Pesawat itu membawa tujuh personel dan terbang dari kapal RSS Persistence milik Singapura yang saat ini juga sedang berada di lokasi pencarian QZ8501.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
AUV merupakan alat pendeteksi sonar yang bisa digerakkan otomatis dari kapal. Daya jelajahnya bisa menjangkau kedalaman 100 meter dengan lebar sapuan 100 meter. “Alat itu bisa berfungsi untuk mendeteksi sinyal lemah di dalam laut. Tujuan kami mencari sinyal ELT,” ujar Sunarbowo.
Menurut Sunarbowo, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) juga memiliki alat yang sama dengan Singapura. “Sudah difungsikan sejak kemarin, namun tidak secanggih milik Singapura,” kata dia.
Alat tersebut ada di kapal Baruna Jaya milik BPPT yang kini juga sudah berada di lokasi pencarian. Selain itu, Indonesia menggunakan dua kapal TNI AL yang memiliki alat penyapu ranjau untuk mendeteksi logam. Seluruhnya akan dioptimalkan untuk mencari bagian-bagian pesawat QZ8501 di kedalaman laut.
“Perancis juga nanti akan bergabung dengan KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi). Mereka membawa alat yang sama,” ujar Sunarbowo.
Sejauh ini alat pendeteksi sonar yang dimiliki Indonesia belum berhasil menemukan titik lokasi badan pesawat QZ8501. Oleh sebab itu pencarian badan pesawat kini mengandalkan alat dari Singapura itu. (agk)