infashionthe legend of cheongsam logo


Perempuan China berwajah cantik dengan rambut yang tergelung rapi dan berbaju panjang longgar berkerah tinggi hilir mudik di jalanan kota China. Perempuan China dari ningrat sampai jelata kala itu umumnya mengenakan qi pao (chi pao) longgar, panjang, dan berlengan lebar. Bangsawan menggunakan qi pao dengan sutera terbaik dan warna tercerah termasuk emas. Sebaliknya, rakyat biasa memakai kain biasa dengan pilihan warna gelap seperti cokelat atau biru gelap. 



"Pada 1929, qi pao resmi menjadi baju tradisional negara China. Qi pao makin populer bekat Sun Yat Sen (presiden pertama RRC). Ia mengenakan qi pao (untuk pria) dalam berbagai kesempatan,” kata Rizky Wardhani, Dosen Bahasa Mandarin Fakultas Seni dan Bahasa Universitas Negeri Jakarta. 

Tak cuma Sun Yat Sen, istrinya Soong Ching-ling juga gemar memakai qi pao atau cheongsam di masa muda. Rizky mengungkapkan, pada masa awal berdirinya RRC, cheongsam menjadi simbol women liberation atau gender equality. 

Seiring waktu, China makin banyak menyerap pengetahuan dan budaya Barat termasuk kesetaraan gender. Mereka memprotes ketidakadilan dengan mengenakan cheongsam berwarna ‘dingin’.

Busana: Sissae Qipao | Aksesori: Rinaldy A. Yunardi | Sepatu: Jimmy Choo

Busana:  Sissae Qipao | Aksesori: Rinaldy A. Yunardi 

Busana: Sissae Qipao | Aksesori: Rinaldy A. Yunardi 





Seiring waktu, cheongsam atau qi pao yang tradisional mulai bermetamorfosis dalam bentuknya yang sekarang ini.

Cheongsam di Dinasti Qing (1616-1911/1912) mulai bersolek dengan adanya invasi dari bangsa Mongol. 

Masuknya etnis Manchuria memberikan banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat termasuk dalam hal berbusana. Gaya cheongsam China kuno diwajibkan mengikuti gaya busana etnis Manchuria yang pada dasarnya memiliki kemiripan. 

Busana tradisional Manchuria banyak menggunakan warna cerah seperti pink, hijau muda, biru muda dan kuning. Berkat invasi Mongol, cheongsam China semakin berwarna. 

Busana: Sissae Qipao | Aksesori: Rinaldy A. Yunardi 

Tak cukup hanya perubahan warna, cheongsam juga berubah jadi lebih seksi. Dalam buku ‘Symbol of China’ (Feng Jicai, 2009), Rizky menjelaskan perubahan bentuk cheongsam justru dipengaruhi oleh invasi negara Barat sejak dinasti Qing. 

Kala itu, Inggris mulai masuk lewat dunia perdagangan. Inggris memperluas pasar dari perdagangan candu atau opium hingga ke China. Namun, efek buruk yang ditimbulkannya membuat kerajaan tidak mengizinkan perdagangan candu. Penyelundupan dan pasar gelap ditandai dengan datangnya bos atau pedagang besar ke China. 

"Tak hanya Inggris, negara Barat lain seperti Spanyol dan Portugis pun mulai masuk ke China. Mereka tak sendiri, tapi juga membawa istri dan keluarganya," ucap Rizky. 

Akulturasi fesyen barat yang identik dengan bustier dan rok ballgown berkolaborasi dengan sentuhan ketimuran mulai terbentuk. Perempuan China pun mulai menyerap dan memadukan kombinasi barat dan timur sejak 1920. 

Perlahan tapi pasti, tak ada lagi busana panjang, longgar, dan berlengan lebar. Sentuhan seksi terasa dalam kombinasi akulturasi cheongsam kekinian. Detail yang beragam, warna-warni cerah, potongan gaun mini, siluet body contour, sleveless, dan belahan kaki yang tinggi mulai menggoda. 

Busana: Sissae Qipao | Aksesori: Rinaldy A. Yunardi 

Busana: Sissae Qipao | Aksesori: Rinaldy A. Yunardi | Sepatu: Jimmy Choo







Cheongsam seksi tak cuma menggoda perempuan China, tapi juga dunia mode. Perkenalan pertama kali cheongsam modern ke dunia mode bisa dikatakan diprakarsai oleh 'pasangan' Nancy Kwan dan William Holden lewat film romansa The World of Suzie Wong (1960).  

Dalam filmnya, Kwan (Suzie Wong), seorang perempuan panggilan di Hong Kong mengenakan cheongsam modern dengan gaya modern. Siluet body contour dan slit (belahan kaki) tinggi menghiasi tubuhnya. 

Sayang kepopuleran cheongsam hanya bertahan sebentar. Mengutip South China Morning Post, tahun 1970, sinar cheongsam di dunia mulai meredup seiring dengan pengaruh barat. 

Ucapan terima kasih mungkin layak diucapkan kepada Maggy Cheung dan penata busana film In The Mood for Love (2000). Dengan setting tahun 1960, Maggy Cheung kembali menggoda dunia dengan 21 cheongsam modern. Tubuh seksi Cheung dibalut dengan cheongsam beraneka desain, dari bebungaan terang sampai geometris. 

Dengan cepat, cheongsam kembali menginspirasi desainer dunia. 

Rumah mode dunia, Ralph Lauren (2011), Gucci (2012), Louis Vuitton (2011), sampai Emilio Pucci (2013) berlomba mengeluarkan koleksi cheongsam yang dipakai selebriti dunia. 

Busana: Sissae Qipao | Aksesori: Rinaldy A. Yunardi | Sepatu: Jimmy Choo

Busana: Sissae Qipao | Aksesori: Rinaldy A. Yunardi 

Busana: Sissae Qipao | Aksesori: Rinaldy A. Yunardi 





Desainer-desainer Indonesia pun tak ketinggalan. Banyaknya warga China keturunan di Indonesia menjadi pangsa pasar tersendiri untuk mereka. Sebut saja Sebastian Gunawan, Yosep Sinudarsono, Fetty Rusli, Adrian Gan, Andreas Odang, Albert Yanuar, Cinobi, sampai Sissae Qipao. 

Cheongsam klasik sampai gaun bernapaskan cheongsam yang diadaptasi lewat kerah Shanghai ikoniknya menjadi gaya tersendiri yang tak pernah absen dalam beragam koleksi busana. 

Selain unik, desainer Indonesia Yoseph Sinudarsono, mengungkapkan bahwa kerah Shanghai memiliki efek yang dicintai perempuan.

“Kerah Shanghai bentuknya V di tengah, itu efeknya bikin kurus badan. Buat yang lehernya jenjang itu bagus banget,” katanya. 

Busana: Cinobi  | Aksesori: Rinaldy A. Yunardi | Sepatu: Jimmy Choo

Busana: Cinobi  | Aksesori: Rinaldy A. Yunardi 

Busana: Cinobi | Aksesori: Rinaldy A. Yunardi 

Video: Artho Viando



Ide dan Konsep: Christina Andhika Setyanti | Model: Aquila Firrina | Fotografer: AdTanda
Videografer: Artho Viando | Stylist: Gita Ramadian | Make up & Hair do: Richard Theo
Tata Letak: Fajrian | Busana: Cinobi, Sissae Qipao | Aksesori: Rinaldy A. Yunardi
Lokasi: Suzie Wong Bar (Tugu Kunstkring Paleis) | Sepatu: Jimmy Choo
Staf Redaksi: Elise Dwi Ratnasari, Rahman Indra, Vetriciawizach S | Foto pembuka: Dok. Wikipedia