Warga Israel akan memberikan suara dalam pemilihan umum pada 27 Oktober pekan depan. Pemilu ini menjadi pemilihan nasional pertama sejak perang di Gaza, Lebanon, dan Iran.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, kembali berupaya mempertahankan kekuasaan setelah memimpin Israel selama total 19 tahun dalam tiga periode berbeda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Partai Likud yang dipimpinnya bersaing ketat dengan blok oposisi. Sementara itu, hasil jajak pendapat menunjukkan belum ada kubu yang dipastikan mampu meraih mayoritas kursi parlemen.
Sistem pemilu Israel
Menurut Komite Pemilihan Pusat Israel, sekitar 7,3 juta warga berusia 18 tahun ke atas berhak memberikan suara.
Sebagian besar tempat pemungutan suara dibuka mulai pukul 07.00 hingga 22.00 waktu setempat pada 27 Oktober mendatang.
Israel menggunakan sistem pemilu proporsional. Artinya partai memperoleh kursi di Knesset berdasarkan persentase suara nasional yang mereka raih. Partai yang memperoleh sekitar 30 persen suara akan mendapatkan sekitar 30 persen kursi parlemen.
Namun, partai harus melewati ambang batas elektoral sebesar 3,25 persen agar dapat masuk Knesset. Suara untuk partai yang gagal mencapai ambang batas tersebut tidak diperhitungkan dalam pembagian kursi.
Knesset memiliki 120 kursi. Untuk meraih mayoritas, sebuah partai harus menguasai setidaknya 61 kursi.
Belum pernah ada satu partai yang berhasil memenangkan mayoritas mutlak dalam pemilu Israel. Oleh karena itu partai yang memperoleh suara terbanyak belum tentu menjadi pemenang dalam perebutan kekuasaan.
Setelah pemilu, partai-partai harus membentuk koalisi yang mampu mengamankan minimal 61 kursi. Proses pembentukan koalisi berlangsung selama 28 hari dan dapat diperpanjang hingga 14 hari. Jika tidak ada koalisi yang terbentuk, pemilu ulang dapat digelar.
Sekitar 7,3 juta warga Israel memiliki hak suara. Namun, sekitar tiga juta warga Palestina dewasa di Jalur Gaza, Tepi Barat yang diduduki, dan Yerusalem Timur yang diduduki tidak memiliki hak suara dalam pemilu Knesset.
Sebaliknya, sekitar 1,2 juta warga Yahudi Israel dan warga Palestina yang menjadi warga negara Israel dapat memberikan suara. Lebih dari 750 ribu para pemukim Israel di Tepi Barat dan Yerusalem Timur yang diduduki juga memiliki hak pilih.
Kandidat utama pemilu Israel
Netanyahu menjadi tokoh utama dalam persaingan pemilu. Ia berupaya mempertahankan jabatan perdana menteri meskipun masih menghadapi persidangan atas tuduhan korupsi yang ia bantah.
Di kubu oposisi, mantan kepala militer Gadi Eisenkot dipandang sebagai salah satu kandidat potensial untuk menggantikan Netanyahu. Partai barunya, Yashar, dilaporkan memperoleh dukungan yang sebanding dengan Likud dalam jajak pendapat.
Blok oposisi juga mencakup tokoh-tokoh seperti Naftali Bennett, Yair Lapid, Avigdor Liberman, dan Yair Golan. Sementara itu, tokoh sayap kanan Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich serta partai-partai ultra-Ortodoks tetap menjadi pemain penting dalam perebutan kursi.
Partai-partai yang dipimpin warga Arab juga berpotensi memengaruhi pembentukan pemerintahan. Namun, sebagian besar pemimpin oposisi yang dipimpin tokoh Yahudi telah menolak bergabung dengan partai-partai tersebut.
Pemilu 27 Oktober menjadi pemilu nasional keenam Israel sejak 2019. Namun, pemilu kali ini merupakan yang pertama dalam 38 tahun yang bertepatan dengan berakhirnya masa jabatan penuh Knesset.
(mge/dna/bac)

