Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim buka suara usai dituduh tak proaktif dan lembek menangani kabut asap di negara tersebut buntut kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia.
Anwar menyampaikan komentar itu usai menghadiri acara peluncuran Proyek Residensi Mahasiswa Universitas Malaya (UM), Kamis (15/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sudah melakukan yang kami bisa," kata dia ke awak media, dikutip Malay Mail.
Pernyataan Anwar muncul usai pemerintah dianggap tak cukup proaktif menangani kabut asap lintas batas akibat karhutla.
Eks Menteri Kesehatan Malaysia Khairy Jamaluddin mengkritik pemerintah "terlalu lunak" dalam menangani kabut asap dengan Indonesia. Dia menyarankan pemerintah mengambil langkah tegas.
Pernyataan serupa juga disampaikan anggota parlemen Bagan di Malaysia Lim Guan Eng mendesak pemerintahan bersikap tegas ke Indonesia.
Dia meminta pemerintahan Anwar mempertimbangkan langkah hukum terhadap Indonesia untuk meminta ganti rugi imbas kabut asap.
Dia mengusulkan pembentukan gugus tugas ASEAN permanen yang melibatkan Malaysia, Indonesia, Singapura, dan Filipina untuk merespons dengan cepat terkait karhutla.
Satuan gugus tugas itu, lanjut Lim, akan memungkinkan negara-negara ASEAN mengatasi kebakaran sebelum asap menyebar melintasi perbatasan nasional.
"Jika pemerintah Indonesia menolak gugus tugas ASEAN dengan alasan kedaulatan nasional, pemerintah Malaysia tak akan punya pilihan selain memulai tindakan hukum untuk menuntut ganti rugi," ujar dia saat pidato membahas Anggaran 2027 di Dewan Rakyat, Kamis (15/10), dikutip Malay Mail.
Lim lalu berkata, "Rakyat Malaysia tak bisa lagi berdiam diri dan tak bertindak dalam menghadapi krisis kabut asap yang berulang ini."
Seruan ini muncul saat Malaysia terus bergulat dengan kualitas udara yang memburuk akibat karhutla di Indonesia. Pada Kamis pukul 10 pagi kualitas udara di 34 dari 68 stasiun mencatat indeks polusi udara (API) yang tak sehat.
Malaysia bahkan menutup sekolah di Kuala Lumpur dan sejumlah negara bagian sejak beberapa pekan lalu. Para pekerja yang harus bekerja di luar ruangan juga terdampak secara ekonomi imbas kabut asap.
(isa/bac)


