Oposisi Serang Netanyahu soal AS Setop Bantuan: Tak Layak Lagi Jadi PM

CNN Indonesia
Rabu, 04 Nov 2026 09:30 WIB
A combination picture shows Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu as he attends a memorial service held for Ran Gvili, an off-duty police officer who was killed fighting militants that had infiltrated Israel during the deadly October 7, 2023, att
Rival terkuat PM Benjamin Netanyahu sekaligus pemimpin Partai Yashar, Gadi Eisenkot, mengatakan sang PM menimbulkan bahaya nyata bagi Israel. (Foto: REUTERS/Amir Cohen)
Jakarta, CNN Indonesia --

Rival terkuat PM Benjamin Netanyahu sekaligus pemimpin Partai Yashar, Gadi Eisenkot, mengatakan sang PM menimbulkan bahaya nyata bagi Israel.

Hal itu diutarakannya menyusul keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang akan menghentikan bantuan tahunan Rp70 triliun ke negara tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melalui unggahannya di X pada Rabu (4/11), Eisenkot menuturkan keputusan AS ini timbul lantaran Netanyahu dan partainya, Likud, kerap melakukan "pogrom" terhadap demokrasi dan supremasi hukum dalam situasi terdesak.

"Mereka (Netanyahu dan Likud) berusaha menyeret kita semua ke dalam krisis konstitusional yang berbahaya. Sayangnya, ini bukan pertama kalinya terjadi. Justru inilah alasan mengapa mereka tidak layak dan tidak pantas lagi memegang kekuasaan," ucap Eisenkot.

"Inilah pula alasan mayoritas warga Israel memilih untuk tidak memperpanjang masa pemerintahan mereka," paparnya menambahkan.

Pogrom adalah serangan atau kerusuhan yang dilakukan secara terorganisasi dan disertai kekerasan oleh kelompok berkuasa atau mayoritas.

Presiden Trump mengumumkan akan menghentikan bantuan tahunan AS sebesar US$3,8 miliar (Rp70 triliun) kepada Israel.

Pengumuman itu disampaikan di hari pemilihan paruh waktu atau midterm election AS berlangsung pada Selasa (3/11), di tengah masalah dukungan jor-joran AS ke Israel selama ini menjadi isu kontroversial terutama bagi pemerintahannya.

"Kami memberi Israel US$4 miliar (Rp72,5 triliun) per tahun, dan beberapa bulan lalu kami membuat kesepakatan bahwa kami akan menghentikannya," kata Trump dalam wawancara melalui telepon dengan Fox News.

Trump mengaku Netanyahu "tidak keberatan" dengan keputusan penghentian bantuan tersebut. Langkah AS itu diumumkan Trump ketika hasil pemilu Israel menunjukkan tidak ada yang menang dan bisa membentuk pemerintahan baik dari kubu petahana, Netanyahu, maupun kubu oposisi, Eisenkot.

Sementara itu, Eisenkot mengeklaim para pejabat keamanan dan warga Israel mengetahui hal ini dari media, bukan pernyataan resmi pemerintahan Netanyahu.

[Gambas:Video CNN]

"Hubungan khusus Israel dengan Amerika Serikat merupakan salah satu komponen utama keamanan nasional Israel," tulis mantan panglima militer Israel itu.

"Fakta bahwa aparat keamanan, bersama warga Israel, baru mengetahui perubahan kerangka hubungan strategis tersebut melalui media menunjukkan betapa tindakan Benjamin Netanyahu benar-benar menimbulkan bahaya nyata," paparnya menambahkan.

Sejauh ini, Netanyahu belum memberikan respons resmi kepada publik soal penghentian bantuan puluhan triliun dari AS ke Israel ini.

Namun, lembaga penyiaran publik Israel, KAN, melaporkan bahwa para pejabat di Kementerian Pertahanan dan militer Israel terkejut dengan pengumuman Trump tersebut.

Secara terpisah, Channel 12 melaporkan bahwa Kementerian Keuangan Israel juga tidak mengetahui rencana Washington untuk menghentikan bantuan militer hingga Trump mengumumkannya.

Menurut laporan saluran tersebut, bantuan tahunan AS sebesar US$3,8 miliar sebelumnya diperkirakan menjadi salah satu sumber pendanaan penting bagi anggaran pertahanan Israel pada 2027 dan 2028.

Berdasarkan nota kesepahaman yang ditandatangani pada 2016, AS berkomitmen memberikan bantuan militer senilai US$38 miliar kepada Israel selama satu dekade, hingga 2028.

"Netanyahu harus memberikan penjelasan kepada warga Israel malam ini," ucap Eisenkot.

Selain Eisenkot, pemimpin oposisi Israel lainnya sekaligus Ketua Partai Yesh Atid, Yair Lapid, menyebut pengumuman Trump itu sebagai "salah satu kegagalan politik dan keamanan paling parah dalam sejarah negara ini".

"Sulit dipercaya bahwa Netanyahu menyerah begitu saja, dan lebih sulit lagi dipercaya bahwa ia tidak mempersiapkan aparat keamanan untuk menghadapi hal ini," ucap Lapid.

(rds)
placeholder
LIHAT SELENGKAPNYA