Menlu Iran Sebut Netanyahu Mau Seret AS ke Perang Lain Biar Tak Dibui
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sengaja menyeret Amerika Serikat ke perang lain agar dia tak dipenjara.
Dalam unggahan di X pada Senin (19/10), Araghchi menanggapi dukungan Trump untuk Netanyahu jelang pemilihan legislatif yang menyebut PM Israel itu sosok yang berani dan bisa menyelesaikan pekerjaan.
"Kali terakhir Anda ingin 'menyelesaikan pekerjaan,' Iran justru muncul kian tangguh. Mau coba keberuntungan lagi? Silakan," kata Araghchi.
Menlu Iran ini lantas mewanti-wanti Israel dan AS agar berhati-hati terhadap Teheran karena mereka juga punya pekerjaan yang belum selesai.
"Netanyahu sedang mendorong Amerika ke dalam perang lain demi menghindari penjara, apa pun konsekuensinya bagi Israel, apalagi bagi Presiden Amerika Serikat," ungkap Araghchi.
Araghchi tak menjelaskan lebih lanjut kasus mana yang bisa membuat Netanyahu merasakan lantai penjara. Di dalam negeri, dia menghadapi persidangan kasus dugaan korupsi, penipuan, suap, hingga pelanggaran kepercayaan.
Di luar, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Netanyahu dan Eks Menteri Pertahanan Yoav Gallant karena kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan di Jalur Gaza selama agresi Israel.
Komentar Araghchi muncul usai Trump menyampaikan dukungan untuk Netanyahu jelang pemilihan legislatif pada akhir Oktober.
Trump bahkan menyebut Netanyahu menjadi PM dan mitra perdamaian AS yang hebat.
"Kepada Rakyat Israel yang luar biasa: Bibi Netanyahu telah menjadi Perdana Menteri sekaligus pejuang yang hebat, serta mitra yang jauh lebih hebat lagi dalam upaya mewujudkan perdamaian guna melawan Republik Islam Iran-negara yang selama 51 tahun terus menyerukan slogan: 'Matilah Israel, matilah Amerika! Kami akan menghancurkan Setan Kecil dan Setan Besar'," kata Trump di Truth Social.
Slogan tersebut kerap muncul dalam demonstrasi warga Iran yang mengecam serangan AS-Israel ke negara Timur Tengah ini. Saat prosesi pemakaman eks Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang tewas dalam serangan dua negara itu, banyak warga yang membawa poster bertuliskan slogan serupa.
Dalam unggahan itu, Trump menegaskan negara mana yang bisa bertahan saat slogan-slogan semacam itu dibiarkan terucap terus-menerus. Dia menegaskan kalimat itu bukan cuma slogan dan bisa terwujud kapan saja.
"Hanya masalah waktu sampai Iran menetapkan ungkapan mengerikan itu, tetapi mereka sudah dihancurkan secara sistematis, baik secara militer maupun keuangan. Kecuali mereka mengubah cara mereka dengan cepat, kita akan segera menyelesaikan pekerjaan itu," ungkap politikus Republik itu.
AS dan Israel menggempur Iran habis-habisan pada akhir Februari. Teheran tak tinggal diam. Mereka merespons serangan dan menutup Selat Hormuz sebagai balasan.
Hingga kini, AS dan Iran masih bertempur meski sempat gencatan senjata dan meneken nota kesepahaman (MoU) untuk mengakhiri perang.
Di luar itu, Netanyahu berulang kali membujuk Trump untuk terus melanjutkan perang bahkan sebelum pemilu sela (midlterm) AS digelar pada awal November.
(isa/bac)