Eks Wamenlu Dino soal Mantan Mendag Kritik Singapura: Mencengangkan

CNN Indonesia
Rabu, 28 Okt 2026 19:15 WIB
Mantan Wakil Menlu RI Dino Patti Djalal buka suara usai eks Menteri Dalam Negeri Muhammad Lutfi berulang kali melontarkan kritik ke Singapura.
Mantan Wakil Menlu RI Dino Patti Djalal buka suara usai eks Menteri Dalam Negeri Muhammad Lutfi berulang kali melontarkan kritik ke Singapura. (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)
Jakarta, CNN Indonesia --

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia Dino Patti Djalal buka suara usai eks Menteri Dalam Negeri Muhammad Lutfi berulang kali melontarkan kritik ke Singapura menyusul hasil investigasi mereka terkait kebakaran hutan dan lahan.

Dino menyampaikan pendapat itu dalam unggahan di media sosialnya X pada Rabu (28/10).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Serangan-serangan yang obsesif dan tiada henti terhadap Singapura yang dilontarkan oleh mantan Menteri Perdagangan M. Lutfi sungguh mencengangkan," kata dia.

Dino lantas mengatakan dia pernah bekerja sama dengan Lutfi selama satu dekade di masa pemerintahan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Kala itu, menurut Dino, Lutfi berupaya keras memajukan kerja sama antara Indonesia dan Singapura di bidang perdagangan serta investasi Lutfi menjabat sebagai menteri untuk kedua bidang tersebut.

"Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya, atau mengapa tiba-tiba sikapnya berubah drastis hingga merusak berbagai kontribusi yang sudah dibangun untuk hubungan Indonesia-Singapura-sesuatu yang sangat tidak mencerminkan dirinya," kata Dino.

Dia lalu berujar, "Namun, saya sungguh berharap ia baik-baik saja."

Lutfi sebelumnya mengkritik Singapura soal investasi, perjanjian pajak, dan dugaan pengalihan keuntungan dari Indonesia ke negara itu.

Dalam video yang diunggah di Instagram pada Selasa, Lutfi menilai besarnya angka investasi Singapura ke Indonesia tidak serta-merta mencerminkan asal-usul modal yang ditanamkan.

Menurut dia, sebagian investasi yang tercatat berasal dari Singapura diduga merupakan keuntungan dari sumber daya alam Indonesia yang dialirkan ke negara tersebut, kemudian diputar kembali sebagai investasi ke Indonesia.

Selain itu, Lutfi membahas praktik transfer pricing, yakni penetapan harga transaksi antarperusahaan yang memiliki hubungan afiliasi. Menurut dia praktik tersebut bisa dimanfaatkan untuk mengalihkan sebagian keuntungan dari Indonesia ke yurisdiksi dengan perlakuan pajak yang lebih menguntungkan.

Ia juga menyinggung istilah phantom foreign direct investment (phantom FDI), investasi asing yang secara statistik tercatat berasal dari suatu negara, tetapi sumber modalnya belum tentu berasal dari negara tersebut.

Lutfi menyebut fenomena pengaliran modal keluar dari Indonesia untuk kembali sebagai investasi asing sebagai round-tripping atau skema perpindahan modal. Dia tidak merinci data atau metode perhitungan yang digunakan untuk mendukung klaimnya mengenai besarnya keuntungan Indonesia yang mengalir ke Singapura.

Eks Mendag ini turut mempersoalkan perjanjian pajak antara Indonesia dan Singapura. Ia menilai pemerintah perlu mengevaluasi ketentuan yang dinilainya tidak memberikan manfaat memadai bagi Indonesia termasuk perjanjian pajak 2020.

"Saya punya firasat kuat kita akan membatalkan semua perjanjian yang tak masuk akal, termasuk perjanjian pajak 2020 yang tak membawa manfaat bagi Indonesia," kata dia.

Lutfi mulai mengkritik Singapura usai negara itu merilis hasil investigasi yang menyebut 10 perusahaan di Indonesia diduga menyebabkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kebakaran ini memicu kabut asap di negara tetangga termasuk Singapura.

Jika dihitung sejak itu, Lutfi mengunggah sekitar lima video yang mengkritik Singapura setelah hasil investigasi keluar.

(isa/bac)
placeholder
LIHAT SELENGKAPNYA