"Penyebabnya adalah ketidakadilan ekonomi dan sosial-politik," ujarnya pada acara penandatangan nota kesepahaman antara Tentara NasionaI Indonesia (TNI) dan Palang Merah Indonesia (PMI), di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta, Kamis (11/12). Nota kesepahaman itu dilakukan untuk meningkatkan kerjasama TNI dengan PMI dalam penanggulangan bencana, pelayanan donor darah, kesehatan dan tugas kemanusiaan lainnya.
Kalla kemudian mencontohkan daerah Timur Tengah. Masyarakat di kawasan itu, katanya, mudah diprovokasi untuk melakukan tindakan pemberontakan ekstrim. "Ideologi seperti ini masuk karena kemiskinan tumbuh subur di sana," kata dia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hal utama penyebabnya adalah ketidakadilan ekonomi, " kata lelaki yang pernah mendapatkan penghargaan Tokoh Perdamaian Dunia dari World Youth Forum on Peace And Harmony ini.
Namun, setelah dikurangi biaya modal, pendapatan yang diterima petani tidak banyak hanya sekitar Rp 800 ribu per bulan. "Mereka pasti miskin," katanya menjelaskan.
Untuk menanggulangi persoalan ini, Kalla mengatakan satu-satunya jalan keluar hanyalah dengan meningkatkan produktivitas petani. "Hanya itu cara kemajuan desa. Tapi dengan catatan, infrastrukur juga harus dibangun," ujarnya.
Lebih jauh lagi, Kalla menggarisbawahi peran serta TNI dalam mencegah munculnya radikalisme. Ia mengatakan tugas TNI tidak melulu berperang melainkan turut serta menjadi aktor pembangunan. "Cara bertahan yang terbaik adalah dengan membangun," ucap Kalla.