Kenapa Partai Warga Arab Bisa Jadi Penentu Kursi PM Israel?

CNN Indonesia
Kamis, 29 Okt 2026 05:30 WIB
Partai-partai Arab berpeluang menjadi penentu pembentukan pemerintahan baru setelah pemilihan umum Israel.
Partai-partai Arab berpeluang menjadi penentu pembentukan pemerintahan baru setelah pemilihan umum Israel. (REUTERS/Jamal Awad)
Jakarta, CNN Indonesia --

Partai-partai Arab berpeluang menjadi penentu pembentukan pemerintahan baru setelah pemilihan umum Israel.

Perolehan kursi mereka diproyeksikan mencapai rekor tertinggi, sehingga dapat memengaruhi persaingan antara kubu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan oposisi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan penghitungan sementara Komite Pemilu Pusat Israel pada Rabu (28/10), setelah 50,1 persen suara masuk, blok Netanyahu dan blok oposisi sama-sama diproyeksikan memperoleh 51 dari total 120 kursi di parlemen Israel, Knesset.

Sementara itu, partai-partai Arab diperkirakan mengamankan 18 kursi.

Hasil tersebut masih dapat berubah seiring berlanjutnya penghitungan suara. Namun, hasil sementara itu menunjukkan belum ada blok yang berhasil mencapai 61 kursi, jumlah minimum untuk membentuk pemerintahan mayoritas di parlemen Israel.

Dalam sistem parlementer Israel, partai atau koalisi harus memperoleh dukungan setidaknya 61 dari 120 anggota Knesset untuk membentuk pemerintahan. Karena itu, partai-partai Arab berpotensi memainkan peran penting dalam menentukan pihak yang dapat mengamankan dukungan mayoritas di parlemen.

Dikutip NDTV, para pendukung partai-partai Arab merayakan hasil sementara di markas Joint List di Nazareth.

[Gambas:Video CNN]

Pemimpin Joint List, Yousef Jabareen, memuji tingginya partisipasi pemilih Arab dalam pemungutan suara. Ia menyebut peningkatan tersebut sebagai pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya.

"Belum pernah terjadi sebelumnya dan bersejarah dalam masyarakat Arab kita," kata Jabareen.

Warga Arab sendiri mencakup sekitar 20 persen dari pemilih Israel. Meski demikian, tingkat partisipasi mereka dalam pemilihan umum secara tradisional lebih rendah dibandingkan warga Israel keturunan Yahudi.

Peningkatan partisipasi kali ini didorong oleh keinginan untuk mengakhiri pemerintahan koalisi sayap kanan yang dipimpin Netanyahu. Koalisi tersebut mencakup sejumlah tokoh garis keras, seperti Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich.

Penolakan terhadap pemerintahan Netanyahu juga terlihat di markas Joint List. Para pendukung partai-partai Arab meneriakkan, "Ben-Gvir, pulanglah," sebagai bentuk penentangan terhadap menteri tersebut.

Jabareen menilai hasil sementara pemilihan menunjukkan partai-partai yang dipimpin tokoh Arab dapat "membuat perbedaan".

Selain itu, Jabareen berjanji bahwa partainya akan memperjuangkan perlindungan masyarakat Arab dari berbagai persoalan, termasuk kejahatan, rasisme, serta penghancuran rumah dan desa.

Berdasarkan proyeksi yang beredar, Joint List dan Raam diperkirakan dapat memperoleh total 17 hingga 19 kursi di Knesset. Jika proyeksi tersebut terwujud, perolehan itu akan menjadi pencapaian tertinggi partai-partai Arab sepanjang sejarah pemilihan umum Israel.

Sementara itu, partai Yashar yang dipimpin Gadi Eisenkot diproyeksikan meraih 21 hingga 23 kursi.

(mge/bac)
placeholder
LIHAT SELENGKAPNYA