Dari total 10 aspek penilaian, Ical berada di urutan terakhir dalam daftar nama ketua yang direkomendasikan. Nama Ical anjlok di enam aspek yang dianggap krusial, yaitu integritas dan rekam jejak, kompetensi dan kapabilitas, visi dan gagasan, akseptabilitas publik, pengalaman dan prestasi memimpin, dan kemampuan memimpin pemerintahan dan negara.
Menjelaskan mengenai hasil riset ini, peneliti Poltracking Institute, Arya Budi, mengaku heran Ical terpuruk dalam aspek komunikasi publik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara di empat aspek lain, Ical berada di posisi tengah. Aspek tersebut adalah komunikasi elite, komunikasi publik, kemampuan memimpin organisasi partai, dan kemampuan memimpin koalisi partai.
"Naik turunnya Golkar di bursa kepemimpinan itu membuatnya jadi seperti ini. Tahun ini Golkar gagal memajukan capres di bawah kepemimpinan Ical. Golkar hampir tidak punya figur yang dicalonkan dan menang," katanya.
Penelitian ini menggunakan metode uji kelayakan figur melalui tingkatan penyaringan, yaitu meta-analisis, focus group discussion, hingga penilaian masing-masing figur terseleksi oleh 173 para pakar dan tokoh penggiring opini publik. Proses ini dilaksanakan pada 3-11 November lalu di Jakarta dan beberapa kota lain.
Setelah menjalani proses pemungutan suara, nama Priyo Budi Santoso diusung sebagai tokoh paling direkomendasikan sebagai Ketua Umum Partai Golkar.
Riset ini merupakan hasil bedah pertama dari rangkaian penelitian yang akan dilakukan oleh Poltracking. Nantinya, Poltracking akan kembali meluncurkan hasil riset dari partai politik lain.