"Kami bersama KPK sepakat bekerja sama untuk mendorong penerimaan agar lebih tinggi dengan perbaikan dalam kepatuhan. Anggaran belanja juga akan diawasi supaya tidak terjadi penggelembungan atau penyalahggunaan," kata Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro usai bertemu pimpinan KPK, Kamis siang.
Bambang mengatakan, upaya melibatkan KPK untuk mengawasi aliran anggaran negara sangat penting mengingat besaran nilai APBN mencapai ribuan triliun. Selain itu, upaya pencegahan korupsi nantinya tidak hanya diterapkan di kementerian yang dibawahinya, namun juga akan berdampak pada kementerian/ lembaga lain karena APBN melibatkan banyak pihak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bentuk konkret dari kerja sama tersebut, lanjut Bambang, adalah dengan cara mempelajari dan menelusuri berbagai celah yang diperkirakan bisa menjadi sumber kebocoran, baik untuk penerimaan maupun anggaran yang akan dibelanjakan. Dengan demikian, pengawasan APBN kini akan semakin diperketat.
Jumlah itu terdiri dari anggaran untuk program kemiskinan sebesar Rp 134,5 triliun; anggaran pendidikan total Rp 368,9 triliun atau 20 persen dari APBN; anggaran kesehatan Rp 70,5 triliun; anggaran ketahanan pangan Rp 72,4 triliun; infrastruktur Rp 206,6 triliun; anggaran investasi Rp 398 triliun; dan anggaran tanggap climate change sebesar Rp 50 triliun.