Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mencegat dan menghancurkan sebuah drone MQ-9 milik Amerika Serikat di sebelah timur Selat Hormuz, Selasa (3/11).
Dalam pernyataan yang dikutip kantor berita Fars, IRGC mengatakan drone tersebut ditembak jatuh menggunakan sistem pertahanan udara canggih terbaru miliknya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
IRGC mengklaim bahwa drone tersebut merupakan MQ-9 milik AS ke-55 yang berhasil dihancurkannya. Belum ada konfirmasi langsung dari militer AS soal klaim Teheran tersebut.
Dalam pernyataan terpisah, IRGC juga mengatakan pasukannya juga menjatuhkan dua drone MQM-170 milik AS di hari yang sama.
IRGC menyebut drone jenis pengintai itu terdeteksi di sebelah selatan Pulau Qeshm, di Selat Hormuz.
IRGC mengklaim insiden terbaru tersebut membuat jumlah drone AS jenis ini yang berhasil ditangkap pasukannya menjadi empat unit.
Di saat bersamaan, Al Jazeera melaporkan lima ledakan terdengar di Pulau Qeshm, Iran, menurut kantor berita resmi IRNA.
IRNA melaporkan bahwa warga Qeshm melihat dua pesawat terbang melintasi pulau tersebut.
Insiden drone ini berlangsung di saat yang bersamaan usai Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa kesepakatan antara AS dan Iran akan tercapai. Pernyataan Trump itu muncul ketika negosiasi antara kedua negara dilaporkan mulai berlangsung lagi.
"Harga minyak TURUN TAJAM, hampir US$10 (Rp181.000) per barel, SEBUAH REKOR, karena orang-orang merasa tidak akan ada Perang dengan Iran. Iran menginginkan penyelesaian, secepat mungkin. Itu bisa terjadi!" tulis Trump dalam sebuah unggahandi Truth Social menjelang pemilihan paruh waktu pada Selasa (3/11).
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Senin mengatakan bahwa pembicaraan "sangat intensif" tengah berlangsung dengan AS melalui mediator.
"Mengingat sensitivitas dan seriusnya situasi saat ini, konsultasi dan pembahasan berlangsung sangat intensif. Qatar dan Pakistan memainkan peran mediasi yang sangat aktif dalam negosiasi ini," katanya dalam wawancara video dengan kantor berita resmi IRNA.
Sementara itu, Wakil presiden Iran mengatakan bahwa pertukaran pesan dengan AS melalui mediator menunjukkan pengakuan Washington atas "kemenangan" Teheran dalam perang di Timur Tengah.
"Musuh kita gagal mencapai satu pun tujuannya dalam dua perang terakhir. Bahkan saat ini, meskipun Amerika Serikat, didorong oleh tujuan-tujuannya sendiri dan kekhawatiran terhadap opini publik dalam negeri, melakukan berbagai manuver, pesan-pesan yang disampaikan kepada Iran melalui perantara menunjukkan adanya pengakuan atas kemenangan kita," kata Wakil Presiden Pertama Iran Mohammad Reza Aref,seperti dikutip kantor berita negara IRNA.
(rds)
