Dalam surveinya median menemukan bahwa tingkat kepuasan warga Jakarta terhadap Ahok-Djarot berada di level yang tinggi. Warga menganggap Ahok-Djarot lebih mampu membenahi Jakarta, paling bagus program kerjanya, dan paling berpengalaman dibandingkan Anies-Sandi.
Namun tingkat kepuasan itu berbanding terbalik dengan elektabilitasnya. Tingkat elektabilitas Ahok-Djarot justru hanya sebesar 43,5 persen untuk putaran kedua. Jumlah itu di bawah Anies-Sandi yang mencapai 49,8 persen dengan angka undecided voters sebesar 6,7 persen.
Sebaliknya, sebanyak 67, 1 persen dari total pemilih Ahok-Djarot menyatakan memilih karena faktor rasional seperti kinerja, bersih, dan program yang bagus.
Hal lain yang membuat elektabilitas Anies-Sandi lebih tinggi dari Ahok-Djarot adalah temuan bahwa stigma negatif terhadap pasangan nomor urut dua itu masih lebih tinggi dibandingkan nomor urut tiga.
Mayoritas responden tidak menyukai 19 karakter dan identitas yang melekat pada Ahok-Djarot, seperti cara bicara, arogan, non muslim, kurang sopan, menggusur hingga statusnya sebagai tersangka.
Media melakukan survei pada 1 hingga 6 April 2017 dengan sampel 1.200 responden warga Jakarta yang memiliki hak pilih di Pilkada DKI. Sampel dipilih secara random dengan teknik multistage random sampling dan proporsional atas populasi kotamadya dan gender.