Korsel Pidanakan Pelajar yang Pakai Smart Glass saat Ujian PTN

CNN Indonesia
Jumat, 30 Okt 2026 21:35 WIB
South Korean students wait to take the annual College Scholastic Ability Test at a school in Seoul, South Korea, November 14, 2024. Song Kyung-Seok/Pool via REUTERS
Korea Selatan berencana menuntut secara pidana para pelajar yang terbukti menyontek memakai kacamata pintar saat mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. (Foto: via REUTERS/Song Kyung-Seok)
Jakarta, CNN Indonesia --

Korea Selatan berencana menuntut secara pidana para pelajar yang terbukti menyontek menggunakan kacamata pintar atau smart glass saat mengikuti ujian masuk perguruan tinggi.

Pemerintah juga akan memperberat sanksi bagi peserta ujian yang ketahuan menggunakan perangkat berbasis kecerdasan buatan (AI) tersebut untuk melakukan kecurangan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seorang pejabat Kementerian Pendidikan Korea Selatan, Lee Joon-hyuk, mengatakan pemerintah akan mengupayakan tuntutan pidana terhadap pelajar yang ketahuan menggunakan kacamata pintar untuk menyontek.

"Kementerian akan mengupayakan tuntutan pidana terhadap siswa yang kedapatan menyontek menggunakan kacamata pintar," kata Lee kepada AFP, Jumat (30/10).

Selain tuntutan pidana, pemerintah berencana memperpanjang masa larangan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi bagi pelajar yang terbukti melakukan kecurangan. Berdasarkan aturan baru yang diusulkan, mereka tidak diperbolehkan mengikuti ujian kembali selama tiga tahun.

Hukuman tersebut lebih berat dibandingkan aturan saat ini yang hanya melarang pelajar mengikuti ujian selama satu tahun.

Namun, Lee mengatakan kebijakan tersebut kemungkinan belum dapat diterapkan pada ujian masuk perguruan tinggi bulan depan. Pemerintah masih membutuhkan waktu untuk mengubah peraturan yang berlaku.

"Mengingat ujian tinggal sekitar 20 hari lagi, secara realistis akan sulit untuk mengubah undang-undang sebelum waktu tersebut. Namun, kami berencana untuk mengupayakan agar perubahan ini mulai berlaku pada ujian tahun depan," ujarnya.

Rencana pengetatan aturan ini muncul setelah tiga mahasiswa kedapatan mengenakan atau membawa kacamata pintar saat mengikuti ujian esai yang diselenggarakan sebuah universitas di Seoul.

Kacamata pintar menjadi perhatian pemerintah karena perangkat tersebut memungkinkan penggunanya mengambil foto, merekam video, hingga berinteraksi dengan asisten AI. Kemampuan tersebut dinilai dapat dimanfaatkan untuk memperoleh bantuan saat mengerjakan ujian.

Kasus serupa juga terjadi di Taiwan. Pada musim panas tahun ini, National Taiwan University di Taipei mendiskualifikasi seorang peserta ujian masuk karena menggunakan kacamata pintar berbasis AI untuk menyontek.

Untuk mengantisipasi praktik serupa, Kementerian Pendidikan Korea Selatan mengumumkan sejumlah langkah pencegahan pada Kamis (29/10). Salah satunya dengan menugaskan "petugas khusus" di setiap lokasi ujian untuk mengidentifikasi kacamata yang mencurigakan.

Pengawasan tersebut akan diterapkan dalam pelaksanaan ujian masuk universitas nasional Korea Selatan yang dikenal dengan sebutan "Suneung".

Suneung merupakan salah satu ujian paling menentukan bagi pelajar di Korea Selatan. Hasil ujian tersebut menjadi syarat penting untuk masuk ke universitas ternama yang dianggap dapat membuka peluang karier dan meningkatkan status sosial seseorang.

Persaingan ketat dalam ujian ini membuat pemerintah menerapkan berbagai aturan khusus untuk memastikan pelaksanaannya berjalan tertib.

Bahkan, pemerintah Korea Selatan memberlakukan larangan penerbangan nasional selama 35 menit ketika peserta mengerjakan tes mendengarkan bahasa Inggris. Penerbangan hanya diperbolehkan dalam keadaan darurat.

Selain itu, bank dan kantor-kantor pemerintahan menginstruksikan karyawannya untuk memulai aktivitas satu jam lebih lambat dari biasanya. Kebijakan tersebut bertujuan mengurangi kepadatan lalu lintas agar para peserta dapat tiba di lokasi ujian tepat waktu.

Di sisi lain, ketatnya persaingan akademik di Korea Selatan juga memunculkan persoalan kesehatan mental di kalangan pelajar. Tekanan besar untuk memperoleh nilai tinggi dan diterima di universitas ternama dinilai menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap tingginya angka depresi dan bunuh diri di kalangan remaja.

Korea Selatan sendiri tercatat memiliki salah satu angka bunuh diri remaja tertinggi di dunia.

(mge/rds)
placeholder
LIHAT SELENGKAPNYA