“Kami minta Mahkamah menguji pasal 201 ayat 1 UU Nomor 42 tahun 2008, soal permohonan sengketa Pilpres yang hanya boleh diajukan oleh pasangan calon,” kata Eggi Sudjana dalam persidangan yang digelar di ruang pleno Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Jumat (5/9).
Pihaknya juga meminta kepada majelis hakim untuk menguji ayat dua pada pasal yang sama, ihwal obyek sengketa. A2MP meminta kepada MK agar yang bisa disidangkan tidak hanya perselisihan yang mempengaruhi perolehan hasil suara pada Pilpres, tetapi juga soal penyelenggaraan pemilu itu sendiri. Uji materi kedua ayat tersebut dihadapkan dengan pasal 1 ayat 2 UUD 1945 ihwal kedaulatan di tangan rakyat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aswanto juga menambahkan bahwa norma serupa dalam UU MK dan UU Pemilihan Legislatif juga pernah diuji oleh MK sebelumnya. “Mungkin ini perlu Saudara dalami sehingga Saudara memahami bagaimana pandangan MK,” ucap lulusan Institute of Groningen State University tersebut.
Lebih jauh, Arief menuturkan pertentangan tersebut dapat diuraikan melalui dengan beragam contoh empiris, sosiologis, dan yuridis. “Bisa juga didasarkan teori akademik,” ujarnya.
Seusai majelis hakim memberikan nasihat perbaikan permohonan, hakim ketua Aswanto menutup persidangan dan memberikan waktu 14 hari kepada A2MP untuk merevisi berkas agar dapat disidangkan dalam pleno selanjutnya.