China Makin Canggih, Sayap Jet Siluman J-20 Bakal Pakai Radar Darurat

tim | CNN Indonesia
Selasa, 27 Okt 2026 06:05 WIB
A Shenyang J-35 jet fighter performs a flyby during a military parade marking the 80th anniversary of victory over Japan and the end of World War II, in Beijings Tiananmen Square on September 3, 2025. (Photo by Hector RETAMAL / AFP)
China mengembangkan konsep radar peringatan dini yang dapat dipasang di sayap pesawat untuk memperluas jangkauan selama pertempuran udara. Ilustrasi. (Foto: AFP/HECTOR RETAMAL)
Jakarta, CNN Indonesia --

China mengembangkan konsep radar peringatan dini yang dapat dipasang di sayap pesawat untuk memperluas jangkauan selama pertempuran udara.

Teknologi ini dirancang agar sejumlah pesawat tanpa awak dapat bekerja sama memantau wilayah udara tanpa harus bergantung pada satu pesawat peringatan dini berukuran besar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Konsep tersebut diusulkan oleh para peneliti dari AVIC Chengdu Aircraft Design and Research Institute, lembaga yang mengembangkan jet tempur siluman J-20 milik China.

Rancangan mereka dipaparkan dalam studi yang diterbitkan secara daring pada 10 Oktober di jurnal ilmiah China, Measurement & Control Technology.

Meski berpotensi diterapkan pada pesawat tempur China di masa depan, penelitian tersebut belum memastikan bahwa radar itu akan dipasang pada J-20. Studi tersebut juga tidak mengonfirmasi bahwa teknologi itu telah memasuki tahap produksi atau pengujian operasional.

Peneliti Ren Yunsong dan timnya menjelaskan radar yang dipasang di sayap sebagai pendekatan baru untuk memenuhi kebutuhan peringatan dini dalam pertempuran udara yang melibatkan banyak platform.

"Radar peringatan dini yang dipasang di sayap adalah jenis muatan misi baru yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan peringatan dini dalam pertempuran udara terdistribusi," tulis para peneliti, seperti dilaporkan South China Morning Post.

Selama ini, pesawat tempur umumnya menempatkan radar utama di bagian hidung, tepat di balik kubah radar. Sementara itu, pesawat peringatan dini konvensional biasanya membawa susunan radar berukuran besar yang dipasang di atas badan pesawat.

Kedua desain tersebut memiliki keterbatasan. Pesawat tempur memiliki ruang terbatas untuk membawa perangkat radar berukuran besar, sedangkan pesawat peringatan dini konvensional membutuhkan platform khusus dengan sistem tenaga dan peralatan yang lebih besar.

Para peneliti China berupaya mengatasi persoalan tersebut dengan mengintegrasikan susunan antena, komponen kontrol, dan perangkat radar ke dalam struktur sayap pesawat.

Permukaan pemancar radar dirancang menghadap ke bawah, sedangkan penutup pelindungnya mengikuti kontur luar sayap. Dengan rancangan ini, antena diharapkan dapat memiliki area kerja yang lebih luas tanpa membutuhkan kubah radar eksternal berukuran besar.

Namun, pemasangan perangkat di sayap juga menghadirkan tantangan teknis. Meskipun sayap memiliki permukaan yang luas, ketebalannya relatif terbatas sehingga ruang untuk menempatkan antena dan komponen elektronik menjadi lebih sempit.

Salah satu bagian utama dari konsep tersebut adalah penggunaan manuver penerbangan untuk mengarahkan pancaran radar ke sektor yang berbeda.

Para peneliti mengusulkan agar pesawat tanpa awak mengubah posisi terbangnya sehingga antena radar yang terpasang di sayap dapat memantau wilayah udara dari sudut berbeda.

Dalam salah satu metode yang diusulkan, pesawat melakukan manuver terbang menyamping dengan sudut kemiringan lebih dari 45 derajat. Posisi tersebut memungkinkan susunan antena di sayap yang semula menghadap ke bawah diarahkan ke samping.

"Dengan menyesuaikan posisi terbang drone, pancaran radar dapat dikontrol secara dinamis, memperluas wilayah udara yang dicakup oleh peringatan dini," tulis Ren dan timnya.

Pendekatan ini menjadi bagian dari konsep pertempuran udara terdistribusi. Dalam konsep tersebut, sejumlah pesawat tanpa awak bekerja sama untuk menjalankan tugas pengawasan dan deteksi target, alih-alih mengandalkan satu pesawat peringatan dini berukuran besar.

Konsep pertempuran udara terdistribusi sebelumnya dikembangkan sebagai gagasan untuk peperangan udara masa depan, termasuk melalui penelitian Badan Proyek Penelitian Lanjutan Pertahanan Amerika Serikat (DARPA) pada 2014.

Melalui pendekatan tersebut, pesawat tanpa awak yang lebih kecil dan relatif murah diharapkan dapat menjalankan tugas pengawasan secara bersama-sama. Tantangannya adalah bagaimana mencapai kemampuan deteksi yang luas dengan menggunakan platform individual yang memiliki keterbatasan ukuran dan kapasitas.

Ren dan timnya mengusulkan empat mode operasi untuk radar tersebut, termasuk deteksi segala arah, deteksi dari beberapa arah, pengawasan wilayah yang luas, serta pemusatan deteksi terhadap target tertentu.

Sejumlah pesawat juga dapat bekerja sama untuk menghadapi gangguan elektronik yang berpotensi menghambat kemampuan radar mendeteksi sasaran.

"Deteksi kooperatif oleh banyak pesawat merupakan teknologi pendukung utama untuk konsep operasional 'platform kecil, kemampuan besar'," tulis para peneliti.

Para peneliti menilai pendekatan ini berpotensi menghasilkan kemampuan peringatan dini yang mendekati atau bahkan melampaui kemampuan pesawat peringatan dini konvensional. Namun, klaim tersebut masih berupa potensi desain yang perlu dibuktikan melalui pengembangan dan pengujian lebih lanjut.

Berpotensi Diterapkan pada Pesawat Tempur Generasi Berikutnya

Tim Ren menyebut penelitian tersebut dapat menjadi dasar pengembangan sistem radar untuk mendukung pertempuran udara terdistribusi yang melibatkan pesawat generasi berikutnya.

Konsep radar di sayap itu berpotensi dipertimbangkan untuk berbagai desain pesawat militer China, termasuk J-20 dan pesawat generasi berikutnya yang dikenal dengan sebutan J-36 atau J-50.

J-20 merupakan jet tempur siluman yang dikembangkan China. Sementara itu, J-36 dan J-50 merupakan sebutan yang digunakan untuk desain pesawat generasi berikutnya yang masih menjadi perhatian dalam pengembangan kekuatan udara China.

Meski demikian, penelitian tersebut tidak menyatakan bahwa radar yang diusulkan secara khusus sedang dikembangkan untuk salah satu pesawat tersebut.

Studi itu juga memetakan sejumlah kebutuhan pengembangan, mulai dari proses lepas landas, pengendalian sikap terbang, deteksi target dan peringatan dini, hingga pengujian serta pemeliharaan di darat.

Para peneliti turut merancang kerangka integrasi yang menghubungkan radar dengan sistem pesawat, stasiun darat, pusat komando, dan operator. Kerangka tersebut diharapkan membantu proses pengembangan dan penerapan teknologi pada masa mendatang.

"Penelitian ini menyediakan paradigma desain yang dapat digunakan kembali dan diverifikasi untuk implementasi teknik radar peringatan sayap," tulis tim Ren.

(mge/rds)
placeholder