Usai mencelupkan kelingkingnya ke tinta ungu, Wawan Setyawan menyatakan sikap politiknya. Tak ingin Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok kembali memimpin Jakarta, pria berusia 54 tahun itu mencoblos gambar pasangan Agus Yudhoyono-Sylviana Murni.
"Saya ini korban gusur. Jangan hanya masyarakat kelas atas saja yang diperhatikan," ujarnya.
Sikap Wawan mendua. Walaupun menyebut dirinya sebagai korban penggusuran era pemerintahan Ahok, dia mengakui calon gubernur nomor urut dua itu memiliki program pembangunan Jakarta yang jelas.
"Sepak terjang pembangunan Jakarta memang baik, tapi cara yang digunakan tidak bijaksana," tuturnya.
Sukarto berharap Jakarta memiliki gubernur baru. "Asal bukan Ahok," ujarnya.
Tak melulu soal Kampung Pulo, ada pula warga Rusun Jatinegara Barat yang memilih calon gubernur berdasarkan tawaran program yang mereka dapatkan. Abdullah (32), seorang pekerja kebersihan alih daya, mengaku mencoblos pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.
"Saya butuh pekerjaan. Pak Sandi kan punya perusahaan, jadi dia mengerti cara membuka lowongan pekerjaan nanti," kata dia.
Hingga berita ini diturunkan, penghitungan suara pada dua TPS di Rusun Jatinegara Barat masih berlangsung. Petugas TPS mencatat, 1.479 orang berhak menggunakan hak suara di rusun tersebut.
Ahok kala itu berkeras membongkar Kampung Pulo agar normalisasi Kali Ciliwung dapat berjalan. Di sisi lain, penduduk Kampung Pulo merasa tanah mereka merupakan tanah adat.
Akhirnya Kampung Pulo tetap dibongkar. Pemprov DKI merelokasi warga lokal ke Rusun Jatinegara Barat.
Lihat juga:Mereka yang Harus Pergi dari Kampung Pulo |
Ahok kala itu mengatakan Pemprov tidak merelokasi warga secara sewenang-wenang. Pemprov DKI, kata dia, menyediakan sejumlah fasilitas khusus bagi para penghuni rusun bertaraf apartemen kelas menengah itu.
Lihat juga:Ketika Agus Serang Program Penggusuran Ahok |