Lutfi Yondri, peneliti utama prasejarah pada Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Bandung, mengatakan Tim Riset Terpadu Mandiri (TRTM) sudah mulai meneruskan penggalian semenjak awal Agustus. Mereka juga ditemani oleh 65 personel dari Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD), yang ikut mencangkul dan memindahkan batuan di lokasi situs.
"Mereka melakukan kegiatan bor itu malam hari," ujarnya saat dihubungi oleh CNNIndonesia, Senin (15/09).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Semua penggalian itu kesannya terburu-buru. Apa, sih, sebenarnya yang dicari? Emas yang katanya 3 ton itu?" katanya.
Lutfi mengatakan tidak mungkin piramida terdapat dalam lahan situs seluas 29 hektare tersebut. Alasannya, kebudayaan Indonesia tidak pernah mengenal adanya bentuk piramida. Pernyataan dari TRTM mengenai piramida yang disimpan kembali ke dalam perut bumi untuk melindungi dari ancaman budaya lain itu tidak masuk akal sama sekali.
Kalau memang ada bangunan di dalam tanah semestinya bisa ditemukan juga benda-benda pecahan buatan manusia seperti gerabah di sekitar areal yang diklaim ada piramida, menurutnya.
"Membuat piramida membutuhkan tenaga banyak orang. Kalau tidak ada bukti adanya tanda-tanda aktivitas manusia, gimana bisa ada piramida?" ujarnya.
Sementara itu, Ali Akbar mengatakan metode penelitian dan penggalian yang dilakukan timnya sudah diapresiasi dan diakui oleh pemerintah. Buktinya, TRTM dilibatkan ke dalam tim nasional bentukan pemerintah.
"Semua kegiatan ekskavasi yang kami lakukan sudah sesuai dengan kaidah keilmuan dan ketentuan yang berlaku. Kalau tidak, pasti kami sudah dihentikan sekarang ini," dia menegaskan.
Ali menjelaskan timnya menggunakan strategi penelitian yang sifatnya horisontal, yakni membuka per kotak ke samping. Pasalnya, situs di Gunung Padang, seperti diakuinya, mudah ketauan jika terdapat benda di dalam lapisan tanahnya.
"Tinggal membuka semak saja," dia menutup pembicaraan.