4 Skenario Lanjutan Pemilu Israel usai Deadlock

CNN Indonesia
Sabtu, 31 Okt 2026 10:38 WIB
Israel's Prime Minister Benjamin Netanyahu and his wife Sara prepare to vote at a polling station in Jerusalem on October 27, 2026, on the day of Israel's legislative election. Yonatan Sindel/Pool via REUTERS/File Photo
Benjamin Netanyahu gagal memenangi Pemilu Israel. (Yonatan Sindel/Pool via REUTERS/File Photo)
Jakarta, CNN Indonesia --

Penghitungan suara di pemilu Israel sudah selesai, dan hasilnya dipastikan deadlock. Israel berpeluang menghadapi ketidakpastian politik selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan, setelah hasil akhir menunjukkan tidak adanya pemenang yang jelas dalam pemilihan umum.

Ada dua blok utama dalam pemilu Israel kali ini. Blok pertama dipimpin oleh partai sayap kanan Likud pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Blok satunya dipimpin oleh partai berhaluan tengah Yashar, pimpinan Gadi Eisenkot.

Menariknya, kedua blok utama itu sama-sama gagal meraih ambang batas 61 kursi yang diperlukan untuk membentuk pemerintahan di parlemen Israel yang beranggotakan 120 kursi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip dari CNN, blok Netanyahu meraih 53 kursi suara, sementara blok Eisenkot merebut 48 kursi suara. Ada satu blok lainnya, yakni gabungan partai Arab, yang sukses meraih 19 kursi.

Lantas, bagaimana pemerintahan baru Israel bisa dibentuk jika pemilu deadlock?

Para pimpinan partai punya waktu 12 minggu untuk mencapai kesepakatan koalisi. Jika tidak tercapai, maka Israel akan kembali melakukan pemungutan suara.

Berikut adalah beberapa skenario kesepakatan lanjutan pemilu Israel usai mengalami deadlock:

Skenario 1: Pemerintahan Oposisi

Di atas kertas, jalan paling pasti bagi pihak oposisi untuk melengserkan Netanyahu bertumpu pada kerja sama antara Yahudi dan Arab. Tapi, justru itulah hambatan terbesarnya.

Dua pemimpin partai sayap kanan dari kubu oposisi, mantan PM Naftali Bennett dan mantan Menteri Pertahanan Avigdor Liberman, menentang pemerintahan mana pun yang bergantung pada dua partai Arab di parlemen, yaitu Joint List dan Raam, baik sebagai bagian dari koalisi maupun sebagai pendukung dari luar bagi pemerintahan minoritas.

Dalam sejarah Israel, hanya ada satu pemerintahan yang melibatkan partisipasi penuh dari sebuah partai Arab. Raam pernah menjadi bagian dari koalisi delapan partai yang berhasil melengserkan Netanyahu pada tahun 2021, namun koalisi tersebut runtuh setelah hanya satu tahun berkuasa.

LIHAT SELENGKAPNYA