"Kesenjangan makin tinggi karena orang-orang yang super kaya itu numpuk semua di Jakarta, yang miskin juga banyak. Jadi gabung, ya pasti sangat ekstrem. Biaya hidupnya juga tinggi," kata Djarot usai blusukan di Kelurahan Penggilingan, Jakarta Timur, Selasa (4/4).
Calon wakil gubernur nomor urut tiga itu mengatakan problem kemiskinan di Jakarta tak separah yang gambarkan Anies. Sebab, kata Djarot, angka kemiskinan di Jakarta paling rendah se-Indonesia yakni sebesar 3,5 persen.
"Supaya biaya hidup mereka turun. Apa yang kami bisa subsidi langsung? Transportasi, kemudian sembako, pendidikan, kesehatan," kata Djarot.
Pernyataan Djarot tersebut jelas berseberangan dengan pidato Anies di Hotel Dharmawangsa, kemarin.
Lihat juga:Wajah Miskin Jakarta Bersama atau Tanpa Ahok |
Namun, ketika menjalani kampanye sebagai calon gubernur selama tujuh bulan, Anies mengaku menemui kemiskinan yang ekstrem di Jakarta.
"Sebelum di sini, saya bekerja di pelosok-pelosok, rasanya saya sudah lihat kemiskinan. Tapi di Jakarta, saya melihat kemiskinan dalam kesempitan, dalam polusi, dalam ketimpangan," kata Anies dalam pidatonya.
Anies kemudian merujuk pada data statistik. Ia mengakui jumlah orang miskin di Jakarta berada di angka 380 ribu jiwa. Namun, angka tersebut akan bertambah jika indikator kemiskinan dilihat dari warga yang berpenghasilan di bawah Rp1 juta per bulannya.
"Kalau angkanya di bawah Rp 1 juta penghasilannya, angka kemiskinannya bisa menjadi 3,3 juta jiwa," kata Anies.