“Saya bertemu dengan Abu Tholut tiga hari lalu, dia menceritakan bahwa ISIS masih ada di Aceh. Hanya sedikit, tetapi itu dibuat oleh kelompok intelijen. Tidak murni oleh kelompok ISIS,” ujar Chaidar saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (8/9).
Menurut Chaidar, ISIS yang anggotanya merupakan kelompok intelijen tersebut dibangun dengan misi yang ditujukan untuk berlawanan dengan kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM). “Kelihatannya yang membuat ingin memojokkan GAM. ISIS di sana berlawanan dengan GAM, karena ISIS di sana adalah buatan pemerintah,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melalui pernyataan Abu Tholut dan Abu Jundullah tersebut, Chaidar juga menegaskan, kelompok Daulah Khalifah Islamiyah yang ada di Aceh saat ini, sangatlah berbeda dengan anggota pelatihan militer Jalin, Janthoe.
Perkembangan ISIS di Indonesia memang sempat terpantau di beberapa titik. Namun selama ini, persebarannya masih terpusat di Jawa. Kepala Bada Nasional Penanggulangan Teror menyanggah ihwal adanya dugaan ISIS yang disponsori kelompok intelijen. Menurutnya, semua tentang ISIS di Indonesia kini memang masih gelap. Sebab kelompok berhaluan keras itu, belum berani menampakan mukanya secara terang. "Semua masih meraba," kata Ansyaad melalui pesan singkat.