"Ah, itu hanya ungkapan orang yang iri. Iri saja, tak beralasan, karena saya kan berkompetisi di sini. Saya tidak diberikan tongkat komando untuk memimpin Jakarta," kata Agus seusai mengunjungi kawasan Tugu Selatan, Koja, Jakarta Utara, Senin (9/11).
Menurut Angga, dinasti politik rentan melakukan praktik penyelewengan seperti korupsi yang dilakukan oleh Bupati Klaten Sri Hartini dan Gubernur Banten Ratu Atut Coshiyah, beberapa waktu lalu.
Agus menolak dirinya dikaitkan dengan dinasti politik. Putra sulung Presiden ke-6 Republik Indonesia ini menyatakan, selama ini dia menjalankan rangkaian kampanye Pilkada dengan berbekal kapasitas dan karakternya sendiri. Tidak meminjam atribut dari sosok lain seperti sangkaan pihak lain.
"Ini kompetisi yang saya perjuangkan untuk memperjuangkan warga Jakarta. Saya tidak terganggu dikatakan dinasti politik. Saya kira yang mengomentari itu tidak mengerti dinasti politik," ujarnya.
Menurut Agus, dinasti politik adalah dinasti yang dibentuk dalam sistem monarki. Dinasti politik tak bisa diterapkan di Indonesia yang merupakan negara demokrasi. "Tolong sampaikan, cari tema yang lain untuk dibicarakan. Dari pada bicara yang tak dimengerti betul artinya," kata dia.
Meski disindir oleh rivalnya, Agus menyatakan hal itu tak akan mempengaruhi hubungannya dengan Anis dan Sandiaga. "Biasalah dalam politik, dikatakan dinasti politik, dikatakan tidak siap. Biarkan saya membuktikan, biarkan rakyat membuktikan," ujar Agus. (wis/obs)