Klik thumbnail mana pun untuk mulai membaca surat.

Aang Permana
Foto ilustrasi Aang Pernama. CNN Indonesia / Basith Subastian
Aang Permana: Keterbatasan yang Melahirkan Lingkaran Kebaikan

Entah apa jadinya hidup saya tanpa kehadiran ayah dan ibu.

Saya adalah Aang Permana, owner Crispy Ikan Sipetek dan mentor bisnis UMKM. Saya lahir dan dibesarkan di keluarga yang sangat sederhana dan akrab dengan keterbatasan. Saya anak pertama dari dua bersaudara. Orang tua kami selalu menanamkan nilai kerja keras.

Ayah saya buruh pabrik, sedangkan Ibu berdagang keliling, kadang jual rujak, kadang gorengan. Mereka berdua adalah guru pertama saya tentang arti perjuangan.

“Kalau mau keluar dari kondisi sulit ini, kamu harus jadi orang pintar,” kata Ibu saya.

Kalimat sederhana itu terpatri di benak saya hingga kini.

Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) adalah kunci agar saya bisa sekolah. Hampir di setiap jenjang pendidikan, saya pakai beasiswa yang butuh SKTM sebagai syarat wajibnya. Tak jarang pula tetangga mengepalkan tangan saya uang jajan.

Saat beranjak dewasa, saya sadar saya bisa menapak setiap titian berkat bantuan orang lain. Tanpa orang tua dan orang lain, saya mungkin tak akan bisa ada di titik ini. Karena itu, prinsip saya sejak dulu adalah hidup harus bermanfaat untuk masyarakat, sebagaimana dulu saya banyak dibantu orang.

Setelah lulus SMP, saya nyaris berpikir untuk berhenti sekolah. Saya bingung dan berpikir: “Uang dari mana saya supaya bisa lanjut ke SMA?”

Namun kemudian, saya mendapat kabar Pemerintah Provinsi Jawa Barat membuka sekolah gratis di Bandung. Seluruh biaya pendidikan dan kehidupan di Kota Kembang ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah setempat.

Saya mencoba peruntungan. Saya mendaftar meski berasal dari Subang.

Saya diterima, dan sejak kelas satu SMA saya resmi hidup jauh dari orang tua. Hidup di asrama membuat saya belajar tangguh dan mandiri. Tidak ada lagi orang tua yang menyiapkan sarapan, tidak ada yang menegur kalau saya malas belajar. Apa-apa harus sendiri. Namun di sana saya melihat dunia dengan perspektif yang lebih luas.

(Foto. Dok Pribadi)

Namanya sekolah gratis, kebanyakan teman saya di sana itu juga berasal dari keluarga tidak mampu. Ada yang yatim, piatu, bahkan keduanya. Tapi yang membuat saya kagum, semua punya semangat luar biasa untuk mengubah hidup lewat pendidikan. Kami sama-sama berjuang untuk membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk berprestasi.

Begitu tamat SMA, orang tua berharap saya langsung bekerja supaya bisa membantu ekonomi keluarga. Tapi saya masih ingin belajar, saya ingin kuliah. Meski tidak tahu bagaimana cara membayarnya, saya tetap mendaftar ke perguruan tinggi.

Saya kemudian diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB). Tentu hal pertama yang saya cari adalah beasiswa untuk memenuhi biaya kuliah. Selain itu, saya juga mulai berjualan pisang molen, donat, dan camilan kecil demi menopang kehidupan.

Ketika mahasiswa lain sibuk nongkrong di kafe, saya sibuk menghitung modal dan laba kecil dari jualan. Tapi di balik semua itu, saya merasa bangga. Karena dari tangan sendiri, saya bisa tetap kuliah tanpa merepotkan orang tua.

Djarum Beasiswa Plus, Jalan Hidup Saya

Saat saya kuliah, arus informasi berkutat di televisi, koran, atau mulut ke mulut. Satu hari saya mendengar program yang banyak dibicarakan mahasiswa di kampus: Djarum Beasiswa Plus.

Semua bilang, seleksinya ketat dan hanya segelintir orang yang bisa lolos. Awalnya saya minder. Saya pikir, “Saya ini siapa? Anak kampung, ekonomi pas-pasan. Mana mungkin bisa lolos?”

Tapi hati kecil saya bilang, “Coba saja!”

Akhirnya saya ikut seleksi. Prosesnya begitu panjang dan melelahkan, tapi saya jalani dengan tekad kuat. Dan ketika pengumuman datang, saya sempat tidak percaya menjadi salah satu dari 10 penerima beasiswa tersebut. Itu momen luar biasa dalam hidup saya. Saya menjadi Beswan Djarum.

Beasiswa Djarum bukan seperti program yang biasa saya terima sebelumnya. Jika sebelumnya saya dibantu karena faktor ekonomi, kali ini yang dinilai adalah prestasi, karakter, dan kontribusi terhadap masyarakat.

Melalui Djarum Beasiswa Plus, saya belajar arti sebenarnya dari keunggulan. Bukan hanya soal nilai, tapi juga tekad kuat untuk memberi dampak. Saya mungkin hanya segelintir orang yang punya latar belakang kurang mampu secara ekonomi.

(Foto. Dok Pribadi)

Saat kali pertama bergabung sebagai Beswan Djarum, saya sempat canggung. Saya bertemu orang-orang dari berbagai universitas ternama, dengan keluarga yang jauh lebih mapan. Tapi di lingkungan itu, tidak ada yang merasa lebih tinggi atau rendah. Semua saling menguatkan. Kami diajak mengikuti berbagai pelatihan dari kepemimpinan, kemampuan komunikasi, dan pembentukan karakter.

Saya ingat betul, salah satu pelatih meminta kami berbicara di depan publik. Padahal saya tipe mahasiswa yang malu bertanya di kelas. Tapi di sana saya belajar untuk tidak takut. Saya sadar, semua orang belajar dari nol, tidak ada yang sempurna.

Perlahan, saya berubah. Saya jadi berani tampil, memimpin, dan menyampaikan ide. Nilai-nilai yang ditanamkan di Djarum Beasiswa Plus membuat saya tumbuh sebagai pribadi yang percaya diri. Dari situ pula saya berani menantang diri untuk ikut lomba di Amerika Serikat selama dua bulan untuk mendalami bidang sumber daya perairan.

Kembali ke Desa, Berdampak untuk Warga

Setelah lulus, saya sempat bekerja di salah satu perusahaan migas di Jakarta. Gajinya bagus, kariernya jelas. Ya, idaman orang tua lah.

Di tengah-tengah pekerjaan saya berkesempatan keliling Nusantara, terutama di daerah pedalaman untuk melihat kondisi di sekitar pengeboran minyak. Tapi di sana pula, terkenang wajah-wajah orang yang dulu membantu saya sekolah, para tetangga yang memberi uang saku, dan guru-guru yang percaya kepada diri saya.

Kenyamanan yang saya dapat dari karier itu membuat saya berpikir: Apakah hidup untuk mengejar kenyamanan sendiri? Seperti ada lubang di dalam hati saya. Serasa ada yang kurang.

Akhirnya saya mengambil keputusan besar dalam hidup untuk pulang kampung. Mungkin ini pilihan gila karena saya meninggalkan zona nyaman dan mulai dari nol. Tapi bagi saya, ini bukan tentang jabatan, bukan pula soal gaji besar.

Dari pengalaman kerja keliling Indonesia, saya melihat banyak potensi di daerah yang belum maksimal. Termasuk Waduk Cirata di Cianjur yang banyak ikan air tawar bernama pepetek. Ikan ini sebelumnya dibuang nelayan karena punya bau amis.

(Foto. Dok Pribadi)

Tapi saya berpikir, bisa saja ikan ini terasa enak jika diolah dengan baik. Berbekal ilmu perikanan itulah, saya coba goreng ikan tersebut, memberi bumbu, dan menjual di warung-warung. Tentu saja, awalnya tidak laku.

Karena, ya, predikat amis yang melekat terhadap ikan itu. Apa saya menyerah? Tidak. Saya berupaya memanfaatkan media sosial untuk mengikis stigma ikan ini. Lahirlah, Sipetek sebagai mereknya.

Nama produk yang diingat orang, rasa yang enak, dan kemasan praktis jadi poin plus. Sedikit demi sedikit pembeli bertumbuh. Reseller juga mulai tertarik menjual produk ini, hingga kini tercatat ada 40 mitra yang bekerja sama.

Membangun relasi terhadap mitra adalah realisasi dari Djarum Beasiswa Plus. Saya mempraktekkan tanggung jawab dari keputusan yang diambil. Orang-orang yang terbuka jalannya berkat Sipetek adalah alasan saya ingin terus bergerak maju. Dari kampung kecil di Cianjur saya ingin terus menebar manfaat baik dengan langkah kecil di setiap harinya.

Abdur Arsyad
Foto ilustrasi Abdur Arsyad. CNN Indonesia / Basith Subastian
Perjalanan Abdur Arsyad dari Timur, Cari Angka Ketemu Tawa

Lahir dan tumbuh di timur Indonesia bukan hal mudah, bahkan untuk mengakses hal dasar seperti pendidikan.

Namun, keluarga yang sangat peduli pada pendidikan jadi motor perjuangan saya dalam meniti ilmu.

Saya Abdur Arsyad, saya mungkin lebih dikenal sebagai seorang komika atau komedian. Namun, perjalanan karir saya bermula dari bidang pendidikan.

Ibu saya seorang guru Bahasa Indonesia, sementara ayah saya bekerja di Dinas Pendidikan. Latar belakang orang tua membuat saya cukup dekat dengan dunia pendidikan.

Saya menghabiskan masa kecil hingga remaja di dua kota, Kupang dan tempat kelahiran saya, Larantuka.

Sebagai ibu kota provinsi Nusa Tenggara Timur, saya menganggap Kupang cukup maju di masa itu, meski tidak bisa dibandingkan dengan Pulau Jawa.

Salah satu tempat favorit saya di kota ini adalah perpustakaan daerah, tempat yang tidak bisa saya temukan di Larantuka.

Kebetulan perpustakaan tersebut dekat dengan rumah kakek dan nenek saya di Kupang.

Kondisi ekonomi saat itu tidak memungkinkan saya untuk membeli buku-buku, sehingga perpustakaan menjadi solusi hasrat membaca saya. Terkadang, saya juga meminjam buku beberapa teman.

Dari timur Indonesia ke timur Jawa

Pada 2006, selepas bangku SMA, saya akhirnya meninggalkan Indonesia timur untuk mencari ilmu ke tanah Jawa bagian timur.

Jurusan Pendidikan Matematika di Universitas Muhammadiyah Malang jadi tempat berlabuh saya selama beberapa tahun.

Sebelum memilih tempat berkuliah, kedua orang tua saya menyarankan untuk menjadi guru. Hal ini tentu karena mereka dekat dengan dunia tersebut.

Mereka membebaskan pemilihan jurusan sepenuhnya kepada saya, dan akhirnya saya memilih matematika.

(Foto. Dok Pribadi)

Kenapa matematika? Karena ini jurusan di mana saya memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Saya cukup menonjol pada mata pelajaran ini sejak bangku sekolah dasar.

Terbayang dunia kuliah yang akan berat di perantauan dan jauh dengan keluarga, saya memilih bidang yang paling saya kuasai.

"Kalau ambil jurusan yang saya enggak tahu, terus enggak ada yang nyuruh belajar, malah kacau nanti kuliah," pikir saya.

Sejak masuk kuliah, saya selalu mencari beasiswa untuk tambahan menopang kehidupan di kampus.

Ketika perkuliahan memasuki tahun ketiga, saya bertemu dengan Djarum Beasiswa Plus. Awalnya, informasi tentang beasiswa ini terpampang di papan pengumuman Gedung Student Center.

Bukan hanya Djarum Beasiswa Plus, saya mendaftar beberapa beasiswa lain secara bersamaan. Namun, Djarum Beasiswa Plus yang paling awal melakukan tes dan mengumumkan hasilnya.

Bukan hanya menyuntikkan dana untuk menopang kehidupan perkuliahan, Djarum Beasiswa Plus juga memberikan banyak hal lain.

Bekal uang beasiswa habis di tahun tersebut, tetapi hal-hal lain yang mereka berikan tidak habis sampai sekarang.

Jejaring adalah manfaat yang saya sangat rasakan dari keterlibatan sebagai Beswan Djarum. Mereka membimbing untuk berkomunitas dan berorganisasi, yang membuat kami, alumni-alumninya, terhubung hingga saat ini.

Saya bahkan kini membuat bisnis travel umrah Rih.lab bersama beberapa teman alumni Beswan Djarum.

(Foto. Dok Pribadi)

Selain jejaring, Djarum Beasiswa Plus juga memberi bekal yang sangat berguna untuk karir saya sekarang, yaitu public speaking. Skill yang diasah di kampus untuk mencetak saya menjadi guru dipertajam di sini.

Pertemuan dengan berbagai macam orang, mulai dari peserta hingga pembicara level nasional, membentuk mental saya untuk berbicara dan berargumen di publik.

Empat tahun masa kuliah berlalu, hasrat untuk menuntut ilmu masih menggebu. Saya lantas melanjutkan magister Pendidikan Matematika di Universitas Negeri Malang.

Di sela perkuliahan, saya juga menjadi guru honorer di beberapa sekolah di Kota Malang. Masa S1 membuat saya terbiasa penuh kesibukan, mulai dari organisasi, aktivitas beasiswa, dan beragam kegiatan lainnya. Alhasil, aktivitas perkuliahan dan mengajar yang saya lakoni di masa S2 terasa kurang.

Di sini saya mulai menemukan stand up comedy, yang banyak mengisi waktu malam hari saya. Awalnya, tentu saja saya tidak lucu.

Untuk yang belum familiar, stand up comedy adalah seni pertunjukan di mana seorang pelawak atau komika, membawakan materi lawakan secara monolog di atas panggung.

Waktu luang berubah menjadi ketekunan untuk belajar dan mendalami seni ini. Dalam proses tersebut, saya bergabung dengan komunitas Stand Up Indo Malang.

Komunitas ini yang akhirnya membawa saya ke panggung audisi SUCI, salah satu kompetisi terbesar untuk skena stand up comedy di Indonesia.

Kami beramai-ramai mengikuti audisi tersebut pada 2013, tetapi saya gugur di tahun tersebut. Percobaan kedua berbuah hasil, dan saya mendapat golden ticket untuk berlomba di Jakarta.

Tidak terbayang bahwa tiket ini akan menjadi awal mula lompatan karier saya. Kala itu, saya hanya menganggap stand up comedy sebagai hobi dan kegiatan di sela kuliah.

Dan masa depan versi saya saat itu adalah pulang ke kampung dan mengajar di sana.

Berhasil mendapatkan posisi juara kedua di kompetisi tersebut, berbagai tawaran pekerjaan datang.

Saya tidak menyangka hobi yang sekadar mengisi waktu luang ini ternyata bisa untuk hidup. Jadwal pekerjaan yang padat bahkan membuat S2 saya agak molor, karena harus sering bolak-balik Jakarta-Malang.

Ketika lulus kuliah, saya berbicara dengan ibu dan bapak terkait jalan karier ini. Mereka yang semula mendukung saya menjadi guru, kini mendukung saya di jalan yang baru.

(Foto. Dok Pribadi)

Dua pekerjaan ini memiliki kesamaan, yakni sama-sama memerlukan saya berbicara di depan banyak orang. Bedanya, pekerjaan yang pertama mencari angka-angka, sementara yang kedua mencari tawa.

Selain itu, perbedaannya lainnya adalah skala atau jumlah orang. Di sekolah, pelajaran matematika bersama saya tidak selalu serius, dan terkadang canda terlontar untuk mencairkan suasana.

Membuat anak-anak yang sudah saya kenal tertawa relatif lebih mudah dibandingkan membuat ratusan hingga ribuan orang asing tertawa. Namun, candaan-candaan tersebut jadi salah satu modal saya dalam berkomedi.

Setelah sekitar 10 tahun berkarier sebagai komika, saya menemukan tantangan terbesar di jalan yang saya pilih, yakni tuntutan untuk terus berkarya.

Karya-karya ini yang menjadi nyawa dan menjaga eksistensi di industri, di tengah banyaknya komika baru yang muncul.

Ketika bicara tentang komika, salah satu yang sangat lekat adalah persona. Namun, saya tidak punya hal itu.

Saya cenderung membahas apa yang sedang saya pikirkan dan ada di sekitar saya. Misalnya, special show kedua berjudul Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang membahas guru dan pendidikan, yang dekat dengan hidup saya.

Kemudian, show berikutnya berjudul Black Camping yang membahas politik karena bertepatan dengan pemilu. Lalu, special show terakhir yang berjudul Kontras atau Konten Transportasi yang membahas transportasi umum di Indonesia.

Selain stand up, saya juga menuangkan karya dalam bentuk-bentuk lain, seperti bermain film, menulis skrip, hingga podcast.

Meski saya tidak lagi mendidik dari ruang-ruang kelas, saya harap apa yang saya lakukan sekarang bisa memberikan dampak yang serupa.

Saya juga berharap dunia pendidikan Indonesia bisa lebih baik dan banyak masyarakat negeri ini yang bisa mengecap pendidikan tinggi.

Pendidikan tinggi ini nantinya akan berdampak pada kualitas demokrasi Indonesia. Dengan bermodalkan pendidikan, setiap warga negara bisa memiliki analisa lebih tajam terhadap pilihan politiknya kelak.

"Selama pendidikan kita belum rata, demokrasi kita akan pincang."

Analisa Widyaningrum
Foto ilustrasi Analisa Widyaningrum. CNN Indonesia / Basith Subastian
Impian Analisa Widyaningrum: Psikologi Tak Boleh Berhenti di Ruang Klinik

“Pendidikan adalah jalan hidup.”

Itu adalah perkataan Ibu yang begitu menancap di dalam diri saya.

Saya adalah Analisa Widyaningrum, CEO Analisa Personality Development Center (APDC).

Sejak SD, semangat untuk terus sekolah mendorong saya dari jenjang ke jenjang, hingga akhirnya saya masuk UGM. Terdengar begitu mulus bagi banyak orang-orang.

Lahir dan tumbuh di Jogja, kota kecil yang penuh kehangatan dari orang-orangnya. Dunia kampus membuka cakrawala saya untuk berdikari. Sejak sekolah dasar hingga menengah kebutuhan saya dipenuhi orangtua. Tentu ada keinginan hidup mandiri.

Bukan apa-apa, biaya kuliah terasa begitu mahal dan saya berpikir cara agar tetap bisa melanjutkan studi tanpa menambah beban orangtua. Bersamaan dengan itu, ujian besar dihadapi keluarga saya.

Ayah saya mengambil pensiun dini saat saya masuk semester empat. Situasi keluarga sempat limbung. Bisnis ibu saya terkena masalah, dan uang pensiun ayah harus digunakan untuk menyelesaikan urusan bisnis tersebut. Di titik itu, saya tahu saya harus bergerak lebih cepat. Saya harus menemukan jalan finansial saya sendiri.

Namun kemudian, harapan muncul. Saya melihat poster tentang Djarum Beasiswa Plus.

Di kampus, Beasiswa Djarum Plus dikenal sebagai salah satu program paling bergengsi. Jumlahnya terbatas, seleksinya ketat, dan yang paling menarik adalah beasiswa ini tidak mewajibkan surat keterangan tidak mampu.

Saya merasa itu penting. Karena meski keluarga saya tidak kaya, saya juga bukan dari keluarga yang masuk kategori kurang mampu. Saya berada di kelas menengah yang tanggung. Tidak sulit-sulit amat, tapi juga tidak cukup mapan untuk bisa banyak santai.

Saya mencoba mendaftar, tanpa membawa narasi kesulitan hidup atau terlihat mellow. Saya hanya membawa apa adanya: prestasi, kegiatan, dan keinginan besar untuk mandiri.

Ketika pengumuman keluar, saya masih ingat rasanya. Saya satu-satunya mahasiswa psikologi UGM di angkatan saya yang lolos. Saya melamun cukup lama. Bukan karena merasa paling hebat, tapi justru sebaliknya, karena IPK teman-teman saya jauh lebih tinggi.

(Foto. Dok Pribadi)

Dari situ saya sadar bahwa Beasiswa Djarum Plus tidak hanya mencari nilai. Mereka mencari karakter dan potensi.

Ternyata benar dugaan saya. Begitu masuk ke programnya, saya merasakan langsung perbedaan besar yang ditawarkan Beasiswa Djarum. Kami mendapatkan pelatihan soft skill, leadership development program, public speaking, sampai ikut kompetisi writing.

Dan hal yang paling indah adalah jejaring yang didapatkan. Teman-teman Beswan dari berbagai daerah sampai hari ini masih menjadi bagian dari kehidupan saya. Bahkan ketika saya sekolah lagi ke Inggris, saya bertemu teman satu kamar sesama Beswan. Ikatan itu tidak pernah putus.

Kemudian saat kembali ke Indonesia, ada satu momen yang menentukan arah hidup saya. Mungkin itu yang jadi titik balik saya sebagai public speaker di lingkup psikologi.

Sekali waktu, saya membantu sebuah acara Beswan Djarum di UGM sebagai moderator. Tanpa saya tahu, di samping saya duduk seorang pria yang sangat sederhana. Beliau memperhatikan cara saya memandu acara, dan setelah selesai, beliau berkata:

Kamu bagus. Kamu alumni Beswan, ya?

Saya tidak tahu siapa beliau, sampai akhirnya saya menyadari, itu adalah Pak Primadi Serad, Program Director Djarum Foundation.

Percakapan singkat itu mengubah banyak hal dalam hidup saya.

Beliau menawarkan saya kesempatan menjadi motivator untuk adik-adik Beswan Djarum. Saya yang saat itu masih mahasiswa S2, belum menjadi psikolog resmi, sempat bingung. Tapi saya memegang satu prinsip hidup, yaitu jangan menolak kesempatan yang datang sebelum benar-benar tahu apa yang bisa dilakukan dengan kesempatan itu.

Saya menerima ajakan itu dengan membawa materi tentang kecerdasan emosi di hadapan Pak Prim dalam sebuah acara di Jakarta. Karier public speaking saya sekaligus dimulai di sana. Pak Prim terus mendukung saya untuk terus maju bahkan mengarahkan ikut kelas public speaking profesional.

(Foto. Dok Pribadi)

Berkat bekal itu saya berani membentuk Analisa Personality Development Center, sebuah klinik dan konsultan psikologi di Jogja, tempat kelahiran saya.

Motivasi saya sederhana: saya ingin ilmu saya bermanfaat. Saya ingin psikologi tidak berhenti di ruang klinik. Saya ingin membawanya ke ruang publik, ke perusahaan, ke komunitas, ke orang-orang yang butuh tempat aman untuk bercerita.

Saya membuka kelas pengembangan diri, mendampingi pasien di rumah sakit, hingga akhirnya merambah dunia organisasi dan korporasi. Salah satu alasan saya masuk ke ranah organisasi adalah karena klien saya bekerja di perusahaan besar dan mereka merekomendasikan saya untuk mengisi sesi di tempat kerja mereka.

Dari sana, dampak itu berlipat-lipat.

Hari ini, Personality Development Center milik saya punya tim dengan psikolog-psikolog muda yang belajar membangun diri dan berdampak. Kami membuka program magang agar adik-adik mahasiswa psikologi belajar langsung tentang praktik profesional.

Dan setiap kali ada seseorang datang setelah sesi dan berkata: “Mbak Ana, terima kasih. Saya tadi hampir menyerah, tapi sekarang saya punya alasan untuk bertahan.”

Itu adalah bayaran yang tidak bisa dihitung dengan angka apa pun.

Pesan untuk Beswan Djarum

Jika bicara tentang impian, saya selalu teringat kembali pada impian sepuluh tahun lalu: menjadikan psikologi sebagai kebutuhan publik.

Hari ini, masyarakat Indonesia sudah jauh lebih sadar terhadap isu kesehatan mental dibanding satu dekade lalu. Tapi masih banyak stigma yang bertahan.

Masih ada orang yang menganggap “curhat ke psikolog itu lemah”, atau “laki-laki tidak boleh rapuh”, atau “perempuan harus begini dan begitu”.

(Foto. Dok Pribadi)

Harapan saya sederhana, ingin suatu hari nanti kesehatan mental menjadi topik sehari-hari, bukan sesuatu yang harus disembunyikan.

Saya ingin tetap berada dalam koridor belajar, mengajar, bertumbuh, dan menebar dampak melalui psikologi.

Untuk adik-adik Beswan Djarum, pesan saya hanya satu: nikmati perjalanan hidup.

Karena suatu hari nanti, kita akan merindukan masa-masa itu. Kita akan mengingat masa ketika ditempa, diuji, dan disiapkan.

Beasiswa Djarum Plus ibarat pesawat. Mereka menyediakan mesin, bahan bakar, dan kopilot. Tapi kita adalah pilotnya. Suatu saat, pasti akan ada turbulensi. Kamu mungkin harus turun dari ketinggian sejenak. Tapi jika tetap memegang nilai-nilai sebagai Beswan Djarum, kita akan sampai ke tujuan.

Dan semoga dari Beswan Djarum lahir lebih banyak pemimpin yang membawa manfaat. Karena pada akhirnya, bukan tentang seberapa jauh kita melangkah, tapi seberapa banyak yang merasakan langkah itu.

Cut Carnelia
Foto ilustrasi Cut Carnelia. CNN Indonesia / Basith Subastian
Menembus Batas ala Cut Carnelia, Dari Pengadilan ke Pengadilan

Jika Cut Nyak Dien berjuang melawan penjajahan, saya coba berjuang dengan palu melawan ketidakadilan.

Saya Cut Carnelia, seorang hakim sekaligus Ketua Pengadilan Negeri Kudus.

Tak mudah bagi saya untuk memilih jalur penegakan hukum. Jalannya berliku dan terjal. Namun, sejak kecil saya memang tak mau jadi perempuan biasa-biasa saja.

Kalimat ini adalah mantra-mantra yang saya ucapkan nyaris saban hari sejak saya kecil. Sejak saya bisa memahami makna.

Saya lahir di Aceh, Daerah Istimewa Aceh (DIA), tahun 1979. Saya lahir dari orang tua yang tak kaya, tapi sangat memprioritaskan pendidikan. Bagi orang tua saya, warisan terbaik adalah ilmu.

SD Inpres jadi sekolah pertama saya. Lokasinya di daerah pinggiran dengan kondisi yang terbatas dibanding sekolah di kota-kota. Tapi tak masalah. Saya tetap senang menjalaninya. Setelah lulus, saya lanjut ke SMP Negeri Tualang Cut pada 1990.

Keterbatasan ekonomi tak menyurutkan semangat orang tua saya untuk mendukung penuh pendidikan saya dan ketiga adik. Bahkan, saat menginjak bangku SMA, kami dikirim ke Yogyakarta untuk mendapat pendidikan yang lebih baik.

Sebenarnya setelah lulus SMA, saya cukup bimbang mengambil jurusan apa. Sebagai anak dari latar belakang ekonomi pas-pasan, tentu saya ingin ambil jurusan yang punya peluang kerja luas di masa depan.

Saat itu, saya ingin mengambil prodi Hubungan Internasional. Kuliah di Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Pemerintah terlihat sangat menarik. Tapi, saya ragu dan bingung.

Beruntung, ada sahabat orang tua, yaitu Pak Umar, yang bisa membantu saya memecahkan kebimbangan.

“Ambil fakultas yang bisa masuk ke manapun untuk kamu cari kerja. Kalau HI, ruang untuk kerjamu sempit,” kata Pak Umar saat itu.

“Jadi, saya ambil apa?” tanya saya.

“Kamu ambil Hukum. Karena Hukum itu diperlukan di semua bidang,” ujar Pak Umar lagi.

Beasiswa Plus Djarum, cara Tuhan menjawab impian.

(Foto. Dok Pribadi)

Tahun 1996, saya memilih dua program studi kuliah: Ilmu Hukum dan Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

Lalu, saat pengumuman tiba, ternyata saya mendapatkan jurusan Ilmu Hukum.

Hari-hari kuliah sebenarnya tak semenyenangkan anak-anak lain. Saya harus berhemat, mengatur keuangan, dan menahan diri membeli barang-barang seperti baju atau sepatu, meskipun pada saat itu saya perlu.

Saya masih ingat saya harus menjahit sendiri sepatu yang robek untuk digunakan kembali. Baju dan tas pun hanya yang itu-itu saja, sementara untuk mengisi perut saya memilih nasi kucing, makanan yang memang murah meriah.

Dengan jatah uang bulanan Rp100 ribu, sebagai mahasiswa saya tak pernah neko-neko. Hari-hari saya hanya ke kelas, belajar, tidur dan kembali ke kelas lagi. Saya ingin cepat-cepat lulus agar bisa meringankan beban orang tua dan membantu adik-adik.

Kalaupun ada uang tersisa, saya cuma berharap bisa memenuhi keinginan-keinginan kecil: pergi ke bioskop Cinema 21 dan makan kepiting.

“Saya lelah dengan keterbatasan ini,” pikir saya pada waktu itu.

Di tengah keinginan saya untuk lulus, saya melihat papan pengumuman soal Djarum Beasiswa Plus. Ini tentu kesempatan untuk setidaknya mengatasi keterbatasan saya.

Dan ternyata benar. Tuhan menjawab impian-impian saya: lolos Djarum Beasiswa Plus. Di tahun 1997, beasiswa yang diberikan Rp600 ribu, jumlah yang sangat banyak bagi saya pada waktu itu.

Di masa itu, Djarum Beasiswa Plus masih berbentuk uang saja, dan belum seperti sekarang yang penuh pelatihan, pembekalan, dan mendidik para penerimanya jadi pemimpin. Tapi tentu sangat berharga bagi saya.

Di kemudian hari, sebagai alumni Beswan, Djarum kerap melibatkan saya untuk jadi motivator. Misalnya pada Juni lalu, saya jadi salah satu pembicara di talkshow bertajuk “Mengabdi Lewat profesi: Cerita dan Inspirasi Karier Layanan Publik."

Ajakan-ajakan seperti ini membuat hati senang. Aktivitas itu bagi saya amal jariyah. Berbagi pengalaman, menyebarkan pengetahuan, dan menyemangati orang-orang.

(Foto. Dok Pribadi)

Suatu kali, saya juga menjadi motivator untuk putra-putri karyawan PT Djarum. Saya bilang, bermimpilah setinggi-tingginya dan coba untuk merengkuhnya.

“Penuhi kepala dengan impian, dan jangan sia-siakan waktu selagi muda,” kata saya.

November ini, saya juga senang kembali berbagi dengan teman-teman Beswan Djarum.

Kembali ke cerita perjalanan di bangku kuliah, saya berhasil lulus S1 hanya dalam waktu 3,5 tahun. Tentu Djarum Beasiswa Plus jadi bagian tak terpisahkan. Orang tua haru sekaligus bangga.

Setelah kuliah sebenarnya saya juga ingin buru-buru bekerja. Namun, tak disangka, orang tua ingin saya melanjutkan program magister.

“Sekolah lagi, saya maunya kamu lebih,” kata ibu saat merespons keinginan saya cari uang.

Saya manut kemauan ibu dan saya langsung daftar S2 dengan jurusan Manajemen Keuangan. Tentu sembari bekerja ini-itu.

Saya mengambil jurusan Manajemen Keuangan dengan tujuan sederhana, yaitu jadi ibu rumah tangga sekaligus konsultan keuangan, pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah.

Saya tak kepikiran sedikit pun untuk jadi hakim.

Tantangan jadi hakim

Jalan cerita hidup saya berubah pada suatu titik, tepatnya pada 2000, ketika teman saya, Mas Bambang, memberi tahu ada pembukaan calon hakim di Sleman. Saya tak senang-senang amat, tetapi tetap daftar.

Dan, Tuhan punya rencana lain: Saya lolos. Setelah mengikuti pendidikan dan pelatihan, saya ditempatkan di Pengadilan Negeri Sleman menjadi hakim anggota.

Menjadi bagian penegakan hukum ternyata menyenangkan. Saya lalu dipanggil oleh Direktorat Jenderal Badan Peradilan Umum (Badilum) untuk mengikuti tes fit and proper. Saya lulus dan menjadi wakil di Pengadilan Negeri Langsa, Aceh.

Setelah itu, saya naik jadi Ketua Pengadilan Negeri di Lubuk Sikaping, Sumatera Barat kemudian dimutasi ke PN Kuala Simpang, Daerah Istimewa Aceh menjadi ketua.

Dua kali jadi ketua PN kelas 2, saya kembali dipanggil lagi mengikuti tes fit and proper untuk kelas 1B. Dari Aceh saya berangkat ke Jakarta dengan memasrahkan harapan pada Tuhan.

Tuhan merestui jalan ini. Saya lulus dan ditempatkan di PN Tebing Tinggi Kelas 1B Sumatera Utara. Saya sempat menjadi wakil, setahun kemudian naik jadi ketua PN Tebing Tinggi.

(Foto. Pemkab Kudus)

Hari-hari di PN Tebing Tinggi tak selalu mudah. Bahkan, saya pernah menghadapi massa yang begitu marah. Kejadian itu bermula saat ada kasus di praperadilan yang ditangani hakim anggota PN Tebing Tinggi. Kasus ini berimbas ke demonstrasi massal.

Sebagai KPN, saya tak mungkin memproses permohonan banding praperadilan yang dikabulkan hakim saat itu, sehingga massa berdemonstrasi dan menuntut saya dicopot sebagai KPN Tebing Tinggi. Saya harus menghadapi dengan tegar.

“Saya harus menghadapi. Saya harus bertindak,” pikir saya pada waktu itu.

Saat itu saya akan melaksanakan eksekusi dengan termohon eksekusi merupakan pemerintah Kota Tebing Tinggi. Sebagai bagian dari Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), saya merasa perlu bersosialisasi, bersinergi, dan menjalin hubungan baik serta saling mendukung dengan pemerintah setempat.

Namun, pada waktu itu segalanya berseberangan.

Saya berusaha menjelaskan sesuai ketentuan yang harus ditegakkan dan tupoksi saya sebagai KPN untuk melaksanakan tugas. Namun, apa yang saya lakukan tak bisa memuaskan mereka dan akhirnya saya menuai risiko dibenci hingga diasingkan.

Saya cuma bisa lapang dan menghadapinya dengan keyakinan Allah bersama saya. Saya bersyukur tidak lari sekaligus tidak tenggelam. Masalah itu akhirnya berlalu.

Seiring berjalannya waktu, tugas saya di Tebing Tinggi rampung. Lega bukan main.

Kalau boleh saya gambarkan, “Seperti mengayuh ke lautan, saya akhirnya sampai ke tepi. Tidak berbalik. Tidak tenggelam.”

Pengalaman ini mengajarkan saya makna kepemimpinan. Bagi saya, pemimpin adalah contoh, teladan, dan tanggung jawab.

Beres di Tebing Tinggi, saya sekarang di sini: Pengadilan Negeri Kudus sebagai ketua.

Di usia saat ini, saya hanya mengikuti arus, terserah Tuhan Yang Maha Kuasa. Jika Dia menghendaki saya melangkah lebih jauh, maka akan saya tempuh. Tapi jika tidak, saya sudah merasa sangat cukup dengan yang sudah dilalui selama ini.

Saya tak lagi banyak harapan untuk diri sendiri karena Allah sudah memberi banyak kenikmatan. Tapi, saya punya harapan besar ke generasi muda di negara ini.

"Jangan jadi perempuan yang biasa-biasa saja," ini yang terus saya ucapkan kepada generasi muda di setiap kesempatan.

Negara akan maju jika orang berpikiran maju.

Indra Rudiansyah
Foto ilustrasi Indra Rudiansyah. CNN Indonesia / Basith Subastian
AstraZeneca Hingga mRNA, Perjalanan Membawa Imunitas ke Publik

Pandemi COVID-19 mengguncang seluruh penjuru dunia dan memicu kepanikan.

Kepanikan mereda saat vaksin-vaksin mulai lahir, membawa imunitas untuk publik.

Saya Indra Rudiansyah, peneliti vaksin di Biofarma yang saat ini tengah mengembangkan vaksin mRNA.

Saya memang tertarik dengan sains, tapi tak pernah terpikirkan untuk terjun ke dunia mikrobiologi. Saat kecil, biologi bagi saya hanya salah satu bagian pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang diajarkan di sekolah.

Kedekatan saya dengan biologi dimulai saat kelas 1 SMA. Kala itu, Biofarma mengadakan kompetisi sekaligus mengundang siswa-siswi SMA di Bandung untuk belajar tentang vaksin.

Perkenalan tersebut memicu rasa penasaran yang membuat saya menelusuri lebih dalam bidang ini.

Masa SMA berlalu, waktunya memilih kampus. Dua jurusan jadi target saya di Institut Teknologi Bandung (ITB), perminyakan dan mikrobiologi.

Mungkin memang jodohnya dengan vaksin, saya tidak masuk Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM), tapi berlabuh di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH).

Masih ingin dekat dengan sumber daya mineral, gas, dan minyak bumi, saya mengambil sub ilmu mikrobiologi yang dekat dengan material tersebut. Salah satu penelitian yang saya lakukan adalah mengubah batu bara menjadi gas metan dengan bantuan mikroba.

Fokus pada bidang ini berlanjut hingga magister. Saya mengambil program fast track dan melanjutkan di prodi Bioteknologi. Di sini, fokus penelitian saya adalah mencari cara untuk meng-enhance oil recovery dengan bantuan mikroba.

Banyak hal yang saya temui selama 5 tahun berkampus di Ganesha. Di antara berbagai macam cerita dunia perkuliahan, saya bertemu dengan Djarum Beasiswa Plus.

Saya terbilang beruntung kala itu. Setelah absen dari ITB selama beberapa tahun, beasiswa ini kembali dan saya menjadi salah satu pendaftar.

(Foto. Dok Pribadi)

Periode pembukaan pendaftaran sedikit terlambat dan membuat timeline penerimaan cukup rapat. Alhasil, kurasi awal sedikit longgar dan pemilik IPK lebih dari 3 boleh mendaftar.

Tak terlalu banyak yang mendaftar kala itu, mungkin hanya 15-20 orang. Dari jumlah tersebut, 12 orang akhirnya menjadi Beswan Djarum, termasuk saya.

Manfaat utama beasiswa tentu saja dukungan finansial untuk perkuliahan. Namun, banyak hal lain yang saya dapat di sini, yang memberikan dampak jangka panjang untuk hidup saya.

Saya terlibat di hampir semua kegiatan yang diadakan Djarum Beasiswa Plus, mulai dari National Building hingga National Debate dan Writing Competition.

National Building, kegiatan yang pertama saya ikuti, menjadi salah satu kegiatan yang paling berkesan. Di sini, saya bertemu dengan para Beswan Djarum dari berbagai sudut Tanah Air.

Jejaring yang terbangun dari kegiatan tersebut bahkan berlanjut hingga hari ini, setelah kami lulus dari kampus dan berkarier di bidangnya masing-masing.

Kegiatan-kegiatan sebagai Beswan Djarum juga turut membentuk pemahaman saya soal leadership. Leadership di mata saya bukan soal jabatan atau posisi, tetapi soal kemampuan. Kemampuan seseorang memberikan arahan, petunjuk, untuk mencapai tujuan bersama.

Seorang pemimpin bisa jadi tidak memiliki leadership yang baik, dan seorang anggota bisa saja memiliki kemampuan leadership yang lebih baik.

Lebih dekat dengan vaksin

Awal karier saya dimulai saat jelang merampungkan S2, ketika saya mencoba melamar pekerjaan ke beberapa tempat.

Seperti saat memilih jurusan kuliah, dua opsi berdiri di hadapan saya, perusahaan minyak sawit dan tempat saya bekerja sekarang: Biofarma.

Keduanya menerima dan mau menunggu saya lulus, tetapi akhirnya pilihan jatuh ke Biofarma. Lokasinya yang berada di Bandung jadi salah satu alasan yang mendorong saya.

Di Biofarma, saya banyak berkutat dengan vaksin. Meski tidak sepenuhnya asing, dunia vaksin benar-benar baru dan membuat saya perlu belajar dari nol, mulai dari sel kultur, cara bekerja dengan virus, hingga biosafety.

Tak terasa 4 tahun berlalu, kini saya paham bagaimana cara meneliti hingga memproduksi vaksin. Rasa penasaran pada vaksin kemudian membawa saya mengambil program doktor Clinical Medicine di Oxford University.

Ketersediaan teknologi yang advance di Oxford membakar semangat saya dalam meneliti.

Di sini, saya juga kerap melakukan riset mandiri untuk mencari dan mengembangkan vaksin. Riset berbeda dari yang saya lakukan di Biofarma, di mana sebagian besar riset dilakukan untuk manufaktur atau produksi.

Di pertengahan masa kuliah, pandemi COVID-19 melanda dunia. Kebutuhan vaksin menjadi sangat mendesak.

Laboratorium tempat saya melakukan riset memiliki teknologi viral vector yang bisa digunakan untuk mengembangkan vaksin apa pun. Grup riset ini memang memiliki fokus mengembangkan vaksin untuk penyakit yang berpotensi menjadi wabah, seperti SARS-CoV-2, Malaria, hingga Ebola.

Saat dunia mengalami pandemi COVID-19, penelitian vaksin dieskalasi. Kebutuhan SDM untuk penelitian membawa saya terlibat dalam pengembangan vaksin AstraZeneca.

Bukan hanya saya, ada peneliti Indonesia lain dalam proyek vaksin ini, yaitu Carina Joe.

(Foto. Dok Pribadi)

Kami berkontribusi di jalur yang berbeda, tim saya bekerja mengembangkan vaksin untuk melihat efektivitas vaksin pada hewan dan manusia hingga melakukan uji klinis. Sementara tim Carina fokus pada proses manufaktur atau produksi skala besar agar vaksin ini bisa didistribusikan secara global dan menekan pandemi.

Di tim vaksin AstraZeneca, saya terlibat di bagian uji klinis. Sebelum didistribusikan ke publik, vaksin ini perlu diuji terlebih dulu, apakah menghasilkan antibodi yang diharapkan atau tidak, serta melihat efek-efek lain yang mungkin terjadi.

Perang melawan penyakit baru menjadi tantangan besar untuk tim. Pengetahuan yang terbatas membuat kami meraba-raba ke mana perlu melangkah.

Upaya kolektif untuk menguak misteri-misteri virus ini menjadi keharusan, mulai dari bagaimana proses infeksi, hingga cara memblok virus untuk masuk ke tubuh.

Waktu juga seakan memburu kami. Pandemi yang kian meluas membuat kami perlu segera menghasilkan vaksin COVID-19.

"Semakin lama kita penelitiannya, semakin banyak jumlah korban COVID-19," pikir kami saat itu.

Ketika pandemi usai, begitu pula kuliah saya di Inggris. Saya pulang ke Bandung dan kembali berkarier di Biofarma.

Kini saya tengah fokus mengembangkan platform vaksin mRNA. Dikarenakan sifatnya sebagai platform, mRNA bisa digunakan untuk berbagai penyakit, mulai dari COVID-19, Ebola, MERS, hingga Malaria.

Saat ini pengembangan tengah berada di fase capacity building, mencakup persiapan SDM, persiapan teknologi proses, hingga persiapan infrastruktur untuk produksi, studi fase 1 dan 2, serta uji klinis untuk komersial.

Proses ini untuk memastikan vaksin tak hanya bisa diproduksi dalam skala lab, tetapi juga skala komersial. Vaksin COVID-19 menjadi model kami dalam pengembangan ini. Kami juga menyiapkan strategi untuk menghadapi potensi pandemi dari sejumlah penyakit.

Di fase awal, calon-calon vaksin ini diharapkan bisa lolos hingga uji klinis di mana objektifnya adalah aman. Setelah dinyatakan aman, pengembangan fase-fase berikutnya akan lebih singkat jika (amit-amit) ada pandemi lagi.

Pola ini adalah langkah mitigasi yang lahir dari pengalaman pandemi COVID-19. Jika kemarin pengembangan vaksin COVID-19 perlu waktu hingga satu tahun, pola ini memungkinkan pengembangan vaksin dalam waktu hanya 100 hari.

Ketika tidak ada pandemi, fasilitas-fasilitas pengembangan vaksin digunakan untuk produk komersial.

Kami sendiri menargetkan vaksin mRNA bisa masuk tahap manufaktur pada 2027. Semoga tidak mundur.

(Foto. Dok Pribadi)
Tantangan industri

Menjadi peneliti vaksin bukan hanya soal keilmuan, tetapi juga ekosistem. Saya melihat industri kimia, yang erat dengan vaksin, masih sangat bergantung pada material impor.

Beberapa material seperti garam, gula, hingga media masih mengandalkan impor. Kalau garam dapur kita bisa produksi banyak karena laut yang luas. Namun, grade yang dibutuhkan untuk garam industri berbeda.

Masalah rantai pasokan ini bisa jadi masalah ketika situasi mendesak seperti pandemi. Impor yang memerlukan waktu bisa menunda proses-proses yang diupayakan.

Saya harap bisa ada akses spesial ketika ada kondisi semacam ini, atau mungkin produksi lokal bisa diperkuat.

Jika membangun sendiri terasa sulit, mungkin membawa pemain besar ke Tanah Air bisa jadi solusi. Mereka masuk sendiri atau lewat joint venture dengan perusahaan lokal, yang mana saja demi perkembangan industri riset Tanah Air.

Saya berharap riset-riset yang dilakukan para peneliti di Indonesia tak hanya berakhir menjadi paper akademik, tetapi bisa menjadi produk yang berdampak. Hal serupa yang telah dilakukan Agency for Science, Technology and Research (A STAR), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) versi Singapura.

Riset akademik di Indonesia saat ini mungkin cukup terbatas dari sisi pendanaan di BRIN, LPDP, dan beberapa lembaga. Syarat yang diberikan juga cukup banyak.

Di sisi ini, saya berharap bisa ada dukungan pendanaan-pendanaan dengan syarat yang tidak terlalu ketat. Misalnya, semacam seed funding yang hadir sebagai katalis.

Pendanaan semacam itu nantinya bisa jadi modal peneliti-peneliti di universitas untuk membuat produk purwarupa. Kehadiran produk awal bisa digunakan sebagai modal mencari pendanaan yang lebih besar.

Karier sebagai peneliti di Indonesia mungkin dipandang skeptis oleh publik. Sejumlah keterbatasan mengamini pandangan skeptis tersebut.

Namun, di balik itu banyak peluang yang ada. Dalam kasus saya, belum banyak peneliti dengan kepakaran di bidang vaksin.

Sebagai perbandingan, Inggris memiliki sumber daya yang baik untuk riset, dan memiliki banyak lulusan PhD. Suplai berlebih ini membuat profesi akademik malah underpaid dibandingkan dengan profesional lain.

Suplai peneliti yang belum banyak di Indonesia membuat kesempatan menjadi sosok peneliti penting di bidangnya terbuka lebar.

Pesan saya, kalau teman-teman sains yang memang bidangnya emerging sekarang pulang ke Indonesia, mungkin bisa jadi teman-teman akan jadi salah satu yang prominent di bidangnya di Indonesia.

Mala Ekayanti
Foto ilustrasi Mala Ekayanti. CNN Indonesia / Basith Subastian
Mala Ekayanti: Pencarian Jati Diri ‘Si Ikan Kecil’ di Kolam Besar

Saat saya menoleh ke belakang, rasanya perjalanan hidup ini seperti potongan mozaik: sederhana, penuh perjuangan, tapi menyatu dengan indah.

Saat ini saya adalah Regional HR di BASF Agricultural Solutions Asia Pacific dan baru saja menyelesaikan periode kepengurusan pertama Ikatan Alumni Djarum Beasiswa Plus sebagai Koordinator Divisi Profesional dan Pendidikan.

Saya berasal dari keluarga sederhana, tapi dari kesederhanaan itulah saya belajar arti kerja keras, semangat pantang menyerah, dan keyakinan bahwa mimpi apapun pantas diperjuangkan.

Banyak orang tidak percaya latar belakang keluarga saya yang bersahaja, tapi nyatanya kedua orangtua saya memang tidak sempat menikmati pendidikan tinggi. Bisa jadi, hal ini juga yang membuat mereka selalu memprioritaskan pendidikan anak-anaknya. Sejak kecil saya didorong untuk berani bermimpi. Papa dan Mama selalu bilang: "Jangan takut jadi ikan kecil di kolam besar."

Kalimat itu sederhana, tapi saya pegang terus sampai hari ini.

Sebagai sulung dari tiga bersaudara, saya menjadi harapan keluarga. Saya berusaha menjadi contoh untuk adik-adik saya. Sadar langkah kaki saya akan membuka jalan bagi mereka, saya terus maju.

Saat lulus SMP, saya bertekad ingin masuk SMA unggulan di provinsi saya: Santa Ursula. Saya mengerti biayanya tidak murah dan lokasinya cukup jauh dari rumah, tapi saya sangat ingin bersekolah di sana. Jadi saya tetap memberanikan diri ikut tes dan diterima.

Gempita diterima di sekolah impian harus berhadapan dengan realita pahit: Papa mengalami PHK. Ragu melingkupi, tapi kami beruntung karena pihak sekolah tetap memberikan saya kesempatan bersekolah meski memiliki keterbatasan finansial. Saya naik angkutan umum ke sekolah – yang artinya harus menunggu bus sejak pukul 05.00 setiap paginya!

Selesai dengan urusan finansial, saya berhadapan dengan beratnya keseharian sekolah. Teman-teman saya adalah murid terbaik yang disaring sekolah melalui tes ketat. Mereka begitu rajin, pandai, dan disiplin. Kalau boleh jujur, saya berjuang mati-matian untuk bisa naik kelas. Dari situ, saya sadar, saya harus bekerja keras karena benar-benar jadi 'Ikan kecil di kolam yang besar.'

(Foto. Dok Pribadi)

Saat naik ke kelas tiga, saya memilih jurusan bahasa – pilihan yang sering kali dipandang sebelah mata. Kata hati membawa saya ke sana, demi kecintaan saya pada sastra dan budaya. Langkah yang terdengar sentimentil ini kemudian terbentur kenyataan karena ujian masuk perguruan tinggi tidak memperhitungkan murid jurusan bahasa. Untuk mengejar ketinggalan, saya belajar mandiri beberapa mata pelajaran.

Meski menghadapi berbagai tantangan, kedua orangtua saya tidak ingin anaknya menyerah. Mereka ingin anak-anak mereka menggapai gelar sarjana yang tidak pernah mereka miliki. Papa dan Mama dengan jujur mengatakan bahwa mereka hanya mampu membiayai kuliah di kampus negeri. Saat Universitas Gadjah Mada (UGM) membuka Ujian Masuk, saya mencoba ikut tes dan saya diterima.

Kuliah di Yogyakarta dirasa memberatkan karena keluarga tinggal di Jakarta. Mama kemudian meminta saya untuk kuliah di dekat Jakarta saja supaya tidak perlu indekos. Universitas Indonesia (UI) jadi target berikutnya. Saya kembali ikut tes, kali ini Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Setelah diterima di UI, saya mengundurkan diri dari UGM.

Pertemuan yang Mengubah Hidup: Djarum Beasiswa Plus

Prinsip saya semasa kuliah masih sama, yaitu menyelaraskan kebutuhan kuliah dengan ekonomi keluarga. Sebisa mungkin, ongkos ke kampus saya irit-irit dengan naik bus umum, bus kampus, atau kadang jalan kaki.

Suatu hari di semester empat, saya melihat pengumuman seleksi beasiswa di papan mading kampus: Djarum Beasiswa Plus. Waktu itu namanya masih Beasiswa Djarum. Saya tidak tahu banyak tentang program itu, tapi pikiran pendek saya berbisik bahwa beasiswa berarti uang saku tambahan. Alasan itu yang membuat saya berani mendaftar tanpa ekspektasi tinggi.

Nyatanya, dari keputusan sederhana itu, pada tahun 2005 saya diterima sebagai ‘Beswan Djarum’ – cara penggagas beasiswa ini Bapak Suwarno M. Serad menyebut kami para penerima beasiswa. Wawasan saya justru kian terbuka karena ternyata beasiswa ini bukan sekadar memberi uang, tapi juga membentuk pola pikir saya.

Pembekalan dalam bentuk pelatihan kepemimpinan, pelatihan outbound, kompetisi menulis, hingga program pemberdayaan masyarakat mengasah saya untuk lebih percaya diri dalam berpikir dan bertutur. Saya jadi berani menghadapi ketakutan-ketakutan saya.

Di pelatihan outbound, saya yang takut ketinggian ini belajar turun dari tebing dengan rappelling. Saya yang tadinya takut kegelapan, kemudian berani berjalan sendiri di hutan pada malam hari.

Ternyata saya bisa.

(Foto. Dok Pribadi)

Tanpa sadar, growth mindset terbentuk dalam diri saya. Melalui Djarum Beasiswa Plus, saya belajar bahwa kemampuan manusia bisa berkembang asal mau berusaha. Saya yang tidak bisa menulis dan presentasi ternyata menjadi finalis kompetisi menulis.

Saat Malam Dharma Puruhita di mana Beswan Djarum dikukuhkan, Papa dan Mama menonton dari layar kaca. "Itu Mala!" kata mereka menirukan momen itu. Tangis haru orang tua membuktikan bahwa perjuangan saya tidak sia-sia. Menjadi bagian dari keluarga Beswan Djarum adalah paduan dari kebanggaan dan rasa syukur.

Tak berhenti di situ, pengalaman menjadi Beswan Djarum yang begitu berharga ternyata menginspirasi adik saya untuk mengikuti langkah saya. Saya mendukung.

Saat seleksi, saya bilang ke adik saya untuk tidak bilang-bilang saya kakaknya. Saya ingin dia berusaha sendiri dan bangga dengan hasilnya nanti. Ternyata dia diterima! Salah satu bukti nyata bahwa basis seleksi Beswan Djarum adalah meritokrasi.

Growth Mindset Tempaan Beswan Djarum yang Membentuk Karier

Saya kuliah di jurusan komunikasi. Setelah lulus pun, karier saya tidak jauh dari dunia komunikasi. Sekilas terlihat mudah dan alami, tapi sebetulnya saya berhadapan dengan banyak ketakutan saat memulai karier: menulis, berbicara, serta bekerja bersama kolega dengan latar belakang beragam.

Bahasa Inggris adalah salah satu tantangan besar saat itu. Meski kebanyakan buku yang digunakan saat kuliah berbahasa Inggris, saya jarang menggunakan Bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari. Akibatnya, saya kurang percaya diri, sementara pekerjaan pertama saya menuntut saya berbicara Bahasa Inggris dengan rekan-rekan kerja yang tidak bisa berbahasa Indonesia.

Untungnya, selama menjadi Beswan Djarum saya selalu berhadapan dengan tantangan, baik dalam pelatihan, kompetisi, maupun kesempatan pemberdayaan masyarakat yang ditawarkan. Saya merasa layaknya batu permata kasar yang diproses dan dipoles hingga jadi berkilau.

Berkat proses tersebut, alih-alih kabur, saya memaknai tantangan yang saya hadapi di dunia kerja sebagai kesempatan bertumbuh. Carol Dweck dalam buku Mindset menyebut prinsip ini sebagai 'menyambut tantangan' – salah satu ciri orang-orang yang mengembangkan growth mindset, yang baru saya pelajari bertahun-tahun kemudian.

Sama seperti saat menaklukkan rasa takut di hutan malam, di dunia kerja saya juga belajar menaklukkan ketidaknyamanan. Saat itu saya memaksa diri menggunakan Bahasa Inggris dalam berbagai kesempatan, mulai dari menulis catatan, membaca berita, hingga percakapan sehari-hari. Betapa terkejutnya saya ketika Adam Grant dalam buku Hidden Potential menempatkan keberanian menghadapi ketidaknyamanan sebagai kunci untuk mewujudkan potensi terbaik kita.

Menjadi Beswan Djarum juga berarti mengasah kegigihan. Dengan modal kegigihan yang terasah, saya jadi berani meninggalkan kenyamanan gaji bulanan demi mewujudkan mimpi melanjutkan studi master ke luar negeri. Dengan daya juang yang teruji, saya jadi yakin mengambil langkah ekstrem pindah karier ke bidang berbeda dan dengan ruang lingkup yang lebih luas demi bertumbuh secara profesional.

(Foto. Dok Pribadi)

Setelah semua itu terjadi, barulah saya membaca buku Grit karya psikolog Angela Duckworth yang menyebut kalau kegigihan merupakan prediktor kesuksesan yang lebih baik dibandingkan bakat atau intelegensia. Saya tersadar kalau kegigihan yang diasah selama menjadi Beswan Djarum menjadi bekal yang manfaatnya terus mengalir bahkan saat saya tidak lagi menerima beasiswa.

Kini saya bekerja bersama kolega yang berasal dari berbagai negara di seluruh dunia. Sebagai profesional di level regional, dalam rapat virtual saya selalu bertemu rekan-rekan dari berbagai benua – semuanya dengan latar belakang budaya, bahasa ibu, dan zona waktu berbeda yang menuntut saya untuk adaptif dan terus belajar.

Perenungan singkat ini membawa saya kepada kesadaran bahwa jauh sebelum para ahli menulis buku-buku tentang pengembangan diri, Djarum Foundation telah membekali Beswan Djarum dengan keterampilan-keterampilan masa depan.

Bekal Beswan Djarum yang Tak Lekang

Djarum Beasiswa Plus tidak semata-mata soal uang saku. Jika dikalkukasi, nilai non-finansial yang saya dapat jauh melebihi nilai uang beasiswa dan biaya pelatihan yang saya hadiri. Saya justru lebih banyak ditempa menjadi pribadi yang tangguh, berani, dan bertanggung jawab melalui berbagai kegiatan dalam program beasiswa ini.

Menjadi Beswan Djarum juga berarti akses terhadap jaringan alumni yang luar biasa. Kami saling bantu dan dukung selayaknya keluarga besar. Saya dan rekan alumni selalu berkelakar bahwa seseorang tidak pernah betul-betul selesai menjadi Beswan Djarum karena sekali jadi Beswan Djarum, seumur hidup jadi Beswan Djarum. Bertukar pikiran dengan alumni yang usianya terpaut belasan tahun pun menjadi hal lumrah.

Dunia banyak berubah, tapi saya yakin nilai-nilai yang diusung dalam program ini tetap relevan dan tak lekang oleh waktu. Hidup yang serba cepat seiring dengan perkembangan teknologi dan kehadiran kecerdasan artifisial yang revolusioner justru membutuhkan sentuhan manusia, terutama dari keberanian, empati, dan welas asih.

Saya berharap generasi Beswan Djarum selanjutnya terus dibekali dengan keterampilan-keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan zaman dan tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan. Saya rasa, inilah hakikat beasiswa yang sesungguhnya: tidak hanya memberikan dukungan finansial, tapi juga menyediakan ruang tumbuh bagi seluruh penerima manfaatnya.

Evolusi Djarum Beasiswa Plus, termasuk bagaimana jumlah universitas meningkat dan provinsi penerima beasiswa semakin merata, adalah hal membahagiakan yang saya saksikan dari tahun ke tahun. Semoga Djarum Foundation terus melanjutkan program ini dengan membuka kesempatan seluas-luasnya kepada mahasiswa-mahasiswi terbaik dari seluruh Indonesia, terutama mereka yang di pelosok.

Saat ini mungkin mereka juga merasa seperti ikan kecil di kolam yang besar. Tapi, sama seperti salmon kecil yang terus berenang dari sungai tempatnya menetas hingga mencapai laut, ikan lain pun harus terus berenang hingga menemukan samudera yang jadi impiannya.

Prof Ismunandar
Foto ilustrasi Prof Ismunandar. CNN Indonesia / Basith Subastian
Dari Sains ke Humaniora, Jalan Ismunandar Bawa Budaya RI ke Dunia

Memelihara kebudayaan sama dengan memberi nafas kehidupan. Dan dunia punya organisasi yang salah satu fokusnya kebudayaan: UNESCO.

Saya lulusan Kimia, tapi jalan yang saya lalui mendekatkan saya ke kerja-kerja isu kebudayaan. Dari sains ke humaniora.

Lahir di daerah tak jadi masalah bagi saya untuk meraih mimpi tinggi. Saya lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada 1970. Saat Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS-serupa ujian nasional) SMA, nilai pelajaran Kimia saya 9, tertinggi dibanding mata pelajaran lain.

Faktor nilai itu pula yang membuat saya mengambil jurusan Kimia di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1988. Untuk menghemat biaya, saya tinggal bersama kerabat di Bandung.

Selama kuliah, saya juga berusaha agar bebas uang semester caranya dengan mencari beasiswa prestasi.

Beruntungnya di tahun kedua, saya dapat Djarum Beasiswa Plus.

"Senang betul. Ini bisa membantu atau meringankan orang tua untuk membiayai sekolah," pikir saya pada waktu itu.

Uang beasiswa itu juga bisa saya pakai untuk menopang kehidupan sehari-hari seperti biaya transport, uang saku, dan penunjang kuliah lain termasuk pembelian buku.

Pada waktu itu belum ada pembekalan dari Djarum bagi para penerima beasiswa. Namun, saya melihat Djarum salah satu perusahaan yang mendukung kegiatan penting seperti pendidikan hingga olahraga.

Partisipasi publik mereka begitu nyata dan begitu banyak kemaslahatan yang didapat masyarakat Indonesia.

(Foto. UNESCO) Fabrice Gentile

Setelah lulus saya langsung ditawari mengajar di ITB. Pada waktu itu, jebolan strata satu diizinkan mengajar di kampus.

Kecintaan saya terhadap kimia rupanya tak berhenti di sana. Saya melanjutkan studi magister, namun langsung ke program PhD, di School of Chemistry University of Sydney pada 1994-1998. Setelah pulang ke Indonesia, saya kembali mengajar.

Sekitar 2010-an, rektor ITB kerap menugasi saya menjadi direktur salah satu pusat training guru organisasi Menteri Pendidikan Asia Tenggara (SouthEast Asia Minister of Education Organisation/SEAMEO).

Saya menjadi direktur di salah satu pusat SEAMEO di Bandung sembari tetap mengajar di ITB, 2010-2014.

Lalu pada 2014, saya ikut rekrutmen atase pendidikan dan lolos. Waktu itu saya mendapat mandat dari Menteri Pendidikan Mohammad Nuh bertugas di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura.

Baru setengah jalan dan saat itu juga ada pergantian menteri pendidikan, saya dipindah tugas ke Amerika Serikat. Tahun 2018, saya kembali ke Indonesia dan mengajar kimia di kampus ITB.

Beberapa bulan setelah itu, saya diangkat jadi Direktur Jenderal di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemenristekdikti). Setelah selesai, saya lanjut sebagai eselon satu di Kementerian Riset Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Beres dari BRIN, saya kemudian dipercaya menjadi Duta Besar RI untuk UNESCO pada 2021. Dari kimia ke urusan kebudayaan, karena memang Indonesia banyak fokus dalam kebudayaan di forum UNESCO, walaupun pilar pendidikan, sains dan komunikasi informasi yang juga tetap menjadi perhatian penting juga.

(Foto. UNESCO)

Pada masa tugas saya di UNESCO, AS kembali bergabung ke UNESCO pada 2023 di bawah pimpinan Presiden Joe Biden. Namun, mereka kembali angkat kaki usai Trump menang pemilu dan melenggang lagi ke Gedung Putih pada Januari lalu. Di UNESCO ketidakhadiran AS berarti kehilangan iuran anggota yang besarnya sekitar 20% anggaran belanjanya.

Pada masa tugas saya, Indonesia tetap mengarusutamakan dan memperjuangkan kebudayaan-kebudayaan negara ini supaya diakui dunia.

Kerja-kerja mendaftarkan kebudayaan perlu upaya panjang mulai dari mencatat, mendokumentasikan, merencanakan upaya melestarikan budaya, hingga diproklamasikan ke dunia.

Pengakuan UNESCO terhadap warisan budaya dari suatu negara tak dilihat dari kepemilikan atau paten, melainkan di mana budaya itu hidup, sebagaimana dalam perjanjian internasional konvensi UNESCO. Indonesia turut meratifikasi konvensi ini.

Misalnya Kebaya, sejak dulu warga rumpun Melayu kerap mengenakan pakaian jenis ini. Seiring berjalannya waktu dan wilayah-wilayah menjadi beberapa negara, kebaya ini tetap ada dan dipakai warga di Indonesia, Malaysia, Brunei, Thailand, dan Singapura.

Begitulah, kebaya hidup di tanah-tanah itu. Awalnya sulit sekali memberi pemahaman kepada khalayak bahwa budaya yang tercatat UNESCO bukan berarti pengakuan asal-usul atau hak paten. Namun, berkat kerja sama berbagai lembaga dan kementerian, edukasi itu bisa dilakukan.

Dan, saya bersyukur akhirnya bisa mendaftarkan kebaya sebagai kebudayaan bersama di UNESCO dan menjadi keputusan mayoritas serta akhirnya menjadi kebanggaan.

Di luar itu, selama bertugas di UNESCO saya juga bersyukur bisa turut berkontribusi mendaftarkan berbagai warisan budaya tak benda Indonesia seperti jamu, gamelan, Reog Ponorogo, dan Kolintang.

Tak cuma itu, saya juga senang lebih banyak geopark di Indonesia yang terdaftar dalam UNESCO saat saya bertugas di perwakilan RI di sana. Beberapa di antaranya Geopark Ijen, Geopark Maros Pangkep, Geopark Merangin, dan Geopark Raja Ampat.

(Foto. Dok Pribadi)

Rampung di UNESCO, saya masih berkutat dengan kebudayaan. Saya diminta menjadi staf ahli Menteri Kebudayaan Bapak Fadli Zon sejak Desember 2024.

Tugasnya masih linear dari pekerjaan sebelumnya. Saya diminta menunjukkan ke dunia, khususnya UNESCO, megadiversity kebudayaan kita, dalam rangka memajukan kebudayaan Indonesia.

Saat ini, saya fokus melakukan kerja-kerja strategis agar budaya kita lebih banyak tercatat di UNESCO. Misalnya hal yang saya bersama rekan-rekan di Kementerian usahakan adalah sebagai negara mayoritas Muslim, Indonesia masih minim kebudayaan terkait Islam yang tercatat di badan PBB ini. Juga hal-hal strategis lain.

Saat Ramadan misalnya, banyak tradisi atau kebudayaan terkait puasa dan buka puasa yang hidup dinamis di tengah masyarakat seperti makanan lemang dari Sumatra Barat dan berbagai makanan tradisional yang muncul lebih banyak ketika bulan puasa., rampag bedug di Banten dan berbagai tradisi meramaikan bulan puasa. Ini potensial disambungkan (diekstensikan) dengan budaya iftar yang telah diinskripsikan negara-negara Timur Tengah.

Memaksimalkan AI untuk pendidikan

Selain kerja-kerja mencatat dan mengenalkan budaya Indonesia, saya dan teman-teman mengkampanyekan gerakan penggunaan kecerdasan buatan dengan aman, melalui kegiatan Day of AI Indonesia.

Kita mengadopsi apa yang sudah dibuat Massachusetts Institute of Technology (MIT), yakni penyediaan bahan pembelajaran yang open source. Bahan ini kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Pengajar atau para orang tua bisa menggunakan sumber belajar itu untuk lebih mengenal penggunaan AI dengan aman.

“Ini adalah alat yang penting banyak dijumpai dalam keseharian. Minimal orang tahu alat itu apa gunanya, bagaimana memanfaatkan dengan etis dan bertanggung jawab,” inilah bagian utama kampanye itu.

Di luar itu, sebegitu dekatnya AI dengan kehidupan sehari-hari, pemerintah perlu membuat minimal panduan supaya penggunaan teknologi ini lebih aman dan memanusiakan.

AI punya potensi besar dan kita harus bisa memanfaatkan sebaik-baiknya, semaksimal-maksimalnya untuk hal-hal yang baik.

Tito Kadafi
Foto ilustrasi Tito Kadafi. CNN Indonesia / Basith Subastian
Tito Kadafi, Menanam Toleransi lewat Literasi

Sebagai anak yang tumbuh di ruang aman, penuh kasih sayang, dan menghargai perbedaan, saya selalu memegang prinsip tidak merundung orang lain adalah bare minimum menjalani hidup.

Saya adalah Tito Tri Kadafi, pendiri Bastra ID (Buat Angkasa Raya Bahagia dengan Bahasa dan Sastra Indonesia), suatu gerakan perdamaian dan toleransi yang di dalamnya mencakup nilai-nilai anti-bullying.

Bagi saya pribadi, membaca berita soal bullying selalu membuat resah.

Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga membuat saya terhenyak. Sepanjang tahun ini, 25 anak-anak mengakhiri hidup diduga karena mengalami perundungan.

“Kami sangat prihatin jika terjadi lagi anak mengakhiri hidup disebabkan bullying, dan sebagian terjadi di sekolah,” kata salah satu anggota KPAI dalam berita yang saya baca.

Keresahan inilah yang mendorong saya untuk mendirikan Bastra ID, tepatnya pada 2018. Saat itu, saya baru mulai kuliah jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Bastra ID didirikan untuk meningkatkan kapasitas, keterampilan literasi, dan emosi sosial anak-anak muda Indonesia. Kami percaya jika individu punya keterampilan itu, mereka jadi lebih mudah menyelesaikan masalah sosial.

Literasi sendiri pada dasarnya kegiatan membaca dan menulis. Melalui ini, orang-orang bisa memperoleh keterampilan untuk berpikir kritis dan berempati.

(Foto. Dok Pribadi)

Orang juga jadi cenderung tidak reaktif, lebih bijak menanggapi masalah, dan memilih pilihan hidup yang lebih toleran serta menghargai perbedaan.

Tahun kedua kuliah, proses meningkatkan kemampuan dan keterampilan bertambah setelah mendapat pembekalan dari Djarum Beasiswa Plus. Bekal ini berguna juga untuk saya mengembangkan Bastra ID.

Cemas pada intoleransi

Selain soal perundungan atau bullying, salah satu alasan saya mendirikan Bastra ID juga karena khawatir soal intoleransi di Indonesia.

Saya tumbuh di Cilegon, kota yang punya masalah cukup serius dalam hal keberagaman. Data dari Setara Institute soal Indeks Kota Toleran (IKT) pada 2024 memasukkan Cilegon dalam daftar 10 kota paling intoleran. Kota tersebut memasuki posisi kedua setelah Parepare dengan skor 3,994.

Beberapa sikap intoleran di Cilegon mencakup penolakan rumah ibadah dan sikap saling curiga antar kelompok. Suatu kali, saya pernah secara random bertanya ke salah satu warga di sana saat membeli minuman segar dan camilan.

“Kenapa sih Bu, waktu itu gereja dilarang dibangun?” tanya saya ketika itu.

“Ya, buat apa Mas? Gereja itu berisik. Gereja itu justru bikin iman kita runtuh,” begitu kira-kira jawabannya yang saya ingat.

Secara bersamaan, saya melihat lokasi pembangunan gereja cukup jauh dari permukiman atau penduduk desa. Jalanan di sana justru lebih bising imbas laju kendaraan berat mengingat Cilegon adalah kota industri. Suara-suara truk, dalam pandangan saya, tentu lebih bising daripada nyanyian di gereja.

Doktrin-doktrin yang menganggap ritual agama lain bertentangan justru membuat kita jadi tak terlihat religius, bahkan bisa saya bilang tak islami. Agama Islam mengajarkan perdamaian dan toleransi.

Situasi semacam ini pula yang melatarbelakangi permainan Kartu Berembug sebagai bagian program Bastra ID.

Kartu Berembug adalah sejenis permainan yang dirancang agar pelajar Indonesia terutama di wilayah konflik bisa berdiskusi soal isu sensitif secara aman dan kritis. Mereka juga bisa lebih santai merespons perbedaan bahkan ikut merayakannya.

(Foto. Dok Pribadi)

Dalam permainan Kartu Berembug ada empat topik yang dibahas, yaitu toleransi agama dan budaya, keadilan gender, semangat anti perundungan, hingga inklusivitas penyandang disabilitas.

Saya dan Bastra ID terus mengenalkan Kartu Berembug di berbagai wilayah terutama Cilegon. Namun, perjalanan menyebarluaskan nilai-nilai ini tak selalu mulus.

Dalam prosesnya, kami pernah ditolak karena dianggap upaya kristenisasi. Namun, saya dan tim tak patah arang. Kami terus mencoba hingga diterima.

Hingga saat ini, tercatat sekitar 1.000 penerima manfaat dari program Kartu Berembug. saya terharu sekaligus bangga sekaligus bersyukur.

Kartu Berembug jadi medium penting mengenalkan perbedaan dengan cara yang tenang dan nyaman, di wilayah yang punya riwayat konflik di masa lalu dan masih sensitif terhadap perbedaan.

Untuk mendapat pengetahuan yang lebih komprehensif soal perdamaian, saya mendaftar program magister Peace and Conflict Studies and International Relations di The University of Queensland, Australia.

Saya ingin terus menggerakkan program-program semacam itu karena masalah intoleransi tak cuma muncul di Cilegon, tapi berbagai wilayah di Indonesia.

Saya juga pernah menyuarakan betapa penting toleransi dan perdamaian di forum internasional. Waktu itu, saya jadi satu-satunya wakil Indonesia dalam program peacebuilding ASEAN.

Compassion over conflict, action over indifference, and dialogue over silence,” ini salah satu cuplikan pidato saya di forum itu.

Selama di Australia, saya juga masih aktif menyuarakan perdamaian, toleransi, dan pendidikan di media sosial. Program terbaru yang saya bangun adalah Gerakan 100, yaitu donasi Rp100 ribu per orang untuk Suku Anak Dalam di Jambi.

(Foto. Dok Pribadi)

Lewat program ini kami mengajak 100 orang gotong-royong patungan Rp100 ribu per orang untuk membeli 100 paket belajar yang kemudian diberikan kepada Suku Anak Dalam.

Gerakan itu bermula ketika ada salah satu pengajar Suku Anak Dalam yang nge-tag saya di Instagram dan bercerita soal pengalaman mengajar.

“Tiap ngajar masuk hutan. Dan di hutan, anak-anak enggak punya akses terhadap bacaan, akses terhadap alat-alat pendidikan yang proper,” demikian kurang lebih kata pengajar itu.

Saya lalu membuka donasi agar semangat kolektif dan gotong royongnya lebih terasa. Dalam kurun waktu empat hari, donasi terkumpul hingga Rp14 juta lebih.

Uang itu, kemudian digunakan untuk mengirim paket pendidikan berisi buku, alat tulis, dan alat permainan non-modern.

Saya berharap gerakan ini bisa meluas dan bisa menjangkau anak-anak pedalaman yang tak cukup terpapar buku serta alat-alat pendidikan.

Harapan juga saya tujukan untuk pemerintah Indonesia. saya berharap mereka menciptakan kebijakan yang lebih inklusif, berpihak ke rakyat, berpihak ke kemanusiaan, yang tak cuma untuk kepentingan golongan.

Termasuk kebijakan soal pembangunan rumah ibadah. Membangun rumah ibadah seharusnya jadi hak warga negara, bukan sesuatu yang diperjuangkan mati-matian. Pemerintah juga harus memastikan tempat aman masyarakat adat tanpa mengusir mereka.

Dari latar belakang yang beragam, para Generasi Plus ini memiliki kesamaan. Mereka mampu membaca peluang di tengah keterbatasan dan meramunya dengan kerja keras sehingga mampu mencapai tujuannya.
Ke depan, tantangan yang menanti akan semakin kompleks. Perubahan yang cepat dan penuh ketidakpastian, serta kompetisi global membuat generasi muda dituntut untuk agile dan adaptif.
Nilai akademik di atas kertas pun tak cukup jadi bekal. Penguatan soft skills, kepekaan sosial, serta berjiwa pemimpin menjadi modal yang harus dimiliki agar tetap relevan dan berdaya saing.
Lebih dari itu, integritas dan mental juang turut menentukan arah mereka agar mampu bertahan, berkembang, serta memberi dampak nyata bagi sekitar.
Untuk dapat mengenal lebih dekat program dan perjalanan Generasi Plus,
klik tautan ini .