Indikasi tersebut terungkap berdasarkan diskusi Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia (Puskapol UI) mengenai kajian Indeks Demokrasi Asia: Kasus Indonesia 2014, pada Jumat lalu di Gedung Pascasarjana Universitas Indonesia.
"Parlemen dikuasai oleh kelompok menengah ke atas dan orang berpendidikan tinggi," ujar Kepala Puskapol UI Sri Budi Eko Wardani ketika dikonfirmasi, Jumat.
Berdasarkan temuan tersebut, Puskapol mencatat skor Indeks Demokrasi Indonesia pada 2014 berada pada angka 5,42. Angka tersebut masih stagnan dan tidak memiliki perubahan signifikan dari temuan tahun sebelumnya, yakni 4,97.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sri mengatakan kondisi tersebut terjadi lantaran partai tidak memiliki kebijakan afirmasi untuk merekrut kelompok marjinal menjadi kader. Kesempatan untuk duduk di kursi parlemen, katanya, juga minim.
Parlemen dikuasai oleh kelompok menengah ke atas dan orang berpendidikan tinggiSri Budi Eko Wardani, Kepala Puskapol UI |
Sementara itu, mereka yang tak tergabung dalam partai politik namun berpartisipasi melalui kelompok informal tak punya banyak ruang dalam proses politik formal seperti pembuatan kebijakan.
"Misalnya partisipasi ormas atau komunitas memengaruhi kebijakan di kelurahan, kabupaten/kota, dan daerah itu masih sangat rendah," ujar dia.
Dalam kesempatan yang sama, peneliti Puskapol lainnya menilai demokrasi di Indonesia belum tercapai dalam kesetaraan berpolitik. Hal itu mendorong minimnya partisipasi kelompok marjinal karena dominasi elit politik oleh segelintir orang.
"Harus dilihat struktur sebelumnya, yakni struktur kediktaktoran. Proses demokrasi yang lambat dipahami karena struktur lama ini belum benar-benar runtuh," kata dia.