Seorang pria pelaku penembakan di pinggiran kota Paris, Prancis, yang menewaskan satu orang dan melukai lima lainnya, dibebaskan dari tahanan lalu ditempatkan di unit psikiatri. Penempatan ini dimaksudkan untuk observasi, menurut jaksa anti-teror Prancis, pada Minggu (25/10).
Tersangka berusia 39 tahun tersebut diidentifikasi sebagai Kevin T. Ia ditangkap pada Jumat (23/10), tak lama setelah para korban ditembak selagi ia membawa mobilnya melaju melalui kota Trappes dan La Verriere yang berdekatan.
Lihat Juga : |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelaku juga didapati membawa senapan mesin ringan dan granat gas air mata di dalam mobilnya.
Presiden Emmanuel Macron menyebut penembakan itu sebagai "serangan teroris rasis", karena sebagian besar korban berasal dari luar negeri, seperti dilansir AFP.
Adapun Kantor Kejaksaan Anti-Terorisme Nasional Prancis (PNAT), yang menangani kasus ini, pada Sabtu (24/10) memperpanjang masa penahanan tersangka untuk melanjutkan interogasi. Namun pada Minggu, PNAT mengubah keputusannya.
"Setelah pemeriksaan psikiatri terhadap Kevin T. yang dilakukan pada malam hari (Sabtu), penahanannya telah dicabut," demikian bunyi pernyataan PNAT.
Sesuai kesimpulan dari ahli psikiatri, tersangka dipindahkan ke unit psikiatri kepolisian untuk menjalani masa observasi psikiatri yang kemungkinan akan berlangsung selama 48 jam.
Menurut PNAT, masa observasi tersebut bisa memungkinkan pihaknya untuk mengevaluasi apakah kondisi kesehatan jiwa tersangka mumpuni untuk melanjutkan sesi interogasi.
PNAT menambahkan, bahwa jejak ganja dan kokain juga ditemukan dalam darah tersangka. Polisi pun sudah menggeledah rumah tersangka di Kota Plaisir, di luar Paris.
Menurut seorang sumber pada Sabtu, ia menemukan sebuah Alkitab, sebuah Al-Quran, dan salinan "Mein Kampf" karya Adolf Hitler di sana.
Seperti diberitakan sebelumnya, Insiden penembakan terjadi di dekat Kota Paris pada Jumat. Satu korban tewas, yakni seorang pria berusia 26 tahun keturunan Kongo, Pengo Bossio Wangi.
Adapun salah satu yang terluka adalah seorang gadis berusia 12 tahun yang terkena peluru delapan kali. Hingga kini ia dilaporkan masih dalam kondisi kritis.
Penembakan itu terjadi di tengah perpecahan yang mendalam di Prancis. Dalam enam bulan mendatang, Prancis akan menuju pemilihan umum dengan kandidat sayap kanan Marine Le Pen memimpin dalam jajak pendapat.
Ketegangan politik dan sosial memuncak sejak sepekan lalu hingga menjadi kerusuhan menjelang pemungutan suara untuk memilih pengganti Macron.
(rti)

