Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia Hanta Yuda menuturkan survei yang dilakukan sepanjang 7—17 November lalu juga ingin mengetahui faktor yang mempengaruhi pilihan terhadap kandidat.
Survei justru menemukan sebanyak 71,75 persen publik tak membolehkan politik uang.
“Terkait pemberian uang kepada pemilih dalam Pilkada, mayoritas publik mengaku tak akan menerima yakni 54,33 persen,” kata Hanta dalam pemaparan hasil survei, Minggu (27/11).
Dia menuturkan hanya sekitar 2,9 persen yang akan mengikuti ajakan untuk memilih kandidat tertentu setelah menerima politik uang. Menurutnya, hasil survei itu justru menunjukkan bahwa politik uang tak demikian berpengaruh pada Pilkada DKI Jakarta yang digelar tahun depan.
Poltracking Indonesia menyatakan karakter pemilih DKI Jakarta relatif dinamis sehingga survei tersebut tak bisa memprediksi siapa yang akan menjadi pemenang kelak.
Selain soal politik uang, survei itu juga meneliti soal elektabilitas tiga pasangan yakni Agus Yudhoyono-Sylviana Murni; Basuki T. Purnama-Djarot Saiful Hidayat; dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.
“Sebanyak 63,08 persen untuk penilaian kinerja (Ahok), sedangkan Pak Djarot juga masih sangat tinggi sebagai wakil yaitu 48,75 persen, publik mengaku puas dengan kinerja keduanya," kata Hanta.
Survei sendiri dilakukan terhadap 1.200 responden dengan metode multistage random sampling.
(asa)