Alasan Ortu di China Bayar Mahal Kirim Anak ke Kamp, Latih Hidup Susah

CNN Indonesia
Kamis, 05 Nov 2026 15:30 WIB
The Chinese national flag is seen on a flagpole in Beijing on August 8, 2016. Most of the five stars on the Chinese flags being used at medal ceremonies at the Rio Olympics are misaligned, officials said, prompting a diplomatic protest and online fur
Ilustrasi bendera China. Foto: AFP PHOTO / STR
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah orang tua di China rela membayar mahal untuk mengirim anak-anak mereka ke kamp pelatihan berat.

Kamp yang dikenal dengan istilah "chi ku" atau "makan kepahitan" itu bertujuan membentuk kemandirian anak. Program ini menyasar anak-anak berusia enam hingga 16 tahun yang dinilai terlalu nyaman dengan kehidupan sehari-hari dan kurang terbiasa menghadapi kesulitan.

Fenomena tersebut kembali ramai di media sosial China pada musim panas tahun ini. Sejumlah video memperlihatkan anak-anak menangis dan mengeluhkan beratnya aktivitas yang harus mereka jalani selama mengikuti kamp.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam salah satu video, seorang anak yang dikirim orang tuanya dari Shanghai ke pegunungan Guizhou menangis sambil menunjuk kamera.

"Kau menghabiskan uang untuk tiket pesawat hanya agar aku melakukan pekerjaan ini," demikian keluhan anak itu, seperti dikutip Channel News Asia. Meski menangis, anak tersebut tetap menjalankan tugasnya, termasuk memotong kayu bakar, mengangkut batu bata, dan mencabut gulma di ladang.

Dalam video lainnya, seorang anak juga menangis sambil memohon kepada ibunya agar diizinkan pulang. "Bu, aku salah. Aku ingin pulang dan belajar," katanya.

Video-video tersebut justru menarik perhatian banyak orang tua. Mereka menanyakan cara mendaftarkan anak-anak mereka ke program serupa.

Kamp chi ku bukan program baru. Program ini telah berlangsung sejak awal 2000-an, terutama di wilayah barat daya China seperti Sichuan, Yunnan, dan Guizhou.

Program tersebut dikelola perusahaan swasta melalui tur edukasi dan bukan bagian dari kegiatan resmi sekolah. Biayanya berkisar 5.000 yuan (Rp13 juta) untuk sepuluh hari hingga lebih dari 10.000 yuan (Rp27 juta) untuk program selama satu bulan.

Tingginya minat membuat sejumlah kamp memiliki kuota terbatas yang cepat terisi.

Selama mengikuti program, anak-anak harus memetik daun teh, memasak menggunakan kompor tanah liat, mencangkul sawah, membersihkan kandang sapi, hingga mendaki jalan pegunungan sambil membawa karung beras.

Mengajarkan anak menghadapi kesulitan

Salah satu penyelenggara kamp tersebut adalah pemilik perusahaan Haoshi Study Tours, Tong Lu. Perusahaannya mengadakan program pelatihan selama enam hari di kawasan pegunungan Lishui, Provinsi Zhejiang.

Program bertajuk "Swapped Lives" mengajak anak-anak berusia sembilan hingga 12 tahun untuk tinggal dan bekerja bersama keluarga petani di desa setempat. Kegiatan berlangsung pada puncak musim panas, ketika suhu pada Juli tahun ini melampaui 35 derajat Celsius.

Tong mengatakan kehidupan anak-anak di China saat ini terlalu mudah. Menurut dia, banyak anak tidak terbiasa menghadapi kesulitan dan kurang memahami pentingnya bertahan ketika menghadapi tantangan.

"Saat ini, anak-anak... semuanya jadi agak manja," katanya. Ia menilai anak-anak terbiasa mendapatkan fasilitas memadai, mulai dari makanan, pakaian, kendaraan, hingga berbagai kelas tambahan yang dibiayai orang tua.

Melalui kamp tersebut, Tong ingin menunjukkan bahwa kebutuhan sehari-hari membutuhkan usaha dan kerja keras.

Misalnya, anak-anak harus mengumpulkan kayu bakar untuk memasak menggunakan kompor tanah liat. Mereka bisa menghabiskan tiga hingga empat jam untuk mengumpulkan, mengikat, dan membawa kayu tersebut. Padahal, makanan yang dimasak hanya membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit untuk dihabiskan.

Anak-anak juga memetik daun teh hingga 30 menit setiap hari. Hasil petikan itu dapat ditukar dengan berbagai kebutuhan, seperti susu dan bubur, yang kemudian disumbangkan kepada keluarga kurang mampu.

Selain itu, mereka diminta mengangkut kotoran sapi selama 10 hingga 20 menit. Kotoran tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai pupuk kompos atau bahan bakar melalui pengolahan biogas.

Perancang program, Zhang Hao, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan mengenalkan anak-anak pada proses produksi makanan dan usaha yang dibutuhkan sebelum makanan tersaji di meja makan.

[Gambas:Video CNN]

Banyak peserta juga mengalami rindu rumah dan menangis ketika menelepon orang tua pada malam hari. Mereka yang ingin pulang biasanya dibujuk untuk bertahan hingga keesokan harinya.

Salah satu kegiatan yang cukup menguras tenaga adalah berjalan kaki menuju sekolah. Anak-anak harus membawa satu kilogram beras melewati jalur pegunungan sepanjang lima kilometer yang biasa dilalui murid-murid desa.

Perjalanan itu memakan waktu sekitar satu setengah jam dan berakhir di sebuah sekolah dasar yang terbengkalai. Meski diperbolehkan beristirahat atau mengurangi beban bawaan ketika kelelahan, mereka tetap harus menyelesaikan pekerjaan.

Penyelenggara juga menyiapkan kegiatan khusus untuk membangun kedekatan emosional antara anak dan orang tua. Sebelum kamp dimulai, orang tua diminta menulis surat rahasia untuk anak-anak mereka. Surat tersebut dibagikan pada malam kedua terakhir setelah peserta menjalani berbagai pekerjaan berat selama beberapa hari.

Zhang mengatakan banyak anak "menangis tersedu-sedu" ketika membaca surat dari orang tua mereka. Pengalaman tersebut diharapkan membuat anak-anak lebih bersyukur dan berani mengungkapkan perasaan kepada keluarga.

"Beberapa anak pulang ke rumah dan hanya berkata, 'Bu, aku sayang Ibu, terima kasih.' Itulah yang sebenarnya lebih dipedulikan orang tua," ujar Zhang. 

(mge/dna)
LIHAT SELENGKAPNYA