Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia, Hanta Yudha mengatakan penurunan itu terlihat dari simulasi pencoblosan yang diajukan untuk mengetahui preferensi pilihan warga di Pilkada DKI Jakarta 2017.
Hal ini berbanding terbalik dengan tren dua pasangan calon lain yakni, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang mengalami peningkatan.
"Apabila Pilkada DKI dilaksanakan hari ini dengan simulasi pencoblosan, pasangan Anies-Sandi unggul dengan 31,5 persen, disusul Ahok-Djarot 30,13 persen dan Agus-Sylvi 25,75 persen. Sementara yang belum menentukan pilihan sekitar 12,62 persen," kata Hanta di Jakarta, Rabu (1/2).
Hanta menjelaskan, elektabilitas Anies-Sandi dan Ahok-Djarot masih berada di dalam margin of error. Adapun survei ini memiliki margin of error plus minus 3,46 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.
Sementara itu, jika Pilkada disimulasikan dua kandidat, menurut hasil survei Poltracking tidak ada perubahan tren dari simulasi yang dilakukan. Agus-Sylvi unggul 45,88 persen jika disimulasikan melawan Ahok-Djarot yang hanya mendapat 36,5 persen, dengan undecided voters sebanyak 17,62 persen.
"Pemilih Anies banyak yang beralih ke Agus kalau Anies tidak lolos ke putaran dua," kata Hanta.
"Pemilih Ahok banyak beralih memilih ke Anies, kalau tidak masuk ke putaran kedua," ujar Hanta.
Anies-Sandi juga akan unggul jika disimulasikan melawan Ahok-Djarot dengan 49,8 persen berbanding 35 persen. Hal ini, kata Hanta memperlihatkan kecenderungan pemilih Agus beralih kepada Anies.
Survei Poltracking dilakukan dengan metode stratified multistage random sampling melalui wawancara tatap muka terhadap 800 responden. Poltracking juga melalui proses kroscek terhadap responden yang telah diwawancarai. (pmg/wis)