Gerakan politik yang terdiri dari mahasiswa dan Gen Z di Serbia, Student List (Studentska lista), menuai sorotan usai menang dalam pemilihan legislatif versi hitung cepat, Minggu (25/10).
Kemenangan Student List dalam pemilihan legislatif ini otomatis menumbangkan partai berkuasa koalisi Presiden Aleksandar Vucic. Vucic sendiri mundur dari jabatan sebagai presiden pada September lalu menyusul demonstrasi besar-besaran pelajar dan anak muda yang berlangsung sejak 2024 lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemenangan ini menjadi puncak protes yang berlangsung hampir dua tahun, sejak tragedi runtuhnya kanopi stasiun kereta api di Novi Sad, Serbia, pada November 2024. Tragedi tersebut menewaskan 16 orang.
Dilansir Nacionale, berdasarkan proyeksi awal lembaga survei Ipsos dan CeSID yang disiarkan televisi N1, Student List diperkirakan meraih sekitar 52 persen suara atau 138 dari 250 kursi parlemen. Sementara itu, Partai Progresif Serbia (SNS) pimpinan Vučić diperkirakan memperoleh 39,3 persen suara atau 104 kursi.
Vučić mengakui kekalahan tersebut setelah hasil penghitungan awal menunjukkan partainya tertinggal dari gerakan mahasiswa. Hasil resmi Komisi Pemilihan Republik Serbia saat itu masih menunggu pengumuman.
"Jelas bahwa kita telah kalah dalam pemilihan ini," kata Vučić kepada para pendukungnya. Namun, ia mewanti-wanti dengan menuduh bahwa kemenangan rival partainyanya itu terjadi berkat bantuan intervensi asing, sebuah klaim yang terus digaungkannya.
Kemenangan Student List menandai perubahan besar dalam politik Serbia. Selama bertahun-tahun, Vučić menjadi tokoh dominan yang memengaruhi pemerintahan, partai politik, dan kebijakan negara itu.
Gerakan Student List yang awalnya menuntut pertanggungjawaban atas tragedi infrastruktur kemudian berkembang menjadi kekuatan politik nasional. Mereka mengusung agenda pemberantasan korupsi, pembenahan lembaga publik, serta pemulihan hak-hak warga negara.
Awal mula Student List terbentuk
Akar gerakan mahasiswa Serbia ini bermula pada 1 November 2024, yang dipicu insiden kanopi beton di stasiun kereta api Novi Sad yang baru direnovasi runtuh dan menewaskan 16 orang.
Tragedi tersebut memicu kemarahan masyarakat. Banyak warga menduga korupsi, kelalaian, dan buruknya pengawasan proyek pemerintah berkontribusi terhadap insiden tersebut.
Insiden itu mendorong mahasiswa menduduki kampus mereka. Dalam beberapa pekan, aksi tersebut menyebar ke berbagai perguruan tinggi di Serbia dan berkembang menjadi gerakan protes nasional.
Mahasiswa dan dosen kemudian menggelar demonstrasi, memblokade kegiatan kampus, serta menuntut pemerintah membuka dokumen pembangunan stasiun, mengusut pelaku penyerangan terhadap mahasiswa, membatalkan tuntutan terhadap demonstran yang ditangkap, dan meningkatkan pendanaan pendidikan tinggi sebesar 20 persen.
Pemerintah menyatakan tuntutan tersebut telah dipenuhi. Namun, mahasiswa menilai jawaban pemerintah belum menyelesaikan persoalan yang mereka soroti.
Sepanjang 2025, demonstrasi meluas ke berbagai kota. Pada 15 Maret 2025, demonstrasi besar di Beograd dihadiri hingga 275.000 hingga 325.000 orang, menurut Arsip Pertemuan Publik, kelompok independen yang menghitung jumlah peserta demonstrasi.
Dari demonstrasi jadi gerakan politik
Pada Mei 2025, mahasiswa menyerukan pemilihan umum dini sebagai jalan untuk mengubah pemerintahan. Mereka kemudian membentuk Student List, sebuah gerakan politik yang menghimpun kandidat dari berbagai latar belakang profesional.
Berbeda dari partai politik konvensional, gerakan ini mengandalkan mekanisme pleno atau majelis terbuka di kampus. Melalui forum tersebut, mahasiswa berdiskusi dan mengambil keputusan bersama.
Para peserta pleno juga bergantian mewakili gerakan untuk mengurangi risiko tekanan terhadap individu tertentu. Menurut mahasiswa dan dosen yang diwawancarai Reuters, sistem tersebut menjadi bagian penting dari upaya mempertahankan gerakan tetap kolektif.
Student List mengajukan 250 kandidat yang berasal dari berbagai profesi, termasuk dosen, dokter, aktor, petani, dan aktivis. Mereka menyatakan kandidat dipilih melalui proses konsultasi, bukan berdasarkan keputusan elite partai.
Gerakan tersebut dipimpin selama kampanye oleh seorang ahli jantung dan profesor di Fakultas Kedokteran Novi Sad, Ilija Srdanović. Namun, mahasiswa menegaskan bahwa keberadaan Srdanović sebagai figur publik tidak berarti ia otomatis menjadi calon perdana menteri, menyusul kemenangan Student List di pemilihan legislatif ini.
Program mereka mencakup penguatan independensi peradilan dan kejaksaan, pengetatan pengadaan barang dan jasa pemerintah, serta pemeriksaan independen terhadap proyek konstruksi besar.
Mereka juga menjanjikan perbaikan layanan pendidikan dan kesehatan, peningkatan upah minimum, serta dukungan terhadap sektor pertanian.
Dalam kebijakan luar negeri, gerakan tersebut menekankan kedaulatan Serbia, integritas wilayah, dan netralitas militer. Mereka juga mempertahankan posisi bahwa Kosovo merupakan bagian dari Serbia, meskipun persoalan tersebut tetap menjadi salah satu isu sensitif dalam politik kawasan Balkan.
Sejumlah partai oposisi turut mendukung gerakan mahasiswa. Beberapa di antaranya memilih tidak mengajukan daftar kandidat sendiri agar dukungan terhadap mahasiswa tidak terpecah.
(mge/rds)


