Demo Gen Z di Jerman Berujung Kerusuhan

CNN Indonesia
Minggu, 01 Nov 2026 07:50 WIB
Protesters light smoke flares after a demonstration organised by
Demonstrasi yang digelar ribuan kaum muda atas insiasi kelompok "GenZ regelt!" di Jerman pada Sabtu (31/10) berujung kerusuhan hingga penjarahan. (AFP/RALF HIRSCHBERGER)
Jakarta, CNN Indonesia --

Demonstrasi yang digelar ribuan kaum muda atas insiasi kelompok "GenZ regelt!" atau "Gen Z yang memegang kendali!" di Jerman pada Sabtu (31/10) berujung kerusuhan hingga penjarahan.

Para perusuh bertopeng menjarah sejumlah toko di Frankfurt, seiring dengan meluasnya demonstrasi besar-besaran yang berubah menjadi kekerasan di seluruh negara tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Polisi bahkan mengerahkan meriam air untuk menghadapi kelompok pemuda yang melemparkan bom molotov. Beberapa petugas kepolisian terluka dalam insiden kekerasan tersebut.

Demonstrasi yang terinspirasi oleh gerakan serupa di Prancis dan Italia untuk mendesak elite politik agar memperhatikan aspirasi generasi muda, sebagian besar berlangsung damai sepanjang hari.

Namun, ketegangan memuncak pada malam hari ketika sejumlah kelompok pemuda menolak untuk membubarkan diri. Kekerasan pun pecah di berbagai kota besar, termasuk Berlin, Cologne, dan Hamburg.

Situasi paling parah terjadi di pusat keuangan Frankfurt, di mana polisi menghadapi para pengunjuk rasa yang melemparkan batu, kembang api, dan bom bensin. Polisi merespons dengan menggunakan meriam air dan semprotan merica.

"Kerusuhan kekerasan" sedang terjadi, ungkap pihak kepolisian dalam sebuah pernyataan seperti diberitakan AFP. "Jendela di beberapa toko telah dipecahkan. Bom molotov juga dilemparkan ke arah petugas tanggap darurat."

Sebuah toko senjata termasuk di antara tempat yang dijarah, dengan jendela-jendelanya yang hancur. Polisi menyatakan telah menangkap satu tersangka dan menyita dua pucuk senjata.

Menurut harian lokal, Bild, sebuah toko sepatu dan sebuah toko parfum juga menjadi sasaran penjarahan. Sebagian besar jalan perbelanjaan utama di Frankfurt ditutup saat pihak berwenang berupaya meredam kerusuhan.

AFP melaporkan, kendaraan polisi dan pasukan antihuru-hara melarang siapa pun untuk masuk ke area tersebut.

Sebuah helikopter polisi tampak terbang di atas lokasi, sementara suara ledakan sesekali terdengar di jalanan. Setidaknya satu petugas kepolisian terluka di lokasi tersebut dan kini tengah mendapatkan perawatan medis.

Menteri Dalam Negeri negara bagian Hesse, Roman Poseck, menyatakan "sekitar 100 ekstremis sayap kiri yang teridentifikasi dengan jelas" telah menyusup ke dalam aksi protes di Frankfurt.

"Sungguh memalukan bagaimana peristiwa di Frankfurt ini berakhir." Polisi juga mengerahkan meriam air di kota Hamburg dan Cologne setelah menyatakan bahwa para pengunjuk rasa menyerang petugas layanan darurat dengan kembang api, batu, dan botol.

Di Berlin, sebuah aksi protes yang tidak diorganisir oleh gerakan "GenZ regelt!" berlangsung pada malam hari.

Polisi melaporkan bahwa mereka dilempari telur dan botol. Seorang petugas polisi di Bonn mengalami luka ringan saat berhadapan dengan sekelompok orang. Polisi juga disebut dilaporkan telah menangkap sejumlah besar perusuh.

Sebelum rangkaian kerusuhan ini, aksi protes pada siang harinya berlangsung dalam suasana yang sebagian besar damai dan meriah. Beberapa peserta mengenakan kostum, mulai dari dinosaurus hingga Batman, karena demonstrasi tersebut bertepatan dengan perayaan Halloween.

Mereka mengibarkan poster bertuliskan "Saatnya untuk melawan" dan "Merz harus pergi"-merujuk pada tokoh konservatif Friedrich Merz.

Keluhan gerakan ini mencakup berbagai isu, mulai dari tingginya biaya hidup hingga kondisi sekolah yang kurang terawat dan pemangkasan anggaran pemerintah. Secara lebih luas, mereka menentang kebijakan para politisi yang dianggap tidak terlalu mempedulikan generasi muda.

Mereka juga tidak puas dengan peningkatan tajam anggaran militer serta model layanan sukarela baru yang bertujuan menambah jumlah personel militer. Mereka khawatir hal ini merupakan langkah menuju pemberlakuan kembali wajib militer.

"GenZ regelt!" menyatakan bahwa sekitar 120 ribu orang berpartisipasi dalam demonstrasi tersebut, jumlah yang lebih rendah dari perkiraan awal sebanyak 180 ribu orang.

(afp/end)
placeholder
LIHAT SELENGKAPNYA