Kala itu, denyut kehidupan rakyat Aceh seolah terhenti. Sebab 139.195 rumah, lalu 1.089 sarana ibadah, juga 3.415 sekolah rusak parah. Jalan sepanjang 2.618 kilometer dan delapan bandar udara remuk. Alhasil bencana juga meruntuhkan sebanyak 104.500 usaha kecil dan menengah. Nestapa lantaran tsunami kala itu diduga merugikan rakyat Aceh hingga US$ 4.5 miliar.
Namun, itu potret satu dekade lalu. Sebab wajah Aceh kini telah bersalin baru.
Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Jumat, (19/12). (CNN Indonesia/Safir Makki) |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ratusan ribu rumah dibangun melebihi jumlah yang remuk saat amuk. Di atas lanskap Aceh, semua bisa melihat kreasi para pengulur tangan yang dari berbagai negara. Sebab ada jalan aspal licin buatan Amerika. Ada pula klinik dan rumah sakit yang dibangun Swiss dan Rusia. Tak lupa juga bantuan perumahan made in Tiongkok.
Proses rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh diakui sebagai metode pembangunan kembali pascabencana alam tersukses di dunia. Ukurannya adalah serapan dana donasi yang tersalurkan.
Menurut Bos Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh dan Nias, Kuntoro Mangkusubroto, hampir 93 persen pledge money alias uang janji tersalurkan. Persentase itu, katanya, merupakan sebuah bukti kepercayaan dunia melalui para donornya kepada Indonesia. “Itu merupakan sanjungan berupa kepercayaan,” katanya saat menerima CNN Indonesia dalam wawancara khusus pekan lalu.
Meski masih belum sempurna, bangkitnya Aceh merupakan kisah sebuah ketegaran, keteguhan manusia yang sempat diguncang bencana. Dari mereka muncul jutaan cerita keteladanan. Soal keberanian untuk melanjutkan hidup dan mengisinya dengan kerja yang berguna.
Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Jumat, (19/12). (CNN Indonesia/Safir Makki)