Dia menyebut masyarakat yang tinggal di apartemen, perumahan ekslusif, dan rumah susun sulit menerima kehadiran petugas di lapangan. Kesulitan petugas menembus tiga kawasan itu terjadi saat pendataan dilakukan Agustus 2016.
"Ketika DPT tak maksimal, jumlah TPS juga tak terlalu banyak dan surat suara juga sesuai DPT. Giliran pemungutan suara, semua datang menuntut hak pilihnya. Ini kemudian yang menyebabkan ada beberapa TPS surat suaranya tak tercukupi," kata Sumarno di Menara Bidakara, Jakarta, Kamis (16/2).
Lonjakan pemilih yang tak terdaftar di DPT terjadi di banyak wilayah. Menurut penyelenggara Pilkada, angka partisipasi masyarakat dalam Pilkada DKI paling tinggi terdapat di kawasan Jakarta Utara dan Barat. Sementara di kawasan lain, tingkat jumlah pemilih cenderung tidak terlalu signifikan.
Karena warga rusun tak mengenal puluhan orang itu, panitia pemungutan suara (PPS) di Rawa Bebek pun enggan menerima mereka yang hendak memilih.
"Ada kejadian di Rawa Bebek itu pemilih yang tidak masuk DPT di saat terakhir, kemudian datang sekitar 80 orang. Warga setempat tak ada yang mengenal mereka meski ada identitasnya. Pokoknya banyak hal misterius yang terjadi," ujarnya.
Lihat juga:Situs KPU Diretas Hacker? Itu Hoax! |
Jika surat suara di TPS asal habis, pemilih bisa menggunakan hak suaranya di lokasi terdekat.