Eisenkot Beber Netanyahu Mau Giring Pemilu Ulang Israel, Tapi Gagal

CNN Indonesia
Senin, 02 Nov 2026 12:50 WIB
Pemimpin Partai Yashar sekaligus koalisi oposisi Gadi Eisenkot membeberkan motif PM Benjamin Netanyahu untuk menggiring pemilu ulang di Israel.
Pemimpin Partai Yashar sekaligus koalisi oposisi Gadi Eisenkot membeberkan motif PM Benjamin Netanyahu untuk menggiring pemilu ulang di Israel. (REUTERS/Shir Torem)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemimpin Partai Yashar sekaligus koalisi oposisi Gadi Eisenkot membeberkan motif Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk menggiring pemilihan umum (pemilu) ulang di Israel.

Upaya Netanyahu dan Partai Likud pimpinannya memaksakan pemilu ulang dengan mendiskreditkan hasil pemilu pekan lalu dinilai Eisenkot telah gagal total.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam unggahannya di akun media sosial X, Eisenkot menyebut upaya Netanyahu itu "tercela dan jahat."

"Upaya tercela dan jahat untuk tidak mengakui hasil pemilihan, menentang kehendak publik, mencemarkan nama baik suatu komunitas, serta menyeret Israel ke dalam pemilihan umum baru telah gagal," tulis Eisenkot.

"Hanya seseorang yang menyadari bahwa dirinya telah kalah yang akan tega melancarkan kampanye delegitimasi sekasar itu, bahkan dengan risiko merusak lebih jauh kepercayaan publik terhadap lembaga-lembaga negara," tambahnya.

Eisenkot menyatakan bahwa hasil pemilu untuk Knesset atau Parlemen Israel ke-26 "tegas dan jelas."

Ia kemudian menyambut baik pernyataan Ketua Komite Pemilihan Umum Pusat, Hakim Noam Sohlberg, yang menegaskan integritas pemungutan suara tersebut.

"Abaikan kebisingan dan manuver politik yang berubah setiap jam. Rakyat adalah pemegang kedaulatan, dan mereka telah bersuara: Pemerintahan yang gagal ini tidak memiliki mayoritas dan telah kalah dalam pemilihan," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]

Klaim punya bukti campur tangan Qatar

Netanyahu dan partai Likud menuding terdapat campur tangan Qatar melalui pendanaan yang ditujukan untuk meningkatkan partisipasi pemilih Arab serta memengaruhi hasil pemilihan.

Likud mengeklaim memiliki rekaman dan materi lain yang mendokumentasikan penyuapan, termasuk uang tunai dan voucer bahan bakar, yang ditawarkan sebagai imbalan atas suara, seraya menyebut dugaan tindakan tersebut sebagai "pencurian pemilu."

Partai tersebut belum memublikasikan bukti yang menunjukkan campur tangan Qatar atau kecurangan pemilu secara meluas.

Pada Kamis, Qatar menepis tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai "kampanye disinformasi baru" yang bertujuan menyeret negara itu ke dalam perselisihan politik internal Israel.

Pemimpin United Arab List, Mansour Abbas, juga membantah tuduhan adanya upaya untuk memengaruhi pemilu secara ilegal melalui pendanaan asing.

Sebelumnya pada Minggu, Sohlberg menyatakan bahwa pemungutan suara telah berlangsung dengan semestinya dan hasilnya mencerminkan kehendak para pemilih.

Harian Israel Yedioth Ahronoth mengutip pernyataannya yang menyebut bahwa klaim mengenai materi dan bukti yang ada dapat menimbulkan keraguan terhadap hasil pemilu secara keseluruhan adalah "tidak benar."

Ia mengatakan bahwa potensi penyimpangan dan kecurigaan tengah diperiksa, seraya menegaskan bahwa seandainya pun terbukti, hal tersebut tidak akan merusak integritas pemilu secara keseluruhan ataupun hasilnya.

Sohlberg menyampaikan hal ini di hadapan kepala Shin Bet, David Zini, dan Jaksa Agung Gali Baharav Miara.

Setelah seluruh suara dihitung, blok Netanyahu mengamankan 53 kursi di Knesset yang beranggotakan 120 orang, sementara kubu oposisi yang dipimpin oleh Eisenkot memperoleh 48 kursi, dan partai-partai Arab meraih 19 kursi. Tidak satu pun dari blok utama tersebut mencapai 61 kursi yang diperlukan untuk membentuk mayoritas pemerintahan.

Menurut komite pemilihan umum, tingkat partisipasi pemilih mencapai 77,9%, angka tertinggi sejak tahun 1999.

(bac)
placeholder
LIHAT SELENGKAPNYA