Keputusan tersebut menjadi pertentangan atas apa yang menjadi harapan besar dari Komisi Pemberantas Korupsi (KPK). Siang, sebelum vonis Anas diumumkan, wakil Ketua KPK Adnan Pandu Pradja meminta majelis hakim pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) harus berani mengambil keputusan untuk mencabut hak politik terdakwa korupsi. "Itu harus dilakukan biar ada efek jera," ujar Adnan kepada CNN Indonesia.
KPK menganggap hakim perlu menjatuhan vonis maksimal untuk Anas karena semua dakwaan JPU sudah terpenuhi unsur-unsur deliknya dan terbukti berdasarkan fakta persidangan. "Jika majelis hakim mempertimbangkan itu semua, tentunya vonis maksimal layak dijatuhkan," kata Wakil Ketua KPK, Bambang Widjajanto.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
KPK sebagai lembaga penegak hukum, menurut Bambang, mendukung penuh tuntutan tersebut. Hukuman pencabutan politik, disebutnya, diperbolehkan dalam KUHP dan UU Tipikor. "Lagipula hukuman tambahan dalam KUHP dan UU Tipikor membolehkan dilakukan pencabutan hak memilih dan dipilih," katanya.
Dia mengatakan, sepanjang kariernya sebagai pengacara, tidak pernah ada istilah pencabutan hak politik terkait kasus pidana. "Apalagi jika kita melihat semua fakta persidangan, Anas jelas terbukti tidak bersalah," ujarnya.