Nigeria Konfirmasi Kasus Pertama Ebola, Identik dengan Kenya

CNN Indonesia
Sabtu, 24 Okt 2026 21:40 WIB
A nurse holds a vial of the Ebola Sudan vaccine during the launch of an Ebola trial vaccination campaign at Mulago Referral Hospital in Kampala on February 3, 2025. Uganda started an Ebola Sudan virus vaccination trial on February 3, 2024, four days
Ilustrasi ebola. Nigeria mengonfirmasi temuan kasus Ebola pertamanya yang mirip identik dengan kasus perdana di Kenya pada awal bulan ini. (Badru Katumba / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Nigeria mengonfirmasi temuan kasus Ebola pertamanya. Berdasarkan hasil uji genomik, galur virus yang menginfeksi pasien tersebut memiliki kemiripan identik dengan kasus perdana di Kenya pada awal bulan ini.

Menteri Kesehatan Nigeria Muhammad Ali Pate membenarkan bahwa hasil analisis genomik menunjukkan adanya benang merah dari galur virus di kedua negara tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tampaknya sangat berkaitan dengan kasus yang diidentifikasi pada kasus indeks di Kenya," ungkap Pate kepada awak media seperti diberitakan AFP pada Sabtu (24/10).

Temuan kasus pertama ini resmi diumumkan ke publik pada Selasa (20/10). Pasien itu merupakan istri salah satu staf Kedutaan Besar Swiss di ibu kota Abuja, yang baru saja kembali dari perjalanannya ke Uganda pada 3 Oktober.

Merespons rentetan temuan tersebut, Kementerian Luar Negeri Swiss pada Jumat (23/10) buru-buru meluruskan bahwa perempuan itu sama sekali tidak pernah menginjakkan kaki di Kongo yang selama ini menjadi episentrum wabah.

AFP memberitakan bahwa klarifikasi dari pihak Swiss ini sekaligus mementahkan laporan awal yang sempat dirilis pemerintah Uganda.

[Gambas:Video CNN]

Di tengah kesimpangsiuran tersebut, otoritas kesehatan di benua Afrika kini tengah bergegas melacak sumber awal infeksi sang pasien.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Afrika sempat menaruh curiga pasien itu kemungkinan tanpa sengaja melakukan kontak dengan pasien pertama Kenya saat berada di bandara.

Kecurigaan itu muncul mengingat keduanya diketahui terbang dari Uganda pada hari yang persis sama.

"Tidak ada bukti perjalanan dari kasus indeks di Kenya yang menghubungkannya ke Nigeria, tetapi virusnya tampak saling berkaitan," kata Muhammad Ali Pate menambahkan.

Melalui cuitan di platform X, Pate juga kembali menegaskan bahwa kasus di negaranya "sangat mirip dengan yang ada di Kenya."

Kemunculan pasien di Abuja ini praktis menjadikan Nigeria sebagai negara Afrika keempat yang ikut terseret ke dalam pusaran wabah Ebola spesies Bundibugyo, menyusul Kongo, Uganda, dan Kenya.

Wabah demam berdarah viral yang mematikan ini awalnya meledak di kawasan timur laut Kongo pada Mei lalu.

Virus itu kemudian merembet cepat ke negara tetangganya, Uganda, yang sempat mencatatkan 20 kasus terkonfirmasi dengan dua kematian sebelum badai penularan di sana dinyatakan berakhir pada Agustus.

Secara keseluruhan, bayang-bayang mematikan dari epidemi ini masih terus mengancam. Merujuk pada data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) per 20 Oktober, total penularan wabah ini telah menembus angka lebih dari 9.700 kasus terkonfirmasi, dengan 4.690 nyawa di antaranya tak berhasil diselamatkan.

(afp/chri)