Iran dan masuk ke Yaman meski terdapat embargo senjata internasional.

Dua tahun lalu, panel ahli yang sama menyatakan skala, sifat, dan luas transfer berbagai material serta teknologi militer dari sumber eksternal kepada Houthi belum pernah terjadi sebelumnya.

Dukungan tersebut mencakup bantuan keuangan dan pelatihan bagi para pejuangnya.

Para ahli juga mencatat rudal terbaru Houthi, seperti Hatem-2 dan Palestine-2, memiliki desain yang sangat mirip dengan persenjataan Iran. Rudal-rudal tersebut memiliki kecepatan tinggi dan tingkat akurasi yang baik.

Pada tahun lalu, sebuah rudal Houthi berhasil menembus pertahanan udara Israel dan menghantam area dekat Bandara Ben Gurion.

Analis Amir Bar Shalom mengatakan kepada CNN bahwa kemampuan rudal tersebut untuk mencapai target secara akurat dari jarak sekitar 2.000 kilometer merupakan pencapaian yang mengesankan.

Bersambung ke halaman berikutnya...

Modifikasi Senjata BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2