Pengamat Komunikasi Politik Universitas Paramadina Hendri Satrio berpendapat turunnya SBY dan Mega menyusul langkah Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang lebih dulu ke terjun ke gelanggang arena pilkada Jakarta bukan hanya untuk memperkuat elektabilitas tapi yang lebih utama yaitu untuk menjaga elektabilitas yang sudah ada pada para kandidatnya.
“Jagoan SBY yaitu Agus Harimurti Yudhoyono dan jagoan Megawati, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) paling rawan mengalami penurunan elektabilitas dibandingkan jagoan Prabowo yaitu Anies Baswedan yang relatif stabil,” ujar Hendri kepada CNNIndonesia.com, Sabtu.
Adapun kehadiran Megawati, lanjut Hendri, juga sementara dapat membuat kasus yang dijalani Ahok tersamar. “Sebab figur Megawati sanngat kuat di kalangan pendukung loyal PDIP,” ujar Satrio.
Khusus Ahok, kata Muradi, turunnya Megawati dalam berkampanye guna menggenapi basis pendukung tradisional yang di awal kampanye cenderung ragu karena menguatnya isu SARA untuk kembali menyokong calon yang diusung PDIP itu.
“Baik Megawati maupun SBY saya kira membaca alur politik yang terjadi di Jakarta,” ucap Muradi kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (4/2).
Sedangkan Megawati menghadiri #KonserGue2 yang diselenggarakan untuk mendukung pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat. Dalam pidatonya, Megawati mengaku yakin Ahok dan Djarot akan kembali memimpin ibu kota. (obs)