Tetapi kenyataan berkata lain. Agus-Sylvi hampir dipastikan tersingkir jika tak ada perbedaan signifikan antara hasil quick count sejumlah lembaga survei, dengan hasil akhir penghitungan manual KPU DKI Jakarta.
Berdasarkan hasil quick count LSI Denny JA, SMRC, dan Vox Populi, Agus-Sylvi ada di posisi buncit, di bawah pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Syaiful Hidayat dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.
Dalam tiga rangkaian debat itu, Yohanes menilai performa Agus-Sylvi berada di bawah dua pesaingnya, Ahok-Djarot dan Anies-Sandi.
"Pengaruhnya sangat besar. Terbukti, tren penurunan elektabilitasnya dimulai setelah debat digelar," kata Yohanes kepada CNNIndonesia.com.
Buruknya performa debat Agus, menurut Yohanes, bukan hal aneh jika merujuk pada latar belakangnya yang belasan tahun menjadi tentara.
Agus disebut Yohanes tak pandai berdebat karena dididik dalam dunia militer yang tak mengenal budaya perdebatan. Menurut Yohanes, kekurangan itu sebenarnya bisa diatasi jika tim pemenangan memiliki persiapan yang matang dan bisa memaksimalkan peran Sylvi.
"Buruknya performa mereka saat debat pada akhirnya membuat publik sadar bahwa pasangan ini (Agus) masih terlalu hijau," imbuh Yohanes.
Faktor kedua yang menyebabkan Agus-Sylvi tersingkir, menurut Yohanes, adalah manuver politik Susilo Bambang Yudhoyono yang tak lain adalah ayah kandung Agus Harimurti Yudhoyono.
Yohanes menilai kesalahan politik SBY lantaran menyeret nama Agus dalam sejumlah persoalan yang ia hadapi belakangan ini.
Manuver politik SBY disebut telah terlalu jauh mencampuri urusan politik putra sulungnya. Akibatnya, manuver politik SBY gagal mendulang simpati publik, melainkan justru menimbulkan kesan negatif di mata publik.
"Karena manuver ayahnya, publik justru melihat Agus sosok yang manja. Padahal, jika dibiarkan tanpa campur tangan SBY, mungkin hasilnya bisa berbeda," kata Yohanes.
Penentu Kemenangan
Meski hampir dipastikan menelan kekalahan, namun peran Agus-Sylvi tak serta merta terhapus. Posisi mereka justru semakin vital. Sebab, dukungan yang akan mereka limpahkan bisa menentukan siapa pemenang Pilkada DKI Jakarta 2017.
Kini Agus-Sylvi menghadapi dua pilihan, apakah akan mengalihkan dukungan kepada Ahok-Djarot atau Anies-Sandiaga.
Jika merujuk pada faktor identitas, Yohanes memprediksi mayoritas pemilih Agus-Sylvi akan mengalihkan dukungan ke Anies-Sandi. Hal ini bisa terjadi lantaran basis suara Agus-Sylvi dan Anies-Sandi sama-sama berasal dari massa Islam.
Namun, Yohanes ragu inisiatif pemilih itu akan menjalar ke level elit. Di tingkat elite, Yohanes meragukan Agus-Sylvi bakal secara terbuka menyatakan dukungan kepada Anies-Sandi. Pemicunya adalah hubungan buruk antara SBY dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.
Yohanes juga meyakini Agus-Sylvi tak akan melimpahkan dukungan kepada Ahok-Djarot karena hubungan buruk SBY dan Megawati.
"Posisinya akan seperti Pilpres 2014 ketika Partai Demokrat tidak memberikan dukungan terbuka kepada Prabowo ataupun Jokowi," ujar Yohanes.
"Karena mereka (pemilih Agus dan pemilih Anies) berbagi banyak hal yang sama. Mereka membangun isu yang sama dan memiliki identitas yang sama," kata Idil.
Limpahan dukungan itu tak menjamin Anies-Sandi bakal memenangkan Pilkada DKI Jakarta. "Karena tidak semua suara AHY beralih ke Anies. Ahok masih punya kesempatan mencuri suara dari pemilih AHY. Jadi, siapa yang menang nanti akan sangat tergantung pada selisih Anies dan Ahok di putaran pertama," tutur Idil.