Demonstrasi di Prancis menjadi sorotan menyusul aksi yang terus meluas hingga kemunculan sejumlah slogan yang memicu perhatian, salah satunya tulisan "bismillah c'est les tenebres".
Saat slogan-slogan tuntutan perbaikan sistem pendidikan, penyetaraan, hingga perbaikan ekonomi terpampang dalam unjuk rasa di Prancis, ada kalimat lain yang turut menarik perhatian: bismillah c'est les tenebres (atas nama Tuhan, ini adalah kegelapan).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Slogan tersebut menjadi seruan tak terduga untuk menyatukan seluruh kelompok yang berunjuk rasa di Prancis.
Gelombang demonstrasi melanda Prancis sejak tiga pekan lalu. Mulanya, para pelajar memblokade sekolah mereka menuntut perbaikan sistem pendidikan. Seiring berjalannya waktu unjuk rasa ini meluas diikuti mahasiswa hingga serikat pekerja.
Kemudian pada pekan lalu, seruan untuk seluruh lapisan masyarakat turun ke jalan juga beredar di media sosial. Dalam seruan itu disebutkan bahwa ribuan peserta akan ikut berdemonstrasi.
Apa makna dibalik bismillah, c'est les tenebres dan kenapa slogan ini bisa menggema dalam unjuk rasa di Prancis?
Bismillah berasal dari Bahasa Arab yang artinya dengan menyebut nama Allah. Kalimat ini kerap digunakan umat Muslim sebelum melakukan segala jenis aktivitas.
Sementara itu, dalam bahasa gaul Prancis, ungkapan bismillah memiliki arti yang bukan harfiah tapi lebih bermakna "ayo, kita lakukan."
Sementara itu, c'est les tenebres secara harfiah berarti "itu adalah kegelapan" yang mengacu ke situasi suram dan tanpa harapan.
Dengan demikian, slogan itu diterjemahkan menjadi, "Atas nama Tuhan, ini adalah kegelapan."
Para pelajar mengatakan ungkapan itu merupakan ejekan terhadap kepolisian yang mencoba menyusupi obrolan media sosial Snapchat yang dipakai para demonstran untuk berkoordinasi.
Pada awal Oktober, tangkapan layar percakapan Snapchat yang menampilkan ungkapan itu beredar di media sosial. Di sana, ada pengguna bernama Mamadou yang meminta untuk ditambahkan ke grup.
"Hai, bismillah, c'est les tenebres. Kapan blokadenya, wallah, bro?" kata dia dalam tangkapan layar itu, dikutip Al Jazeera, Rabu (21/10). Pesan itu juga disertai bendera Aljazair.
Para pelajar meyakini pesan itu dikirim oleh aparat yang menyamar dan mencoba masuk ke ruang obrolan para demonstran menggunakan campuran bahasa Arab dan slang agar bisa diterima. Namun, diksi yang digunakan justru sangat mencurigakan.
Diksi yang mencurigakan itu dimanfaatkan para pejalar untuk mengejek pihak berwenang yang sangat tidak paham realitas kaum muda. Slogan ini sekaligus menjadi simbol untuk mengolok-olok steorotipe dan rasisme.
Profesor madya Sosiologi Arab dan Mediterania di Universitas Paris 8 Vincennes-Saint Denis, Youssef El Chazli, mengatakan frasa itu memperkuat citra polisi yang tak paham realitas dan penuh stereotipe.
"Stereotipe semacam itu tampaknya secara tak proporsional menargetkan kaum muda keturunan Arab dan Afrika," kata El Chazli ke Al Jazeera.
"Ini tampak sebagai satu contoh lagi bagaimana lembaga-lembaga negara tak memahami gerakan saat ini," imbuh dia.
Lebih lanjut, El Chazli mengatakan meme satir dan internet juga menjadi alat untuk mengekspresikan keluhan politik selama protes anak muda, yang secara tradisional bersifat inovatif dan kreatif.
"Dengan mobilitas kalum muda, kreativitas protes akan sangat bergantung ke subkultur kelompok muda," kata dia.
(isa/rds)

