Alberta Gelar Referendum Kemerdekaan, Kenapa Pisah dari Kanada?

CNN Indonesia
Selasa, 20 Okt 2026 08:30 WIB
Kota Taber, Alberta, Kanada
Provinsi Alberta bersiap referendum pisah dari Kanda. (Wikipedia Commons)
Jakarta, CNN Indonesia --

Provinsi Alberta di Kanada menggelar referendum terkait kemerdekaan pada Senin (12/10).

Pemungutan suara ini menjadi momentum penting bagi gerakan separatis yang selama puluhan tahun mendorong Alberta keluar dari Kanada.

Alberta dikenal sebagai salah satu wilayah kaya minyak di Kanada. Namun, sebagian warganya merasa pemerintah federal di Ottawa mengambil terlalu banyak pendapatan dari sumber daya alam Alberta tanpa memberikan imbalan yang sepadan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pendiri organisasi advokasi Pathway to Independence, Cory Morgan, menjadi salah satu tokoh yang selama lebih dari 25 tahun memperjuangkan kemerdekaan Alberta. Ia mengatakan akan terus memperjuangkan gagasan tersebut meski warga menolak pemisahan diri dalam referendum.

"Saya akan menghormati kehendak para pemilih. Jika mereka memutuskan bahwa belum saatnya untuk menempuh jalan itu, maka biarlah. Tapi itu tidak berarti saya akan berhenti," kata Morgan kepada Al Jazeera.

Meski demikian, hasil jajak pendapat menunjukkan gerakan separatis masih menghadapi tantangan besar. Sekitar empat dari lima warga Alberta ingin provinsi tersebut tetap menjadi bagian dari Kanada.

Mengapa sebagian warga Alberta ingin memisahkan diri dari Kanada?

Referendum tersebut tidak secara langsung menentukan kemerdekaan Alberta. Warga dihadapi dua pilihan, yaitu tetap menjadi bagian dari negara tersebut atau memulai proses hukum untuk menggelar referendum kemerdekaan pada masa mendatang.

Jika mayoritas pemilih mendukung langkah kedua tersebut, Alberta tetap harus melalui proses panjang sebelum bisa menjadi negara merdeka.

Proses itu mencakup negosiasi dengan pemerintah federal di Ottawa, provinsi-provinsi lain, serta masyarakat adat yang tinggal di Alberta dan wilayah sekitarnya.

Profesor Ilmu Politik Universitas Alberta, Jared Wesley, mengatakan sebagian pendukung referendum sebenarnya tidak menginginkan kemerdekaan. Mereka menggunakan pemungutan suara tersebut untuk menyampaikan ketidakpuasan kepada Ottawa.

[Gambas:Video CNN]

Data yang dikumpulkan Viewpoint Alberta, sebuah inisiatif penelitian berbasis di Universitas Alberta, menunjukkan dua pertiga pemilih yang mendukung referendum melakukannya untuk mengirim pesan kepada Ottawa.

Morgan menyebut kelompok tersebut sebagai "separatis yang enggan", yakni warga yang merasa "sudah putus asa" dan ingin pemerintah federal lebih memperhatikan kepentingan Alberta.

Namun, Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, memperingatkan warga agar tidak menggunakan suara mereka sekadar untuk menyampaikan pesan.

"Jangan tertipu oleh anggapan bahwa Anda dapat 'mengirim pesan' dengan suara Anda," kata Carney dalam sebuah acara pro-Kanada di Calgary pada Kamis (15/10).

"Ini bukan poker. Suara menentang Kanada adalah gertakan berbahaya yang akan menyebabkan perpecahan mendalam dan ketidakpastian besar selama bertahun-tahun," ujarnya.

Alasan Alberta ingin merdeka

Keinginan Alberta untuk memisahkan diri dari Kanada berakar pada persoalan ekonomi dan kebijakan energi yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Sebagai wilayah yang memiliki cadangan minyak terbesar keempat di dunia, Alberta menjadi salah satu pusat industri energi Kanada. Namun, sebagian kelompok separatis menilai provinsi tersebut mengirim terlalu banyak uang kepada pemerintah federal dan tidak menerima manfaat yang sebanding.

Bagi Morgan, ketidakpuasan itu menguat sejak 1980-an ketika pemerintahan Perdana Menteri Kanada, Pierre Trudeau, memperkenalkan Program Energi Nasional.

Kebijakan tersebut mengatur harga, pajak, dan kepemilikan di sektor energi untuk menjaga keterjangkauan energi di Kanada. Namun, kebijakan itu juga mengarahkan lebih banyak pendapatan dari industri energi Alberta ke Ottawa.

Kebijakan tersebut menjadi simbol "keterasingan barat". Istilah ini digunakan untuk menggambarkan rasa kehilangan hak di antara provinsi-provinsi paling barat Kanada.

Pada 2015, ketegangan kembali meningkat ketika pemerintahan Justin Trudeau menerapkan kebijakan iklim, termasuk pajak karbon nasional dan pembatasan emisi. Kebijakan tersebut menuai penolakan dari pelaku industri minyak di Alberta.

"Kita sudah berdebat tentang hal yang sama selama 50 tahun," kata Morgan.

Pandemi Covid-19 juga ikut mendorong kebangkitan gerakan separatis. Menurut sejumlah ahli, demonstrasi menentang pembatasan kesehatan memobilisasi kelompok konservatif baru yang kemudian mendukung gerakan tersebut.

Pada 2025, tekanan dari kelompok separatis semakin meningkat. Pemerintahan Perdana Menteri, Alberta Danielle Smith, kemudian mempermudah penyelenggaraan referendum, sehingga isu kemerdekaan kembali menjadi bagian dari agenda politik provinsi tersebut.

Meski mendukung penyelenggaraan referendum, Smith mengumumkan bahwa dirinya menolak pemisahan Alberta dari Kanada pada Rabu (14/10).

"Menurut saya, sekarang bukanlah waktu untuk menyerah pada harapan di negara kita, apalagi setelah kita berjuang begitu lama dan mencapai begitu jauh," kata Smith dalam video di media sosial.

Wesley menilai referendum tersebut juga berkaitan dengan dinamika internal Partai Konservatif Bersatu yang dipimpin Smith. Dukungan terhadap pemisahan diri di kalangan anggota partai itu dinilai lebih tinggi dibandingkan dukungan masyarakat Alberta secara keseluruhan.

"Kita mengadakan referendum karena Danielle Smith menginginkannya. Dia ingin menyelesaikan masalah internal partai dengan mengajukan pertanyaan kepada publik yang lebih luas," ujar Wesley.

Bersambung ke halaman berikutnya...

Kekalahan Referendum Belum Tentu Mengakhiri Gerakan Separatis BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2