Dalam surveinya, IPI menemukan elektabilitas Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno terpaut sangat tipis. Ahok-Djarot mendapat 47,4 persen, kalah dari Anies-Sandi yang meraih 48,2 persen dengan jumlah responden yang tidak tahu atau merahasiakan pilihannya sebesar 4,4 persen.
Direktur Eksekutif IPI Burhanudin Muhtadi mengatakan berdasarkan survei tersebut, pasangan Anies-Sandi tak bisa disebut unggul absolut.
Dengan keunggulan yang sangat tipis, Burhanudin mengatakan peluang kemenangan bagi kedua calon masih terbuka lebar. Terlebih, ada 15 persen dari responden yang masih bisa mengubah pilihannya pada hari-H mendatang.
"Ada 15 persen responden yang bisa pindah ke lain hati dan undecided voters. Jika masing-masing pasangan bisa menarik hati jenis responden seperti ini, maka mereka bisa mengunci kemenangan tanggal 19 April mendatang," kata Burhanudin.
Untuk pasangan Ahok-Djarot, Burhan mengatakan bahwa pasangan ini memiliki tren elektabilitas yang menguat.
Pada exit poll yang dilakukan Maret lalu, sebanyak 43,3 persen responden memilih Ahok-Djarot. Namun, selang sebulan, trennya meningkat perlahan dan mencapai angka 47,4 persen.
Di periode yang sama, elektabilitas Anies-Sandi memang menurun dari 52,4 persen ke angka 48,2 persen. Hanya saja, menurut Burhanudin, pasangan Anies-Sandi memiliki kekuatan tersendiri yaitu basis pendukung yang loyal.
"Selain itu, pada saat exit poll, kami menemukan bahwa sebagian besar pendukung Agus Yudhoyono-Sylviana Murni berpindah ke pasangan Anies-Sandi. Bisa dibilang, Anies-Sandi sangat dominan menarik basis partai pendukung Agus-Sylvi dibanding Ahok-Djarot," katanya
Survei IPI dilaksanakan pada 12-14 April 2017. Survei ini menargetkan 1.000 responden, namuan hanya 495 responden berhasil diwawancara.
Responden diambil menggunakan metode stratified systematic sampling. Tingkat kepercayaan survei sebesar 95 persen dengan margin of error plus minus 4,5 persen.