Di kampung nelayan Dusun Kubu, Kecamatan Kumai, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, tak sedikit perahu kayu yang bersandar di bibir pantai. Para nelayan memilih berhenti melaut dari pada mengambil risiko.
Rahmat (44), nelayan yang mengaku telah melaut selama lebih dari 10 tahun, enggan bermain-main dengan alam. Pria yang sempat mendengar debuman keras saat pesawat AirAsia QZ8501 jatuh itu memilih pulang ketimbang berlayar.
"Sampai hari ini ombak masih liar. Kami nelayan di sini memilih untuk tidak ke tengah laut," ujar Rahmat saat ditemui di Dusun Kubu, Ahad (4/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara Sudarso (33), yang juga menjadi saksi pesawat AirAsia ditelan kabut, memilih untuk tidak berlayar dan memanfaatkan hasil ikan yang ada.
Adapun Efendi (56) memanfaatkan cuaca buruk di lautan dengan memilih berternak ayam. Dia mengaku memang jarang melaut selama ini. "Kalau butuh ikan saja saya berlayar," kata Efendi.
Mayoritas masyarakat di Dusun Kubu berprofesi sebagai nelayan. Tangkapan ikan yang mereka dapat cukup beragam. Ikan tongkol dan ikan asin merupakan tangkapan paling banyak.
Selain untuk konsumsi sehari-hari, ikan-ikan hasil tangkapan juga dijual ke pasar maupun kepada penyalur yang sudah langganan datang ke Dusun Kubu.
Meski tidak berlayar ke tengah laut, para nelayan yang ada di Kotawaringin Barat punya andil dalam pencarian korban dan serpihan pesawat AirASia. Bupati Ujang Iskandar mengaku telah mengintruksikan camat dan lurah-lurah agar nelayan diikutsertakan dalam pencarian di bibir pantai.
"Di Kumai ada 11 desa yang kami instruksikan agar turut memantau puing atau jenazah yang terseret ke bibir pantai," kata Ujang, Ahad (4/1). (rdk/sip)