Perolehan Suara Melonjak di Pemilu Israel, Partai Arab Diselidiki

CNN Indonesia
Senin, 02 Nov 2026 12:20 WIB
Israeli Prime Minister and Likud party leader Benjamin Netanyahu points as he speaks following exit polls for Israel's national election, at Likud's election headquarters in Jerusalem, October 28, 2026. REUTERS/Ammar Awad
Foto: REUTERS/Ammar Awad
Jakarta, CNN Indonesia --

Hasil pemilihan umum (Pemilu) Israel 27 Oktober lalu tak ada partai pemenang mayoritas.

Bahkan partai koalisi pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu (Likud) juga tidak mencukupi untuk meraih posisi Perdana Menteri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Blok Netanyahu hanya memperoleh 53 kursi sementara pesaingnya blok Eisenkot Raih Total 48 Kursi. Sementara partai-partai Arab meraih 19 kursi yang diperoleh oleh Joint List (Daftar Gabungan) 11 kursi dan Partai Ra'am 8 kursi. Ini adalah perolehan suara terbanyak dari partai-partai Arab sehingga membuat Netanyahu jengkel.

Namun, di tengah kondisi politik yang belum stabil, Ketua Komite Pemilihan Pusat Israel mengatakan pada Minggu (1/11) bahwa penyelidikan yang sedang berlangsung terkait dugaan pendanaan asing dalam pemilu baru-baru ini di negara itu tidak akan mempertanyakan hasilnya, seraya mencatat bahwa sejauh ini "kecurigaan tetaplah kecurigaan."

Badan keamanan Shin Bet meluncurkan penyelidikan pekan lalu, atas permintaan kepala komisi pemilihan, untuk menentukan apakah partai Arab-Israel Raam menerima uang dari Qatar. Tuduhan yang dibantah baik oleh negara Teluk maupun partai tersebut.

[Gambas:Video CNN]

Tuduhan Netanyahu

Sejak saat itu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan partainya, Likud, tanpa henti menuduh kelompok-kelompok Arab telah "mencuri" pemilu, di mana mereka meraih kemenangan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan berpotensi berperan penting dalam pembentukan pemerintahan yang dipimpin oposisi.

Ketua komite pemilihan dan Hakim Mahkamah Agung Noam Sohlberg, didampingi oleh kepala Shin Bet dan jaksa agung Israel, meyakinkan warga Israel dalam pesan video pada Minggu bahwa "pilihan Anda di kotak suara akan dihormati."

"Pemilihan anggota Knesset ke-26 telah dilaksanakan dengan benar. Jika ada ketidakberesan, saat ini sedang ditinjau," katanya, dikutip dari Arab News.

Dia menambahkan bahwa penyelidikan masih berlangsung, dan bahwa "kecurigaan tetaplah kecurigaan."

"Kami akan memeriksanya secara menyeluruh dan menggali sampai ke akar permasalahan untuk mengungkap kebenaran sepenuhnya," lanjutnya.

"Posisi kami adalah bahwa bahkan jika kecurigaan tersebut pada akhirnya terkonfirmasi, hal ini tidak akan mempertanyakan integritas proses pemilu atau hasil keseluruhan pemilu."

Jawaban Qatar

Foto: REUTERS/Ammar Awad

Sejak penyelidikan diumumkan, komite tersebut telah berupaya meredakan kekhawatiran terkait hal itu. Direktur sementara badan tersebut menegaskan pada hari yang sama bahwa setiap anggapan tentang masalah yang meluas adalah "sama sekali tidak berdasar."

Tuduhan Netanyahu tentang penyalahgunaan kekuasaan oleh partai-partai Arab dimulai pada hari pemilihan itu sendiri, menyusul kampanye di mana ia menggambarkan mereka sebagai ancaman bagi negara.

Ketua Ra'am, Mansour Abbas, membantah tuduhan pendanaan asing tersebut. Abbas mengatakan bahwa partainya "sama sekali tidak memiliki hubungan dengan urusan tersebut" dan menyambut baik penyelidikan.

Qatar menyebut tuduhan itu "konyol dan berbahaya."

"Mereka menuduh Qatar menyuap Benjamin Netanyahu, kelompok kiri Israel, dan sekarang, dalam kampanye terbaru ini, suara masyarakat Arab. Tuduhan-tuduhan ini konyol sekaligus berbahaya," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al Ansari, seperti dilansir AFP, Jumat (30/10).

LIHAT SELENGKAPNYA