Publik pun mungkin bertanya-tanya, mengapa pada saat sidang MKD berlangsung dan hampir menghasilkan sebuah keputusan akhir terkait kasus pelanggaran kode etik “Papa Minta Saham”, Setya Novanto dengan tiba-tiba melayangkan surat pengunduran dirinya pada Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD)?
Surat pengunduran diri Setya Novanto dibacakan dalam sidang MKD setelah pembacaan pandangan Ketua MKD Surahman Hidayat dan Kahar Muzakir. Novanto mengaku mundur dengan alasan untuk menjaga harkat dan martabat dewan serta demi menjaga ketenangan masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tim kuasa hukumnya pun berkata Setya Novanto mundur bukan karena dia merasa bersalah tetapi hanya lebih pada “power of public opinion”. Langkah MKD menghentikan persidangan justru menjadi janggal karena kasus yang sedang dikaji bukan semata-mata hanya karena untuk melengserkan Setya Novanto tetapi membuktikan apakah Setya Novanto terbukti melakukan pelanggaran kode etik atau tidak.
Dengan dihentikannya sidang MKD justru membuat Setya Novanto merasa dirinya masih bersih dari kasus itu. Memang kasus ini belum selesai secara menyeluruh tapi kinerja MKD pun patut dipertanyakan.
Apakah ini juga bagian dari cara melindungi Novanto setelah sebelumnya MKD juga membuat keputusan yang kontroversial dengan memutuskan sidang Novanto dilakukan secara tertutup? Yang jelas dalam hal ini khususnya para penegak hukum harus menyelesaikan masalah ini dengan menunjukkan integritasnya sebagai aparatur negara yang baik dan tidak termakan lobby-lobby politik yang licik.
Karena kita sangat rindu pemimpin yang benar-benar merupakan figur yang menjalankan tugasnya dengan baik dan dapat dipercaya serta berpengaruh bagi masyarakat untuk mau turun tangan dalam rangka memajukan negeri ini.