Iran Akui 30 Pesawat Hancur Selama Perang Lawan AS-Israel

CNN Indonesia
Selasa, 20 Okt 2026 12:20 WIB
Iran mengungkapkan sebanyak 20 hingga 30 pesawatnya hancur selama perang melawan Amerika Serikat dan Israel terhitung sejak Februari lalu. (Foto: REUTERS/POOL VIA WANA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Iran mengungkapkan sebanyak 20 hingga 30 pesawatnya hancur selama perang melawan Amerika Serikat dan Israel terhitung sejak Februari lalu.

Kerusakan tersebut memperburuk kondisi industri penerbangan Iran yang telah lama menghadapi keterbatasan armada dan kesulitan mendapatkan suku cadang akibat sanksi internasional. Pernyataan itu disampaikan melalui kantor berita semi-resmi Tasnim pada Senin (19/10).

Dalam konferensi pers, CEO maskapai penerbangan nasional Iran Air, Taher Abdolhai, menyampaikan bahwa Iran membutuhkan sekitar 1.000 pesawat penumpang untuk memenuhi kebutuhannya. Namun, negara tersebut saat ini hanya memiliki sekitar 300 pesawat.

Dari jumlah itu, sekitar 130 hingga 140 pesawat beroperasi sebelum perang. Selama konflik berlangsung, sebanyak 20 hingga 30 pesawat dilaporkan hancur.

Abdolhai juga menyebut sekitar 70 hingga 80 pesawat menjadi sasaran serangan selama perang. Ia mengeklaim serangan Israel menyebabkan kerusakan parah pada armada maskapai Iran Air.

Menurut Abdolhai, sejumlah pesawat milik maskapai lain terkena satu rudal, sementara salah satu pesawat Iran Air hancur sepenuhnya.

Selain kerusakan akibat perang, Iran Air menghadapi berbagai kendala operasional yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Abdolhai mengatakan sanksi dan pembatasan internasional secara bertahap melemahkan kemampuan maskapai tersebut, mengurangi jumlah pesawat yang dapat beroperasi, serta membatasi akses ke rute penerbangan yang menguntungkan.

Kesulitan memperoleh suku cadang, keterbatasan keuangan, dan persoalan kepegawaian juga menjadi hambatan utama bagi maskapai milik negara tersebut.

Middle East Monitor melaporkan Abdolhai menyebut Iran Air mempekerjakan lebih dari 9.000 orang. Ia menekankan perlunya meningkatkan efisiensi operasional di tengah berkurangnya jumlah pesawat yang dapat digunakan.

Meski menghadapi tekanan keuangan dan operasional, Abdolhai menolak gagasan privatisasi Iran Air. Ia beralasan maskapai tersebut memiliki kepentingan strategis nasional yang tidak terbatas pada kegiatan penerbangan komersial.

Lebih lanjut, sanksi AS telah membatasi akses Iran untuk membeli pesawat baru, memperoleh suku cadang, menggunakan layanan perawatan, serta mendapatkan pembiayaan internasional.

Penarikan Washington dari kesepakatan nuklir Iran pada 2018 dan pemberlakuan kembali sanksi turut menghambat upaya Iran memperbarui armada penerbangannya. Rencana pembelian pesawat dari Boeing dan Airbus pun terganggu.

Akibatnya, sejumlah pesawat Iran tidak dapat beroperasi, sementara biaya perawatan armada terus meningkat.

(mge/rds)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK