Persiapan maksimal dilakukan untuk menghadapi debat terbuka yang diselenggarakan oleh KPUD pada Jumat malam (13/1) dan wajib diikuti oleh seluruh kontestan.
Calon gubernur nomor urut satu Agus Harimurti Yudhoyono bersama wakilnya Sylviana Murni bahkan harus berguru dari mentor berpengalaman secara khusus. Maklum, debat terbuka itu merupakan debat pertama yang akan dihadiri oleh pasangan ini karena pada debat-debat 'tak resmi' sebelumnya mereka tak pernah hadir.
Adapun bagi calon gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok meski sudah sangat berpengalaman sebagai petahana namun karena saat ini berstatus terdakwa maka Ahok menganggap acara debat nanti sebagai hal yang sangat penting.
Ahok akan memanfaatkan ajang debat untuk mengklarifikasi fitnah yang diarahkan pada dirinya dalam perkara dugaan penistaan agama. Jika Ahok bisa memanfaatkan secara maksimal maka setidaknya bisa mengubah pandangan publik menjadi positif, dan hal itu dapat mengerek kembali elektabilitas Ahok yang sempat merosot.
Direktur Populi Center Usep S Ahyar berpendapat pemilih yang masih bisa beralih atau swing voters dalam Pilkada DKI berjumlah 29 persen. Jumlah itu diperoleh berdasarkan hasil survei yang dilakukan Populi Center pada 7-14 Desember 2016 dengan responden sebanyak 600 orang.
Pemilih yang belum menentukan pilihan itu dapat dipengaruhi melalui debat publik. Menurut Usep, pengaruh dapat diberikan jika peserta pilkada mampu menawarkan program yang rasional saat debat nanti.
Usep mengungkap, ada 66,5 persen pemilih Pilkada DKI yang sudah loyal terhadap pilihannya saat ini. Dari jumlah tersebut, mayoritas warga loyal merupakan pemilih cagub dan cawagub petahana ahok dan Djarot Saiful Hidayat.
Selain menarik suara pemilih mengambang, debat juga disebut mampu menjadi ajang peserta pilkada untuk menangkal berita-berita hoax. Selain itu, debat dianggap mampu mengurangi sentimen negatif antarcagub dan cawagub.
"Debat baik dalam menangkal berita-berita hoax. Kemudian mengurangi sentimen negatif antarpeserta pilkada, karena bisa saja suasana cair ketika ketiga cagub dan cawagub bertemu dalam satu forum," tutur Usep.
Debat ini, dalam pandangan Usep, ada yang memperhatikan soal substansi dan teknis. Misal, cara berpakaian, gesture, cara bicaranya lugas atau tidak, karena pemilih tidak semuanya rasional.
Bagi Cecep acara debat ini sangat penting karena selama ini belum bisa dilakukan secara bersamaan di antara ketiga pasangan calon. Dampak debat bagi para kandidat juga positif karena bisa untuk mendulang dukungan suara.
“Pemilih di Jakarta sebagain besar adalah pemilih rasional. Kemampuan menyampaikan gagasan dan program-program bisa ditunjukan oleh para calon di ajang ini untuk menambah dukungan suara,” tutur Cecep kepada CNNIndonesia.com.