Gen Z China Gandrung Pendiri Partai Komunis Mao Zedong, Kenapa?

CNN Indonesia
Jumat, 30 Okt 2026 12:05 WIB
Mao Zedong kembali dikagumi anak-anak muda China di tengah era robotika hingga AI.
Mao Zedong kembali dikagumi anak-anak muda China di tengah era robotika hingga AI. (REUTERS/Florence Lo)
Jakarta, CNN Indonesia --

Gara-gara membuat video dan pernyataan tentang pemimpin China Mao Zedong, bintang Real Madrid Kylian Mbappe dibuat kelabakan.

Mulanya beredar potongan video yang menampilkan Mbappe berkomentar soal meme internet terlucu tentang dirinya adalah foto wajahnya ditempel menyerupai Mao Zedong.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya rasa dia seorang diktator China," kata Mbappe merujuk wajahnya yang menyerupai Mao Zedong terkait julukan 'diktator' saat membela Real Madrid dan Prancis karena ia seorang kapten tim.

Namun warga China berang dan membuatnya harus minta maaf hingga kehilangan banyak sponsor.

Digandrungi Gen Z

Ternyata sebuah kecenderungan terhadap pemimpin dan pendiri China modern itu sedang terjadi di China saat ini. Banyak anak muda dan Gen Z yang kembali menggemakan ajaran-ajaran Mao. Padahal salah satu pendiri Partai Komunis China itu sudah meninggal pada 9 September 1976 atau 50 tahun silam.

Laporan dari media China South China Morning Post, misalnya, menyebutkan kecenderungan Gen Z pada tokoh revolusi kebudayaan itu karena tekanan ekonomi saat ini.

[Gambas:Video CNN]

"Ketika Anda ditolak kenaikan gaji, ketika Anda merasa cemas tentang pendidikan anak-anak Anda, atau ketika Anda dikucilkan oleh rekan kerja, Ketua Mao dapat membantu," begitu media itu menulis di paragraf awal.

Hal itu menunjukkan ketidakpuasan anak muda di sana terhadap kondisi saat ini. Pada akhir November tahun lalu, seorang blogger dengan nama "Let's Talk About Movies" mengunggah video komentar tentang "Youth," film epik laris yang disutradarai oleh Feng Xiaogang, ke platform video Bilibili.

Video ini menyatakan bahwa setelah berakhirnya Revolusi Kebudayaan, "anak-anak pejabat tinggi muncul sebagai pemenang dalam memonopoli sumber daya, kebijakan, pasar, dan keuntungan dari era tersebut."

"Seandainya revolusi berlanjut, China akan bergerak menuju jalan yang lebih egaliter," kata pengulas tersebut dikutip dari media Korea Hani.

Para warganet heboh dengan mengunggah komentar seperti "Hidup rakyat!".

Bersambung ke halaman berikutnya....

Gandrung Mao Zedong di Era Robotik hingga AI

Mao Zedong kembali dikagumi anak-anak muda China di tengah era robotika hingga AI. (REUTERS/Florence Lo)

China telah mencapai terobosan besar dalam teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan, robotika, kendaraan listrik, dan semikonduktor. Namun, sebuah fenomena aneh muncul di sana: banyak anggota Generasi Z menunjukkan ketertarikan yang antusias terhadap Revolusi Kebudayaan dan Mao Zedong.

Di Xiaohongshu, yang juga dikenal sebagai RedNote, sebuah aplikasi yang populer di kalangan anak muda, pencarian untuk "Karya Pilihan Mao Zedong" menghasilkan banyak sekali unggahan tentang kelompok baca tulisan dan pidato Mao, serta pengguna yang berbagi kutipan yang paling berkesan bagi mereka.

Sejak 2019, buku ini menjadi buku yang paling sering dipinjam di perpustakaan Universitas Tsinghua. Pada 9 September, peringatan 50 tahun kematian Mao, kerumunan besar berkumpul di tempat kelahirannya di Shaoshan, sebuah kota di Provinsi Hunan.

Banyak anak muda Tiongkok mengatakan mereka menghormati Mao, menyebutnya "Guru." Di antara banyak pengguna yang menggunakan kutipan-kutipannya sebagai pelajaran untuk membantu mereka mengatasi tantangan kehidupan sehari-hari, bagian tentang "perjuangan kelas" sangat populer.

Pertanyaan yang sangat penting bagi revolusi," dan "Imperialisme AS dan semua kekuatan reaksioner adalah macan kertas," sambil menyebut kaum kapitalis sebagai musuh. Mereka juga mengkritik pemerintah, mengklaim adanya "kolusi mendalam" antara birokrat dan modal.

Dengan perkiraan 12,7 juta lulusan universitas memasuki pasar kerja tahun ini, angka pengangguran pemuda resmi di Tiongkok mencapai 18 persen.

Bahkan mereka yang berhasil mendapatkan pekerjaan mengeluhkan jam kerja yang panjang, kesenjangan kekayaan, dan "neijuan" (involusi), sebuah istilah yang menggambarkan persaingan yang intens, melelahkan, dan berlebihan.

Data dari Pusat Penelitian Bentuk Pekerjaan Baru China, sebuah lembaga kajian di Universitas Ekonomi dan Bisnis Ibu Kota di Beijing, menyatakan bahwa 320 juta orang, atau 44% dari angkatan kerja negara itu, memiliki pekerjaan yang tidak aman, seperti mereka yang bergantung pada platform digital untuk layanan pengiriman seperti pengemudi atau layanan transportasi daring.

Dengan latar belakang ini, Generasi Z Tiongkok membayangkan kembali Revolusi Kebudayaan sebagai era kesetaraan universal di mana tidak ada yang khawatir tentang makanan atau pekerjaan, sementara mereka mengeluh tentang ketidaksetaraan dan kesulitan mencari pekerjaan saat ini.

Masa lalu yang direkayasa ini menghapus kekacauan dan kekerasan revolusi, yang mengakibatkan banyak kematian, membuat anggota keluarga saling menuduh, dan menghancurkan kehidupan banyak orang.

LIHAT SELENGKAPNYA